<rss version="2.0" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:trackback="http://madskills.com/public/xml/rss/module/trackback/">
    <channel>
        <title>BBTNBBS</title> 
        <link>https://programs.wcs.org/btnbbs</link> 
        <description>RSS feeds for BBTNBBS</description> 
        <ttl>60</ttl> <item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14927/Peringatan-Puncak-Hari-Konservasi-Alam-Nasional-2020-Akan-Diselenggarakan-di-Bontang-Mangrove-Park-Taman-Nasional-Kutai.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14927</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14927&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Peringatan Puncak Hari Konservasi Alam Nasional 2020 Akan Diselenggarakan di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14927/Peringatan-Puncak-Hari-Konservasi-Alam-Nasional-2020-Akan-Diselenggarakan-di-Bontang-Mangrove-Park-Taman-Nasional-Kutai.aspx</link> 
    <description>Menjelang hitungan hari, peringatan puncak Hari Konservasi Alam Nasional akan digelar, tepatnya pada tanggal 15 &amp;ndash; 16 September 2020. Peringatan yang akan di hadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini dan dari Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dihadiri oleh plt Kepala Balai Besar TNBBS, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan dan staf, Subbag Data Evaluasi dan Kehumasan, serta pemenang penghargaan Anugerah Konservasi Alam HKAN 2020 dari Kelompok Pemanfaat Air Sepunti Balak TNBBS, akan diselenggarakan di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai, Bontang, Kalimantan Timur. Berbagai kegiatan telah mewarnai peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2020 seperti yang diikuti oleh Balai Besar TNBBS: 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lomba Foto dan Video Virtual Petualangan Alam IndonesiaVirtual dan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berperan sebagai peserta lomba.  2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Webinar Virtual Tour Taman Nasional Bukit Barisan Selatan 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lomba Global Tiger Day 2020 dalam rangka memperingati hari Harimau Sedunia 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional tanggal 17 Agustus 2020 yang diselenggarakan melalui aksi bersih kawasan konservasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Hari Konservasi Alam Nasional, Hari Konservasi Alam Nasional ditetapkan pada tanggal 10 Agustus. Peringatan ini diselenggarakan setiap tahun untuk mengingatkan masyarakat umum bahwa konservasi alam merupakan bagian integral dari pembangunan yang berkelanjutan yang harus terus dilaksanakan dan dipertahankan dalam setiap kegiatan dalam upaya perlindungan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai sistem penyangga kehidupan. Peringatan HKAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyarakat. Selain itu juga untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat agar berperan aktif dalam menyelamatkan alam.  Tema peringatan HKAN pada tahun 2020 yaitu &quot;Nagara Rimba Nusa: Merawat Peradaban Menjaga Alam&quot;. Tema ini menekankan pada semangat berperadaban maju yang harmoni dengan alam di era milenial dan menjadi catatan sejarah dalam pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru Indonesia. Meskipun demikian, semangat konservasi alam tentunya diharapkan dapat tertanam di semua generasi mengingat tidak ada generasi manapun yang tidak bergantung pada alam.Tema &quot;Nagara Rimba Nusa: Merawat Peradaban Menjaga Alam&quot; menggambarkan bahwa semangat konservasi alam di era peradaban maju menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk generasi masa kini ketika kemajuan teknologi, pola hidup, berpikir terbuka, terbatasnya waktu, dan tuntutan kualitas hidup semakin meningkat dan menjadi suatu kebanggaan dan kebutuhan untuk melaksanakannya. Pada akhir tahun 2019, ujian terhadap peradaban manusia memasuki babak baru dengan munculnya episentrum wabah virus corona di Wuhan yang dikenal dengan Covid-19. Seiring dengan kemampuan penyebarannya hingga melanda seluruh dunia, World Health Organization (WHO) kemudian menyatakannya sebagai global pandemic pada tanggal 11 Maret 2020. Sejalan dengan penetapan status global ini, seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, terus berupaya menanggulangi wabah Covid-19. Bahkan, pemerintah Indonesia telah mengkonsentrasikan sumber daya negara untuk menahan laju infeksi Covid-19 dan kematian manusia yang diakibatkannya sampai dengan ditemukannya vaksin. Pada akhirnya, kejadian pandemi ini telah membawa peradaban manusia ke dalam sebuah dimensi baru kehidupan yang mengharuskan cara hidup baru yang dikenal dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), agar dapat beradaptasi dan bertahan dalam situasi pandemi yang belum berakhir. Pandemi Covid-19 ini tidak hanya mengakibatkan krisis di bidang kesehatan saja, namun juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, terutama di bidang ekonomi, termasuk sektor pariwisata alam. Upaya reaktivasi kawasan konservasi pada bulan Juli 2020 yang bersamaan dengan skenario masa transisi dan pemulihan yaitu Juli hingga Desember, jumlah pengunjung ke kawasan konservasi (suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam) diprediksi hanya akan mencapai 50% dibandingkan dengan tahun 2019, kecuali pada bulan Juli yang diasumsikan sama dengan Maret 2019 atau lebih landai (Direktorat PJLHK,2020).  Berdasarkan data dan proyeksi Direktorat PJLHK (2020), nilai ekonomi sektor pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam yang hilang akibat pandemi Covid-19 selama tahun 2020 adalah Rp1,5 trilyun hingga Rp1,9 trilyun.Oleh karena itu, reaktivasi kawasan konservasi untuk mendukung kegiatan pariwisata alam mengusung konsep &amp;ldquo;Forest for Healing&amp;rdquo; yang berakar kuat dari sikap hidup dan budaya living with nature yang tidak mengedepankan jumlah pengunjung (mass tourism), namun justru quality tourism yang mengedepankan inovasi untuk menambah durasi kunjungan dan kemanfaatannya dari aspek kemanusiaan dan kelestarian alam. Seiring dengan optmisme yang sedang dibangun, living with nature merupakan salah satu cara pemulihan yang potensial dilakukan. Kawasan konservasi dengan pariwisata alamnya menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia untuk dapat pulih pasca Covid-19 dalam tatanan baru (new normal). Matthew Silverstone (dalam buku Blinded bu Science pada 2014) menyebutkan bahwa berwisata dengan mengaktifkan interaksi panca indera dengan elemen alam, terbukti mampu meningkatkan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan spiritual, memberikan energi dan ketenangan. Pemulihan mental dan fisik individu dan masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan forest forhealing di kawasan konservasi. Dengan demikian, pentingnya memulihkan kehidupan dan peradaban manusia yang harmoni dengan alam dalam rangka menyongsong era baru (new normal) pasca pandemi Covid-19 ini akan menjadi semangat dalam peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2020. Hal ini tentu sejalan dengan HKAN sebagai momentum keteladanan dan aksi nyata memasyarakatkan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia.  Semangat HKAN ini diawali 30 tahun yang lalu dengan lahirnya UNdang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dengan mengusung tema &quot;Nagara Rimba Nusa: Merawat peradaban Menjaga Alam&quot;, maka penyelenggaraan HKAN tahun 2020 di Taman Nasional Kutai, Provinsi Kalimantan Timur ini diharapkan dapat menjadi titik awal kebangkitan bangsa Indonesia yang harmoni dengan alam pasca pandemi global Covid-19. Hal ini juga untuk mendukung Provinsi Kalimantan Timur sebagai calon Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru pada lahan seluas +256.142 ha (berada di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara) yang mengusung tema Nagara Rimba Nusa yang diterjemahkan dalam konsep Forest City dalam konteks living with nature dalam rancangan pembangunannya. Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020!</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 14 Sep 2020 01:16:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14927</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14577/SEDEKAH-ALAM-SATWA-DILEPAS-LIARKAN.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14577</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14577&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>SEDEKAH ALAM, SATWA DILEPAS LIARKAN</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14577/SEDEKAH-ALAM-SATWA-DILEPAS-LIARKAN.aspx</link> 
    <description>Sukaraja, 4 Juli 2020. Pada Hari Sabtu 4 Juli 2020, Balai Besar Taman Nasional Bukit barisan Selatan bersama dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Balai KSDA Bengkulu, didampingi Jaringan Satwa Indonesia Jakarta Animal Aid Network (JSI-JAAN),&amp;nbsp; kembali melakukan sedekah alam dengan melakukan pelepasliaran satwa-satwa liar yang dilindungi maupun tidak dilindungi. Kegiatan pelepas liaran satwa diawali dengan dilakukannya serah terima satwa yang akan dilepas liarkan, dari Balai KSDA Bengkulu pada Balai Besar TNBBS disaksikan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE Indra Exploitasia.Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mendapatkan kehormatan terpilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan Pelepas Liaran Satwa. Lokasi pelepasliaran didalam kawasan TNBBS tepatnya di Patok 50 Resort Sukaraja SPTN I Sukaraja dan Resort Pemerihan SPTN II Bangkunat.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Plt Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Ismanto, S.Hut.,M.P. menjelaskan bahwa kondisi kawasan Hutan Taman Nasional masih sangat mendukung untuk pelepasliaran, mengingat ketersediaan pakan dan kondisi vegetasi yang cukup baik. &amp;ldquo;Kami berharap satwa-satwa yang dilepas dapat berperan dalam pengkayaan ekosistem hutan, dengan menjadikannya agen penyebar biji-bijian dan membantu penyerbukan, pengendali populasi serangga yang berpotensi menjadi hama bagi lahan pertanian dan perkebunan masyarakat sekitar kawasan hutan&amp;rdquo;, ujar Ismanto.Satwa liar yang dilepasliarkan di kawasan TNBBS terdiri dari 2 ekor (sepasang) Siamang (Symphalangus syndactius); 2 ekor (sepasang) Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus); 60 ekor (28 ekor jantan dan 32 ekor betina) Kukang Sumatera (Nycticebus coucang). Keseluruhan Satwa liar berasal dari hasil sitaan penegakan hukum dan penyerahan dari masyarakat akibat konflik Balai KSDA Bengkulu.Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Ditjen KSDAE, Indra Exploitasia, menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu rangkaian proses pelaksanaan pelepasliaran ini. &amp;ldquo;Pelepasliaran satwa dari PPS (eksitu) ke habitat alaminya (insitu) merupakan wujud komitmen kita dalam pengelolaan satwa dari eksitu link to insitu, sekaligus merupakan upaya kita untuk membantu terciptanya keseimbangan ekosistem yang pada akhirnya akan mewujudkan suatu kondisi lingkungan hidup yang sehat demi kita semua&amp;rdquo;, ucap Direktur KKH.&amp;nbsp; Selanjutnya, Indra Exploitasia juga menyampaikan bahwa upaya-upaya pelepasliaran satwa, khususnya yang masih terdapat di beberapa Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) akan terus dilaksanakan secara intensif. Hal ini penting dilakukan untuk mengurangi beban operasional PPS dan memberikan kesejahteraan bagi satwa, karena hakikatnya rumah terbaik bagi satwa liar adalah di habitat alaminya.Kepala Balai KSDA Bengkulu Donal Hutasoit yang ikut menghadiri kegiatan pelepas liaran, menyampaikan bahwa kegiatan pelepasliaran satwa merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawabnya untuk melestarikan dan mensejahterakan satwa liar. Terhitung pada tahun 2019, Balai KSDA Bengkulu bersama pihak terkait telah melakukan pelepasliaran satwa liar hasil sitaan, penyerahan dan konflik dengan masyarakat sebanyak 17.531 ekor satwa dengan rincian jenis: 4 ekor Mamalia, 39 ekor Primata, 6 ekor Reptil dan 17.482 ekor Burung dilindungi maupun tidak dilindungi. &amp;ldquo;Mengingat tahapan pelepasliaran ini membutuhkan tenaga dan materi yang tidak sedikit, dihimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak membeli dan memelihara satwa lair. Karena prinsip ekonomi penawaran dan permintaan, memelihara satwa berarti sama dengan mendukung adanya perburuan dan perdagangan. Perburuan akan terus berlangsung selama masih adanya permintaan dan mendekatkan satwa menuju kepunahan&amp;rdquo;, ucap Donal Hutasoit.Tempat hidup bagi satwa yang paling ideal adalah habitat alaminya. Akan tetapi, karena sifat manusia yang egois, hanya mementingkan hasrat pribadi, kadang kala kita merasa bahwa kita telah memberikan yang terbaik bagi satwa peliharaan yang kita miliki, dengan hanya memandang apabila telah memberikan pakan yang cukup bahkan melimpah, dilengkapi dengan kandang yang indah dari sudut pandang si manusia itu sendiri, kita meng klaim bahwa satwa peliharaan kita &amp;ldquo;bahagia&amp;rdquo; dalam mengisi hari-harinya bersama kita. Padahal ini merupakan kekeliruan, terutama untuk hewan peliharaan yang diperoleh dari alam bebas.HUMAS BALAI BESAR TNBBS 2020.Photo by: Vivin A (Penyuluh BBTNBBS)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 04 Jul 2020 04:04:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14577</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14294/Rafflesia-di-Camp-Rhino-TNBBS-Mekar-Lagi.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14294</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14294&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Rafflesia di Camp Rhino TNBBS Mekar Lagi</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14294/Rafflesia-di-Camp-Rhino-TNBBS-Mekar-Lagi.aspx</link> 
    <description>Selama awal tahun 2020 hingga bulan Juni sebanyak tiga kali bunga Rafflesia arnoldii tercatat mekar sempurna di Rhino Camp -Sukaraja, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.Pada awal Juni ini, pengunjung dapat melihat keindahan bunga rafflesia tidak jauh dari jalan tembus Sanggi-Bengkunat atau sekitar 150 meter dari badan jalan.Meskipun sebelumnya terdapat 9 knop (bakal bunga/bonggol) yang tersebar di daerah wisata Rhino Camp, baru satu knop yang berhasil mekar sempurna di tanggal 4 Juni 2020 ini.Tidak berhasilnya knop bunga Rafflesia mekar biasanya disebabkan dimakan satwa liar atau pun akibat curah hujan yang tinggi menyebabkan knop yang berukuran tidak besar akan membusuk.Namun, keberadaan hujan juga dapat menyebabkan knop yang besar dan siap mekar akan lebih cepat membuat kelopak bunga mekar sempurna.Keindahan dan kekayaan hayati di TNBBS tidak terlepas dari ancaman kelestariannya.Sebagai salah satu potensi obyek daya tarik wisata di TNBBS, upaya yang telah dilakukan selama ini untuk menjaga kelestarian Raffllesia di TNBBS baru sebatas pemantauan/monitoring, pemetaan daerah sebaran dan upaya pencegahan knop dari ancaman predator melalui pemagaran knop-knop yang ada.Mengingat bunga ini tidak selalu mekar setiap saat dan sebagai salah satu bentuk upaya pelestarian jika memungkinkan perlu dilakukan &amp;ldquo;rekayasa&amp;rdquo; melalui penanaman tetrastigma di sekitar lokasi kawasan wisata TNBBS.[Tri Sugiharti dan Susan Saputri, PEH madya dan PEH pelaksana]&amp;nbsp;disadur dari : http://www.jejamo.com/rafflesia-di-camp-rhino-tnbbs-mekar-lagi.html</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 08 Jun 2020 01:09:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14294</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14260/Pantau-Pergerakan-Gajah-Sumatera-KLHK-Manfaatkan-Teknologi-GPS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14260</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14260&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Pantau Pergerakan Gajah Sumatera, KLHK Manfaatkan Teknologi GPS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14260/Pantau-Pergerakan-Gajah-Sumatera-KLHK-Manfaatkan-Teknologi-GPS.aspx</link> 
    <description>Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pemasangan GPS Collar pada Gajah Sumatera dalam rangka meminimalisasi terjadinya konflik dengan manusia.&amp;ldquo;Pemasangan GPS collar dilakukan sebagai upaya monitoring pergerakan kelompok Gajah dalam rangka mitigasi konflik atau early warning system,&amp;rdquo; kata Plt. Kepala Balai TNBBS Ismanto.Upaya pencegahan lain yang dilakukan yaitu penggiringan kelompok gajah yang keluar dari kawasan TNBBS, seperti yang dilakukan pada 27 April hingga 9 Mei 2020.&quot;Penggiringan kelompok gajah liar sebanyak 12 ekor yang dipimpin oleh ketua Forum Mahout Nazaruddin ini melibatkan pihak TNBBS, ERU TNWK, YABI, WCS, KPHL IX, Satgas HKM, berhasil menggiring kelompok gajah tersebut hingga masuk ke dalam kawasan TNBBS. Meskipun kondisi cuaca hujan lebat sempat membuat kelompok gajah tersebut kembali ke luar kawasan TNBBS,&quot; tutur Ismanto.Mempertimbangkan berbagai macam faktor, terutama cuaca dan topografi, akhirnya diputuskan segera dilakukan pemasangan GPS Collar pada satu ekor Gajah dari kelompok gajah tersebut. Tim pun mempersiapkan peralatan dan perlengkapan pemasangannya, seperti GPS Collar, petasan, GPS, kamera, senjata bius dan obat-obatan. Kemudian mereka bergerak menuju posisi kelompok gajah yang berada di daerah Talang Selawe.Setelah menentukan gajah yang akan dipasang GPS collar, Nazaruddin melakukan penembakan bius kepada gajah yang akan dipasangi GPS collar. Setelah pemasangan GPS Collar selesai, tim melakukan pemantauan hingga gajah sadar dan bergabung kembali dengan kelompok. Adapun data gajah yang dipasang GPS Collar adalah gajah betina, berusia 25 s/d 30 tahun, berat badan adalah 2.500 Kg dan tinggi badan 219 Cm.Ismanto menyampaikan apresiasi kepada tim yang berhasil memasang GPS Collar atas kerja keras, dedikasinya dan kerjasamanya. &quot;Meski pekerjaan ini dilakukan pada bulan Ramadhan, ditengah wabah pandemi dengan kondisi topografi TNBBS, dapat dilaksanakan sesuai rencana,&quot; ucapnya.Selanjutnya, dilakukan pemantauan secara langsung kepada kelompok gajah oleh tim blokade dan dilakukan pemantauan melalui satelit. GPS Collar diatur dengan interval transmisi sinyal per satu jam dapat dimonitor melalui web application dan mobile application. Mobile application menampilkan monitoring posisi GPS Collar dan histori pergerakan GPS Collar. Sedangkan web application menampilkan GPS Collar secara near real time dalam bentuk 3 dimensi.&amp;nbsp;Sementara itu, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) KLHK Indra Exploitasia juga menyampaikan apreasiasi kepada tim mahout yang berhasil menggiring gajah ke dalam kawasan TNBBS, sekaligus memasang GPS Collar pada salah 1 gajah di kelompoknya.&amp;ldquo;Pemasangan ini telah sesuai SOP pemasangan GPS dengan mengedepankan kesejahteraan satwa tanpa satwa terganggu dengan adanya Collar. Tentunya GPS Collar ini diharapkan dapat bekerja dengan baik, memantau pergerakan kelompok gajah dalam jalur jelajahnya. Apabila gajah keluar dari jalurnya, maka penanganan gajah dapat segera dilakukan sebelum terjadi interaksi antara manusia dan satwa,&amp;rdquo; tegas Indra._______________Jakarta, Kementerian LHK, 11 Mei 2020Penanggung jawab berita:Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHKNunu Anugrah - 081281331247Website:www.menlhk.go.idwww.ppid.menlhk.go.idYoutube:Kementerian LHKFacebook:Kementerian Lingkungan Hidup dan KehutananInstagram:kementerianlhkTwitter:@kementerianlhk&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 26 May 2020 03:22:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14260</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14259/Tim-Mitigasi-Giring-Balik-Gajah-Kelompok-12-ke-TN-Bukit-Barisan.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14259</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14259&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Tim Mitigasi Giring Balik Gajah Kelompok 12 ke TN Bukit Barisan</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14259/Tim-Mitigasi-Giring-Balik-Gajah-Kelompok-12-ke-TN-Bukit-Barisan.aspx</link> 
    <description>Tim Mitigasi Konflik manusia dengan gajah yang dikoordinasi Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Senin (27/4/2020), berhasil menggiring balik kawanan gajah kelompok 12, ke kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.Penggiringan balik ini dilakukan, mengingat berbagai upaya mitigasi konflik antara masyarakat disekitarnya dengan gajah Sumatera, kelompok 12, di sekitar kawasan TN Bukit Barisan Selatan dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Kotaagung Utara, belum membuahkan hasil optimal.&amp;ldquo;Berbagai upaya mitigasi konflik telah dilakukan, namun satwa gajah tetap mengikuti ruang jelajah nya dan kembali ke hutan lindung,&amp;rdquo; jelas Ismanto kepada pers di Lampung, Kamis (30/4/2020).Karena itu, lanjut Plt Kepala Balai TN Bukit Barisan Selatan, saat rapat yang dilangsungkan pekan lalu, disepakati untuk kembali dilakukan pengiringan gajah Kelompok 12, agar masuk ke TN Bukit Barisan Selatan, dan dimulai dari wilayah Hutan Lindung daerah Blok 8.Disebutkan Ismanto bahwa kini sudah memasuki tahun ketiga, pihaknya bersama Pemerintah Daerah Provinsi Lampung dan Kabupaten Tanggamus, serta mitra strategis, melakukan upaya mitigasi untuk mencegah konflik antara manusia dan gajah Sumatera (Kelompok 12) di sekitar kawasan TN Bukit Barisan Selatan dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Kotaagung Utara.Namun upaya yang dilakukan tersebut, dirasakan hasilnya belum optimal.Konflik antara masyarakat dengan kawanan gajah masih sering terjadi, sehingga disepakati, perlunya dilakukan penggiringan balik.&amp;ldquo;Kita juga telah memasang GPS Collar pada salah satu gajah agar memudahkan pemantauan pergerakan mereka,&amp;rdquo; tutur Ismanto lagi.MengapresiasiKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sangat mengapreasi atas keberhasilan Tim Penanganan Mitigasi Konflik menggiring balik kawanan gajah Kelompok 12 ini ke habitatnya.&amp;ldquo;Sungguh kementerian sangat mengapresiasi atas kerja keras tim mitigasi ini, hingga kawanan gajah itu kembali ke habitatnya yang aman,&amp;rdquo; kata Direktur KKH KLHK, Indra Exploitasia.Menurutnya, mitigasi konflik merupakan program penyelamatan satwa yang juga penyelamatan manusia, dan tentu keselamatan manusia menjadi prioritas pada saat terjadi interaksi antara satwa dan manusia, baru kemudian keselamatan satwa itu sendiri.Gajah merupakan satwa yang dilindungi sesuai Peraturan Menteria LHK Nomor 106 tahun 2018, tentang Daftar Tumbuhan dan Satwa Dilindungi dan masuk dalam IUCN Red List kategori Terancam Kritis (Critically Endangered).Pada saat ini gajah Indonesia tersebar di 23 kantong habitat, di delapan provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung.Populasi gajah Sumatera diperkirakan dalam kisaran 928 hingga 1379 individu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 26 May 2020 03:19:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14259</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14258/Siang-Malam-Petugas-Berjuang-Menggiring-Gajah-Kembali-ke-Habitat-di-TN-Bukit-Barisan-Selatan.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14258</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14258&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Siang Malam Petugas Berjuang Menggiring Gajah Kembali ke Habitat di TN Bukit Barisan Selatan</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14258/Siang-Malam-Petugas-Berjuang-Menggiring-Gajah-Kembali-ke-Habitat-di-TN-Bukit-Barisan-Selatan.aspx</link> 
    <description>Saat ini sudah memasuki tahun ketiga, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan bersama Pemprov&amp;nbsp;Lampung dan Kabupaten Tanggamus, serta mitra strategis, melakukan upaya mitigasi untuk mencegah konflik antara manusia dan Gajah Sumatera (kelompok 12) di sekitar kawasan TN Bukit Barisan Selatan dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Kotaagung Utara.Berbagai upaya mitigasi konflik telah dilakukan, tetapi satwa gajah tetap mengikuti ruang jelajahnya dan kembali ke hutan lindung.Maka, pada rapat&amp;nbsp;baru-baru ini disepakati untuk kembali melakukan penggiringan gajah masuk ke dalam TN Bukit Barisan Selatan.Adapun upaya penggiringan selanjutnya akan dilakukan pemasangan GPS Collar untuk memantau pergerakan gajah setelah penggiringan selesai.Kesepakatan dihasilkan dari rapat yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Ismanto, dan dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Plt. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Kepala KPHL IX Kotaagung Utara, serta Ketua Forum Mahout Indonesia, Nazaruddin.Selain itu hadir juga Project Leader WCS-IP, Ketua Satgas Konflik dari Pekon Karang Agung, Pekon Tulung Asahan, Pekon Sidomulyo. Serta Ketua Satgas Konflik dari Hutan Kemasyarakatan (HKm) Lestari Sejahtera, HKm Tulung Agung, HKm Hutan Lestari, HKm Mulya Agung.Plt. Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Ismanto dalam keterangan tertulisnya mengatakan perlu adanya kerja sama, dukungan, serta sinergi antarpihak dan pemangku kepentingan agar kegiatan penggiringan gajah sebagai salah satu upaya pelestarian satwa liar di alam bisa berjalan dengan baik.&quot;Penggiringan kelompok Gajah 12 dimulai dari wilayah Hutan Lindung daerah Blok 8 pada Senin 27 April dan pemasangan GPS Collar pada salah satu gajah dilaksanakan setelah kawanan gajah masuk dalam Kawasan TN Bukit Barisan Selatan,&quot; terang Ismanto.Dalam hal ini satu (1) unit GPS Collar disiapkan oleh Direktorat Kinservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sedangkan untuk teknis pemasangan GPS Collar dipimpin oleh Ketua Forum Mahout, Nazarudin dibantu oleh personil yang berasal dari Balai TN Way Kambas, BKSDA Bengkulu dan Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan.Sementara itu, Direktur KKH, KLHK, Indra Exploitasia di Jakarta memberikan apresiasi kepada tim penanganan mitigasi konflik, terutama di tengah pandemi COVID-19, bekerja siang malam untuk melakukan penggiringan gajah menuju habitat yang aman.Indra melanjutkan mitigasi konflik merupakan program penyelamatan satwa. Pada saat proses penyelamatan satwa, yang pertama menjadi prioritas adalah keselamatan manusia pada saat terjadi interaksi antara satwa dan manusia.Selanjutnya, menurut Indra adalah upaya atas keselamatan satwa itu sendiri. Interaksi ini tentunya harus dapat dipastikan tidak terulang lagi.&quot;Untuk itu perlu komitmen para pihak dalam berkehidupan secara harmoni dengan alam beserta isinya. Keseimbangan bisa terjadi apabila ruang hidup satwa juga menjadi atensi para pihak,&quot; jelas Indra.Satwa Gajah (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Daftar Tumbuhan dan Satwa Dilindungi dan masuk dalam IUCN Red List kategori Terancam Kritis (Critically Endangered).Gajah Indonesia tersebar di 23 kantong habitat di delapan provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung.Dari keseluruhan kantong habitat gajah di Indonesia, jumlah gajah diperkirakan berada di antara 928 &amp;ndash; 1379 individu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 26 May 2020 03:06:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14258</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14257/Mitigasi-Konflik-Gajah-Kelompok-Dua-Belas-di-Taman-Nasional-Bukit-Barisan-Selatan.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14257</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14257&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Mitigasi Konflik Gajah Kelompok Dua Belas di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14257/Mitigasi-Konflik-Gajah-Kelompok-Dua-Belas-di-Taman-Nasional-Bukit-Barisan-Selatan.aspx</link> 
    <description>Nomor: SP.174/HUMAS/PP/HMS.3/4/2020Sudah memasuki tahun ketiga, Balai Besar Taman Nasional (TN) Bukit Barisan Selatan bersama Pemerintah Daerah Provinsi Lampung dan Kabupaten Tanggamus, serta mitra strategis, melakukan upaya mitigasi untuk mencegah konflik antara manusia dan Gajah Sumatera (kelompok 12) di sekitar kawasan TN Bukit Barisan Selatan dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Kotaagung Utara.Berbagai upaya mitigasi konflik telah dilakukan, namun satwa gajah tetap mengikuti ruang jelajah nya dan kembali ke hutan lindung. Maka, pada rapat (22/04/2020) disepakati untuk kembali melakukan penggiringan gajah masuk ke dalam TN Bukit Barisan Selatan. Adapun upaya penggiringan selanjutnya akan dilakukan pemasangan GPS Collar untuk memantau pergerakan gajah setelah penggiringan selesai.Kesepakatan dihasilkan dari rapat yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Ismanto, dan dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Plt. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Kepala KPHL IX Kotaagung Utara, serta Ketua Forum Mahout Indonesia, Nazaruddin.Selain itu hadir juga Project Leader WCS-IP, Ketua Satgas Konflik dari Pekon Karang Agung, Pekon Tulung Asahan, Pekon Sidomulyo. Serta Ketua Satgas Konflik dari Hutan Kemasyarakatan (HKm) Lestari Sejahtera, HKm Tulung Agung, HKm Hutan Lestari, HKm Mulya Agung.Plt. Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Ismanto dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa perlu adanya kerja sama, dukungan, serta sinergi antar pihak dan pemangku kepentingan agar kegiatan penggiringan gajah sebagai salah satu upaya pelestarian satwa liar di alam bisa berjalan dengan baik.&quot;Penggiringan kelompok Gajah 12 dimulai dari wilayah Hutan Lindung daerah Blok 8 pada Senin (27/04/2020) dan pemasangan GPS Collar pada salah satu gajah dilaksanakan setelah kawanan gajah masuk dalam Kawasan TN Bukit Barisan Selatan&quot;, terang Ismanto.Dalam hal ini satu (1) unit GPS Collar disiapkan oleh Direktorat Kinservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sedangkan untuk teknis pemasangan GPS Collar dipimpin oleh Ketua Forum Mahout, Nazarudin dibantu oleh personil yang berasal dari Balai TN Way Kambas, BKSDA Bengkulu dan Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan.Direktur KKH, KLHK, Indra Exploitasia di Jakarta memberikan keterangan bahwa, pihaknya memberikan apresiasi kepada tim penanganan mitigasi konflik, terutama ditengah pandemi COVID-19, bekerja siang malam untuk melakukan penggiringan gajah menuju habitat yang aman.&amp;nbsp;Indra melanjutkan bahwa mitigasi konflik merupakan program penyelamatan satwa. Pada saat proses penyelamatan satwa, yg pertama menjadi prioritas adalah keselamatan manusia pada saat terjadi interaksi antara satwa dan manusia.&amp;nbsp;Selanjutnya, menurut Indra adalah upaya atas keselamatan satwa itu sendiri. Interaksi ini tentunya harus dapat dipastikan tidak terulang lagi. &quot;Untuk itu perlu komitmen para pihak dalam berkehidupan secara harmoni dengan alam beserta isinya. Keseimbangan bisa terjadi apabila ruang hidup satwa juga menjadi atensi para pihak&quot;, jelas Indra.Satwa Gajah (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Daftar Tumbuhan dan Satwa Dilindungi dan masuk dalam IUCN Red List kategori Terancam Kritis (Critically Endangered).Gajah Indonesia tersebar di 23 kantong habitat di delapan provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung. Dari keseluruhan kantong habitat gajah di Indonesia, jumlah gajah diperkirakan berada di antara 928 &amp;ndash; 1379 individu.(*)______________________________Jakarta, KLHK, 30 April 2020Penanggung jawab berita:Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHKNunu Anugrah - 081281331247Website:www.menlhk.go.idwww.ppid.menlhk.go.idYoutube:Kementerian LHKFacebook:Kementerian Lingkungan Hidup dan KehutananInstagram:kementerianlhkTwitter:@kementerianlhk</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 26 May 2020 02:57:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14257</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10838/Mengenal-Gajah-sumatera-Elephas-Maximus-sumatranus.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10838</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10838&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Mengenal Gajah sumatera (Elephas Maximus sumatranus)</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10838/Mengenal-Gajah-sumatera-Elephas-Maximus-sumatranus.aspx</link> 
    <description>Kalau kita tak kenal maka tak akan saying, demikian salah satu pepatah yang popular dikehidupan berbudaya bangsa yang kita cintai ini Indonesia,&amp;nbsp; Terkadang orang berpikiran sepihak dalam kehidupan ini, sebagian orang melihat sisi kehidupan hanya didasari atas azas kebutuhan dan nilai manfaat secara manusiawi yang mengabaikan kebutuhan dan kelangsungan hidup mahluk lain diantaranya satwa Gajah sumatera.  Kita mungkin sebagian tidak tahu akan peran kehidupan dan manfaat satwa Gajah ini dalam memelihara linkungannya, seperti kita ketahui Gajah sumatera hidup berkelompok dan merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari dalam sehari semalam terus bergerak bisa mencapai 20 km. dapat kita bayangkan jalannya rombongan gajah mereka melakukan penjarangan tiap hari membuka ruang sinar matahari tembus ke lantai hutan sehingga proses potosintesa bisa berjalan dan seperti halnya kita bercocok tanam maka tumbuhan akan tumbuh dengan baik, belum lagi disebabkan pencernaannya yang buruk mengakibatkan gajah buang kotoran tiap 1 jam sekali sehingga hutan kita akan terpupuk&amp;nbsp; dengan jumlah pupuk yang cukup yaitu&amp;nbsp; &amp;plusmn;5 % dari bobot tubuhnya&amp;nbsp; yang mencapai 3-4 ton. Dan untuk mengenal sosok menarik satwa endemic sumatera ini&amp;nbsp; kami ulas sebagai berikut. Gajah&amp;nbsp;sumatera adalah salah satu sub spesies gajah&amp;nbsp;asia, nama ilmiahnya&amp;nbsp;Elephas maximus sumatranus. Di alam bebas, gajah sumatera hanya hidup di pulau Sumatera.&amp;nbsp;Saat ini&amp;nbsp;kondisinya sangat mengkhawatirkan dan digolongkan ke dalam&amp;nbsp;daftar merah IUCN. Habitat gajah sumatera yakni hutan alam di pulau Sumatera sedang mengalami kerusakan parah. Kondisi ini menyebabkan hilangnya sebagian habitat gajah. Dalam jangka panjang akan mengancam kelangsungan hidup mamalia darat terbesar ini. Klasifikasi ilmiah Kingdom:&amp;nbsp;Animalia Phylum:&amp;nbsp;Chordata Class:&amp;nbsp;Mamalia Family:&amp;nbsp;Elephantidae Genus:&amp;nbsp;Elephas Spesies:&amp;nbsp;Elephas maximus Sub spesies:&amp;nbsp;Elephas maximus sumatranus Secara ilmiah gajah diklasifikasikan ke dalam keluarga&amp;nbsp;Elephantidae. Terdapat dua genus hewan yang termasuk dalam keluarga&amp;nbsp;Elephantidae&amp;nbsp;yang masih hidup di muka bumi yaitu genus&amp;nbsp;Elephas&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Loxodonta.1&amp;nbsp;Genus&amp;nbsp;Elephas&amp;nbsp;&amp;nbsp;terdiri dari satu spesies yaitu&amp;nbsp;Elephas maximus&amp;nbsp;atau yang kita kenal sebagai gajah asia.2&amp;nbsp;Sedangkan&amp;nbsp;Loxodonta terdiri dari dua spesies yakni&amp;nbsp;Loxodonta africana&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Loxodonta cyclotis&amp;nbsp;keduanya digolongkan sebagai gajah afrika.3 Gajah asia atau&amp;nbsp;Elephas maximus&amp;nbsp;memiliki tiga sub spesies yaitu&amp;nbsp;Elephas maximus indicus,&amp;nbsp;Elephas maximus maximus&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Elephas maximus sumatranus.4&amp;nbsp;Gajah sumatera adalah salah satu sub spesies gajah asia, nama ilmiahnya&amp;nbsp;Elephas maximus sumatranus. Di Indonesia terdapat juga gajah kalimantan yang masih digolongkan sebagai&amp;nbsp;Elephas maximus indicus.5&amp;nbsp;Namun dalam keterangan lain disebutkan bahwa gajah kalimantan merupakan sub spesies tersendiri, yakni&amp;nbsp;Elephas maximus bornensis.6 Genus&amp;nbsp;Loxodonta&amp;nbsp;sendiri terdiri dari dua spesies, yakni&amp;nbsp;Loxodonta africana&amp;nbsp;ditemukan hidup di wilayah savana Afrika dan&amp;nbsp;Loxodonta cyclotis&amp;nbsp;ditemukan di hutan tropis Afrika.7&amp;nbsp;Versi lain menyebutkan hanya ada satu spesies gajah dari genus&amp;nbsp;Loxodonta. Menurut versi ini kedua jenis gajah Afrika tersebut merupakan sub spesies, yakni&amp;nbsp;Loxodonta africana africana&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Loxodonta africana cyclotis.8 Ciri-ciri gajah sumatera Gajah sumatera memiliki ciri khas tertentu, terutama bila diamati dari bentuk fisiknya. Ciri-ciri gajah sumatera secara umum adalah sebagai berikut: &amp;sect;&amp;nbsp; Bobot gajah sumatera sekitar 3-5 ton dengan tinggi 2-3 meter.9 &amp;sect;&amp;nbsp; Kulitnya terlihat lebih terang dibanding gajah Asia lain dan dibagian kupingnya sering terlihat depigmentasi, terlihat seperti flek putih kemerahan. &amp;sect;&amp;nbsp; Hanya gajah jantan yang memiliki gading yang panjang. Pada betina, kalaupun ada gadingnya pendek hampir tidak kelihatan. Berbeda dengan gajah Afrika dimana jantan dan betina sama-sama punya gading. &amp;sect;&amp;nbsp; Ciri mencolok lainnya ada pada bagian atas kepala. Gajah sumatera memiliki dua tonjolan sedangkan gajah Afrika cenderung datar. &amp;sect;&amp;nbsp; Kuping gajah sumatera lebih kecil dan berbentuk segitiga sedangkan gajah Afrika kupingnya besar dan berbentuk kotak.10 &amp;sect;&amp;nbsp; Gajah sumatera memiliki 5 kuku di kaki bagian depan dan 4 kuku di kaki belakang. &amp;nbsp; Gajah sumatera hidup di hutan-hutan dataran rendah di bawah 300 meter dpl. Tapi juga sering ditemukan merambah ke dataran yang lebih tinggi. Jenis hutan&amp;nbsp;yang disukainya adalah kawasan rawa dan hutan gambut. Populasinya tersebar di 7 propinsi meliputi Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung.11 Pada tahun 2007 populasi gajah sumatera di alam liar diperkirakan sekitar 2400-2800 ekor. Turun separuhnya dibanding tahun 1985 sekitar 4800 ekor. Saat ini jumlahnya terus diperkirakan mengalami penyusutan. Karena habitat hidupnya terus menyempit. Terhitung 25 tahun terakhir, Pulau Sumatera telah kehilangan 70% luas hutan tropis yang menjadi habitat gajah.12 Gajah termasuk binatang nokturnal yang aktif di malam hari. Hewan ini hanya membutuhkan waktu tidur selama 4 jam per hari dan terus bergerak selama 16 jam untuk menjelajah dan mencari makanan. Sisanya digunakan untuk berkubang dan bermain. Pergerakan gajah dalam sehari bisa mencapai areal seluas 20 km2. Idealnya&amp;nbsp;kebutuhan luas areal untuk habitat&amp;nbsp;gajah liar&amp;nbsp;minimal&amp;nbsp;250 km2&amp;nbsp;berupa hamparan hutan yang tidak terputus.13 Perilaku makan Gajah sumatera memakan rumput-rumputan, daun, ranting, umbi-umbian dan kadang buah-buahan. Setidaknya terdapat 69 spesies tumbuhan yang bisa dijadikan pakan gajah. Tumbuhan tersebut terdiri dari 29 kelompok rumput-rumputan dan 40 kelompok tanaman non rumput. Gajah sumatera diketahui lebih menyukai rumput-rumputan.14 Efesiensi sistem pencernaan gajah sangat buruk. Hewan ini bisa membuang fesesnya setiap satu jam sekali. Tidaklah heran bila dalam sehari&amp;nbsp;gajah sumatera memerlukan makanan hingga&amp;nbsp;230&amp;nbsp;kg atau setara dengan 5-10% dari bobot tubuhnya. Sedangkan untuk minum dibutuhkan&amp;nbsp;160 liter air setiap hari. Di musim kemarau&amp;nbsp;gajah sumatera bisa menggali air di dasar sungai yang mengering hingga kedalaman satu meter. Perilaku reproduksi Gajah jantan memiliki periode&amp;nbsp;musth, yaitu masa produksi hormon testosteon.&amp;nbsp; Musth menandakan bahwa gajah jantan sudah siap kawin.&amp;nbsp; Secara umum gajah jantan akan mengalami&amp;nbsp;musth&amp;nbsp;setelah berumur sekitar 12-15 tahun. Saat gajah jantan memasuki periode&amp;nbsp;musth&amp;nbsp;akan&amp;nbsp;terjadi perubahan perilaku, nafsu makannya menurun, gerakannya lebih agresif dan suka mengendus-ngendus dengan belalainya.&amp;nbsp;Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti sering meneteskan urin, penis sering keluar dan dari dahinya mengeluarkan kelenjar berbau menyengat. Gajah betina&amp;nbsp;bisa melahirkan anak setelah berumur di atas 9-10&amp;nbsp;tahun. &amp;nbsp;Usia kehamilan mencapai 22 bulan. Bayi gajah sumatera yang baru lahir memiliki bobot tubuh sekitar 40-80 kg dengan tinggi 75-100 cm. Bayi tersebut akan diasuh oleh induknya hingga berumur 18 bulan.&amp;nbsp;Dalam satu kali kehamilan biasanya terdapat satu bayi, namun dalam beberapa kasus ada juga yang melahirkan hingga dua&amp;nbsp;bayi. Jarak waktu antar kehamilan berkisar 4-4,5 tahun.15 Perilaku sosial Gajah merupakan hewan sosial yang hidup berkelompok. Kelompok berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup gajah. Jumlah&amp;nbsp;anggota kelompok sangat bervariasi. Tergantung pada kondisi sumber daya alam dan luas habitat. Gajah sumatera bisa ditemukan dalam kelompok&amp;nbsp;yang terdiri dari 20-35 ekor, tetapi juga ada kawanan yang hanya 3 ekor saja. Setiap kelompok dipimpin oleh seekor betina. Sedangkan yang jantan berada dalam kelompok untuk periode tertentu saja. Gajah yang tua akan hidup memisahkan diri dari kelompoknya hingga pada akhirnya mati.16 Gajah sumatera sangat peka dengan bunyi-bunyian. Untuk melakukan perkawinan dan berkembang biak,&amp;nbsp;gajah memerlukan suasana yang tenang dan nyaman. Suara alat-alat berat dan gergaji mesin sangat menganggu perkembangbiakan gajah.17 &amp;nbsp; Setatus Perlindungan IUCN Pada tahun 2011, IUCN menetapkan status konservasi gajah sumatera ke dalam kategori&amp;nbsp;Critically Endangered&amp;nbsp;(CR). Artinya, satwa ini berada diambang kepunahan. Status CR berada hanya dua tingkat dari status punah di alam liar dan punah sepenuhnya.18 Hukum Republik Indonesia Status konservasi gajah sumatera dalam sistem hukum di Indonesia termasuk satwa yang dilindungi oleh UU No.5&amp;nbsp;tahun&amp;nbsp;1990&amp;nbsp;dan PP 7/1999. Perlindungan diberikan karena ancaman terhadap kelangsungan hidupnya semakin besar. Ancaman terbesar datang karena&amp;nbsp;rusaknya habitat karena berebut dengan&amp;nbsp;lahan perkebunan dan pertanian. Sehingga sering kali terjadi&amp;nbsp;konflik dengan manusia. Ancaman lain karena perburuan untuk diambil gadingnya. Demikian sekilas info tentang satwa Gajah yang selama ini ada berdampingan dengan kehidupan kita, seyogyanya sebagai khalifah di muka bumi ini kita hendaklah berlaku bijak dan punya tanggung jawab bersama dalam melindungi kelangsungan hidup satwa ini&amp;hellip; (Maman Suherman, A.Md, staf Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Balai Besar TNBBS) &amp;nbsp; Sumber &amp;amp; Referensi 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Elephantidae&amp;nbsp;Gray, 1821.  2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Elephas maximus&amp;nbsp;Linnaeus, 1758.  3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Loxodonta&amp;nbsp;Anonymous, 1827.  4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Elephas maximus&amp;nbsp;Linnaeus, 1758.  5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Elephas maximus.&amp;nbsp;IUCN.&amp;nbsp;  6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sumatran Elephant. A-Z Animal.&amp;nbsp;↩ 7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gajah Sumatera dan Gajah Afrika Berbeda. Biodiversity Warrior.&amp;nbsp; 8.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2007-2017. Departemen Kehutanan RI.&amp;nbsp; 9.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sumatran Elephant (Elephas maximus ssp.sumatranus). IUCN.&amp;nbsp;↩</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 20 Dec 2017 19:47:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10838</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10803/MENGURANGI-PERAMBAH-DENGAN-POTENSI.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10803</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10803&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>MENGURANGI PERAMBAH DENGAN POTENSI</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10803/MENGURANGI-PERAMBAH-DENGAN-POTENSI.aspx</link> 
    <description>menjadi bagian dari seorang rimbawan adalah sesuatu yang bisa disebut ruarbiasa.,yaa begitulah,karena ketika orang diluar sana menghabiskan waktunya saat libur dengan keluarga rekan yg pastinya hapy hapy, kita tetap dilapangan (bukan lapangan bola) untuk menjaga hutan ini (TNBBS) tetap exis dengan keutuhan sumber daya alam hayati yang dalam kondisi saat ini dalam keadaan list in.danger.. memang walaupun dengan iklas dan semangat menjalani hal diatas tidak membuat tindak pidana kehutanan sepenuhnya teratasi. hal tersebut dikarenakan banyak faktor salah satunya perbandingan luas dengan personil yang tidak sesuai. tak perlu jauh kemana untuk mencari contoh mari kita menuju salah satu dari 17 resort yang ada di TNBBS yes this is Suoh. resort dengan luas 37rb ha ini berada di seksi pengelolaan wilayah 3 krui dan bidang pengelolaan wilayah 2 liwa balai besar TNBBS secara administrasi pemerintahan berada di kabupaten lampung barat. luas 37 rb ha merupakan luasan yang tidak kecil apalagi hanya di jaga oleh 2 personil Polhut dan 5 personil masyarakat mitra polhut (mmp) dalam lingkup resort, bandingkan dengan luasan balai TN gunung Ciremai yang hanya 15rb ha,ya itu 1 balai pasti jumlah personilnya lebih banyak.tapi itulah realitanya namun kita tetap bangga karena tempat kita masih banyak flora ataupun fauna yang tidak bisa kita jumpai di taman nasional lain contohnya bunga raflesia dari satwa kita ada gajah sumatra,harimau sumatra badak sumatra (merupakan satwa kunci di TNBBS) dan banyak lagi walaupun saat ini populasi berkurang karena ulah pemburu tidak bertanggung jawab. oke bro,tak akan selesai perdebatan jika membandingkan dengan taman nasional yang berada di jawa bahasa jawane &quot;wes ono urusan lan bagiane dewe dewe&quot;. saat ini yang perlu di perhatikan yaitu rumah kita sendiri,.bagaimana kita menjadikan rumah kita resort suoh menjadi rumah yang indah dan nyaman seperti hal nya rumah pribadi kita. perlu diketahui bahwa luasan wilayah resort suoh merupakan wilayah resort terluas yang berada di TNBBS,tentunya permasalahan yang ada juga sangatlah kompleks.,mulai dari ilegal loging perburuan dan paling banyak adalah perambahan,maaf kata perambahan saat ini dianggap terlalu mainstream dan diganti dengan penggunaan lahan tanpa izin (diperalus) padahal buat apa ya? itu kan slah satu perusak hutan kita juga.,yweslah ben ae mereka bermain kata-kata,kita kembali ke laptop. di resort suoh antara jumlah hutan yang masih utuh dengan luas deforestrasi spertiny luasan deforestrasinya hal tersebut terliat dari data base Balai besar TNBBS dengan luas 19.029 ha. jumlah yang tidak sedikit dari jumlah keseluruhan luas resort. banyaknya masyarakat yang berkebun di dalam.kawasan TNBBS kususnya resort Suoh&amp;nbsp; tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jumlah lahan marga dengan kawasan TNBBS lebih luas kawasanya,di pengaruhi juga oleh semakin meningkarnya jumlah penduduk dengan tidak dibarengi oleh meningkatnya lahan garapan membuat niat masyarakat untuk merambah hutan makin tinggi. untuk masyarakat yang sudah lama berada di dalam kawasan makin &quot;betah&quot; karena adanya pemungutan PBB membuat merasa &quot;legal&quot; berada di dalam kawasan. &amp;nbsp;Disamping hal itu di resort suoh belum pernah dilakukan operasi penurunan perambah dikarenakan oleh faktor &quot;politik&quot; yang merupakan lumbung suara saat pemilu dan Suoh ini kalo dibilang &quot;anak emasnya &quot; Kabupaten Lampung Barat. berbagai cara dan upaya sudah dilakukan yaitu sosialisasi penyadartahuan, penyuluhan ke sekolah-sekolah sekitar kawasan, penegakan hukum terhadap perambah baru serta rehabilitasi hutan walaupun hanya seluas 1000 ha di daerah Pekon Hantatai namun dirasa upaya tersebut belum begitu efektif. Dalam penanganan perambah di Resort Suoh. Allright we must think hard for this, hmm ternyata Suoh ini memiliki &quot;mutiara terpendam&quot; yaitu potensi wisata yang sangat luar biasa dengan sebutan &quot;surga tersembunyi &quot; dikarenakan letak geografis yang terpencil di lampung. Hamparan padang ilalang yang hijau danau lebar dengan potensi burung burung asli nan indah warna dan kicauanya ada juga danau minyak yang airnya mengandung minyak,danau asam&amp;nbsp; dengan air asam mengandung belerang hangat dengan PH yang normal bagus untuk mengobati penyakit kulit pasir kuning berupa hamparan luas pasir berwarna kuning, serta keramikanendapan sulfur membentuk lantai seperti keramik yang bisa berada berdiri diatasnya plus air terjun eksotis setinggi 85 m bernama curug gading. &amp;nbsp;Begitu amazing dan banyaknya potensi wisata yang pasti membuat baper para wisatawan yang datang kesitu,panteslah dinamakan mutiara terpendam atau surga tersembunyi. lokasi tersebut berada di dalam kawasan TNBBS yang sudah ditetapkan menjadi zona pemanfaatan. hal ini yang sekarang di giatkan oleh Resort Suoh untuk pengelolaan wisata bersama masyarakat sekitar kawasan, ada 2 Pekon / Desa yang secara administrasi pemerintahan berbatasan langsung dengan lokasi tersebut yaitu Pekon Sukamarga dan Gunung Ratu. &amp;nbsp;Hal ini bertujuan untuk mengurangi perambahan yang ada di Resort Suoh, dikarenakan kedua Pekon diatas mayoritas memiliki garapan di dalam kawasan TNBBS tentunya dalam pengelolaan berdasarkan peraturan PP No. 36 Tahun 2010: tentang&amp;nbsp; Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya &amp;amp; Taman Wisata Alam, Permenhut No. P.48/Menhut-II/2010 sebagaimana diubah dengan P.4/Menhut-II/2012&amp;nbsp; tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. tahapan 1 bersama dengan Tim Balai dan Bidang 2 liwa telah melakukan sosialisasi peraturan diatas tahapan ke 2,3,4 masih sosialisasi dan pendampingan kepengurusan administrasi permohonan izin sampai pada saat ini tinggal menunggu izin tersebut terbit, perlu diketahui bahwa izin yang diajukan adalah izin usaha perorangan cukup diajukan ke Balai Besar TNBBS. sembari izin terbit masyarakat dengan swadaya membangun sarana prasarana guna mendukung wisata tersebut. Hasilnya patut disukuri PNBP meningkat, yang pada tahun lalu bulan Agustus September merupakan musim kemarau kita sebagai petugas disibukan dengan kebakaran padang ilalang saat ini tidak terjadi lagi karena masyarakat berkomitmen untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran di areal tersebut tidak hanya hal itu masyarakat siap melakukan penanaman sebanyak 1000 batang tanaman asli hutan TNBBS di lahan garapanya dan secara bertahap meninggalkan lahan garapan yang di dalam kawasan TNBBS. &amp;nbsp;Memang masih banyak yang harus diperbaiki baik administrasi maupun tata kelola bangunanya namun setidaknya inilah langkah awal yang harus dilalui agar jargon &quot;hutan lestari masyarakat sejahtera&quot; benar benar terlaksana.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 06 Dec 2017 02:38:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10803</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10743/IN-HOUSE-TRAINING-OPERASIONAL-PENGELOLAAN-OBJEK-WISATA-ALAM-BALAI-BESAR-TNBBS-2017.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10743</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10743&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>“IN HOUSE TRAINING OPERASIONAL PENGELOLAAN OBJEK WISATA ALAM” BALAI BESAR TNBBS 2017</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10743/IN-HOUSE-TRAINING-OPERASIONAL-PENGELOLAAN-OBJEK-WISATA-ALAM-BALAI-BESAR-TNBBS-2017.aspx</link> 
    <description>Bandar Lampung&amp;nbsp;&amp;ndash; &amp;nbsp;09 Oktober 2017. Bertempat &amp;nbsp;di Taman Wisata Lembah Hijau &amp;ndash; Bandar Lampung, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mengadakan &amp;ldquo;IN HOUSE TRAINING OPERASIONAL PENGELOLAAN OBJEK WISATA ALAM&amp;rdquo; dalam kegitan ini Kepala Balai Besar TNBBS sekaligus&amp;nbsp; melakukan pembinaan pegawai terhadap staf dan pejabat strukturalnya. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 09 Oktober 2017 tersebut dihadiri oleh sekitar 105 pegawai dari kantor Balai, Bidang Wilayah I Semaka dan bidang Wilayah II Liwa. Dalam kegiatan tersebut, &amp;nbsp;Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Ir Agus Wahyudiono menyampaikan, &amp;ldquo;Untuk mendapatkan hasil kerja yang baik, maka diperlukan adanya pegawai-pegawai yang setia, taat, jujur, penuh dedikasi, disiplin dan sadar akan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya sesuai dengan peraturan perundang-undangan &amp;nbsp;yang berlaku&amp;rdquo;. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Fungsi pembinaan diarahkan untuk :&amp;nbsp; &amp;middot;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Memupuk kesetiaan dan ketaatan.&amp;nbsp; &amp;middot;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meningkatkan adanya rasa pengabdian, tanggung jawab, kesungguhan dalam&amp;nbsp; bekerja dan&amp;nbsp; melaksanakan tugas.&amp;nbsp; &amp;middot;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meningkatkan gairah dan produktivitas kerja secara optimal.&amp;nbsp; &amp;middot;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mewujudkan suatu layanan organisasi dan pegawai yang bersih dan berwibawa.&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kegiatan pembinaan pegawai lingkup Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Dalam sambutannya Kepala Balai Juga berpesan kepada seluruh jajaran staf yang hadir agar dapat menjunjung tinggi sportivitas kerja agar kedepan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dapat menjadi lebih baik lagi.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 05:05:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10743</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10742/MENGENAL-JENIS-JENIS-BURUNG-NEAR-THREATENED--INTERIOR-HUTAN-DITAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10742</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10742&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>MENGENAL JENIS-JENIS BURUNG “NEAR THREATENED”   INTERIOR HUTAN DITAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10742/MENGENAL-JENIS-JENIS-BURUNG-NEAR-THREATENED--INTERIOR-HUTAN-DITAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx</link> 
    <description>Pengantar Terjadinyaperubahan tutupan hutan untuk perkebunan/perladangan maupun keberadaan jalan nasional yang memotong kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan(TNBBS) dapat menimbulkan efek tepi (edge effect).&amp;nbsp; Menurut Murcia (1995:98); Candido (1999;10); McCollin (2006:248) dalam Nuruliawati (2015), Efek tepi merupakan hasil interaksi antara dua ekosistem yang berdampingan yang terjadi karena adanya pemisahan antara kedua habitat tersebut oleh suatu kawasan transisi atau basa disebut dengan kawasan tepi.&amp;nbsp; Efek tepi memberikan terhadap respon terhadap hidupan liar salah satunya adalah respon terhadap burung.&amp;nbsp; Apalagi burung dikenal sensitif terhadap perubahan lingkungan yang menyebabkan burung dijadikan indikator lingkungan.  Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul respon burung terhadap efek tepi di kawasan TNBBS yang dilakukan oleh Sdr. Nuruliawati (Mahasiswi Dept Biologi-FMIPA-UI) pada Agustus &amp;ndash; September 2014, diketahui adanya komunitas burung yang memiliki komposisi berbeda di antara kawasan hutan, tepi hutan dan kebun masyarakat.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kawasan tepididominasi oleh jenis frugivora dari suku Pycnonotidae sedangkan kawasaan hutan didominasi oleh jenis insektivora.&amp;nbsp; Sementara itu kawasan kebun didominasi oleh nektarivora, frugivora dan insektivora dari suku yang lebih beragam dibandingkan kawasan tepi dan kawasan hutan. Mengenal burung &amp;ndash; burung interior Burung interior dikenal sebagai burung &amp;ndash; burung yang berada di dalam kawasan hutan.&amp;nbsp; Spesialist interior merupakan kategori untuk jenis organisme yang cenderung menghindari kawasan tepi atau kawasan terfragmentasi (McCollin 2006 : 248 &amp;ndash; 249 dalam Nuruliawati, 2015).&amp;nbsp; Jenis interior adalah spesies yang menempati tempat hanya atau terutama di tempat yang jauh dari perbatasan dengan gangguan (Forman dan Godron, 1986 dalam Anggraini, C.M.D, 2006).&amp;nbsp; Species ini akan menolak habitat tepi, mereka hanya akan terdapat pada bagian interior dari hutan atau habitat lain dan tidak akan terdapat dalam rumpang habitat yang kecil yang hanya mempunyai habitat interior kecil atau bahkan tidak ada sama sekali (Meffe dan Carol, 1994 dalam Anggraini,C.M.D, 2006). &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan hasil penelitian beberapa jenis burung interior yang berstatus hampir terancam (Near Threatened) penghuni kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Macronous ptilosus (Ciung air pongpong / Burung rimbang pongpong)   Deskripsi: Berukuran kecil (15 cm), berwarna gelap, suka mengendap-endap. Bulu coklat merah, topi coklat berangan, tenggorokan hitam, lingkar mata dan kekang biru mencolok. Bulu pada punggung panjang dan bertangkai pucat, sulit terlihat di lapangan. Iris coklat merah, paruh dan kaki kehitaman. Suara: Teriak keras yang sesak, bentuk &amp;ldquo;cer-cer-cer-cerang&amp;rdquo; yang meninggu pada nada terakhir, dan nyanyi dempang rendah: &amp;ldquo;pup-pup pup pup pup&amp;rdquo;. Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. Penyebaran local dan status: Di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya) dan Kalimantan, umum terdapat di hutan dataran rendah sampai ketinggian 700 m. Kebiasaan: Hidup dalam kelompok kecil pada lapisan bawah hutan yang lebat dan pinggir hutan, umumnya di lembah sungai kecil yang lembab. Mudah terpancing oleh suara &amp;ldquo;pstt&amp;rdquo;. 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Argusianus argus (Kuau Raja)   Deskripsi: Berukuran sangat besar. Jantan (120 cm): bulu sekunder dan bulu tengah ekor sangat panjang. Bulu sayap dihiasi dengan bintik besar berbentuk mata. Bulu utama umumnya coklat karat dengan bintik kuning kebo dan hitam yang berpola rumit. Tubuh bagian bawah merah karat lebih gelap. Betina: lebih kecil (60 cm), ekor dan bulu sayap lebih pendek, berwarna lebih gelap, tidak ada bintik mata seperti jantan. Keduanya: kulit gundul pada kepala dan leher yang biru, jambul pendek gelap. Iris merah coklat, paruh kuning, kaki merah. Suara: Jantan: meledak-ledak, dengan nada ganda nyaring &amp;ldquo;ku-wau&amp;rdquo;, sering merupakan sahutan terhadap pohon runtuh, suara petir, atau suara jantan lainnya. Suara lain pada kedua jenis kelamin: seri nada &amp;ldquo;wau&amp;rdquo;, dua puluh kali atau lebih, sangat jelas dengan nada sama, mulai dengan nada &amp;ldquo;wau&amp;rdquo; yang turun, berangsur-angsur menjadi nada &amp;ldquo;wau&amp;rdquo; yang naik. Penyebaran global: Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. Penyebaran local dan status: Di Sumatera dan Kalimantan, umum ditemukan di hutan primer 1.200 m. sekarang mulai jarang (hilang di tempat tertentu) karena dijaring dan kerusakan habitat. Catatan terlihatnya Kuau jambul Rheinartia orellata di Sumatera kemungkinan merupakan salah dientifikasi dengan jenis ini. Kebiasaan: Di lantai hutan, jantan mengigal berupa lingkaran, tempat dibuangnya semua daun, anak pohon, dan batu. Bersuara dari tempat mengigal ini pada pagi hari. Dengan gaya merak, memperagakan sayap dan ekor betina yang berkunjung. Tidur di atas pohon pada malam hari. Kadang-kadang berisitrahat dan memanggil dari atas pohon pada siang hari. Catatan: Kuau garis-ganda A. bipunctatus diketahui dari satu helai bulu primer jantan. Dulu diperkirakan berasal dari Jawa walaupun ada beberapa alsan untuk menduga bahwa burung ini berasal dari P.Tioman, lepas pantai timur Malaysia. 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Eurylaimus ochromalus(Sempur Hujan Datar)   Deskripsi: Berukuran kecil (15 cm), berwarna-warni. Paruh biru, kepala hitam, ada bintik putih khas. Tubuh bagian atas umumnya hitam, tungging kuning, sayap burik,kuning pada tunggir, terdapat pita hitam melintang pada dada atas (sebagian pada betina), paha hitam. Remaja: berwarna lebih suram, dahi kuning. Iris kuning paruh kebiruan, kaki merah jambu. Suara: Sangat mencolok dan sering terdengar. Suara sangat mirip Sempur-hujan rimba, berupa deretan nada monoton selama kira-kira tujuh detik, tetapi tanpa siulan pendahuluan atau nada akhir yang perlahan menghilang. Suara lainnya yaitu sorak tinggi yang memelas. Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. Penyebaran local dan status: Biasa terdapat di hutan primer dan hutan sekunder sampai ketinggian 900 m di Sumatera (termasuk kepulauan di sekitarnya) dan Kalimantan (termasuk Kep. Natuna). Kebiasaan: Memburu serangga dari ternggerana rendah di hutan. Berdiam pada tajuk bawah dan tajuk tengah. 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Megalaima mystachophanos (Takur Warna Warni)   Deskripsi: Berukuran sedang (23 cm), berwarna hijau dengan kepala berhiaskan warna merah, kuning, biru, dan hitam. Berbeda dengan takur lain, jantan: dahi kuning, tenggorokan merah, betina: kekang dan mahkota bagian belakang merah, tanpa warna hitam pada kepala. Remaja: seperti betina, tetapi berwarna lebih suram. Iris coklat, paruh hitam, kaki abu-abu. Suara: Serangkaian nada tidak tetap: &amp;ldquo;tok&amp;rdquo; dalam satu sampai empat nada, satu kali per detik. Juga getaran bernada tinggi yang memendek ketika diulang. Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Kep. Tuna, Sumatera, dan Kalimantan. Penyebaran local dan Status: Umum di hutan dataran rendah di bawah ketinggian 800 m, lebih jarang di hutan rawa dan hutan gambut. Kebiasaan: Hidup pada tajuk atas dan tajuk tengah, menyukai hutan primer dan hutan bekas tebangan yang tinggi. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meiglyptes tukki(Caladi badok) Deskripsi: Berukuran agak kecil (21 cm), berwarna coklat tua dengan bercak kuning tua lebar dank has pada leher dan garis kekuningtuaan pada punggung. Jantan dewasa: setrip malar merah, ada garis kehitaman pada tenggorokan. Burung muda: seperti dewasa, tetapi dengan garis kuning tua yang lebih tebal. Iris merah padam, paruh kehitaman, kaki hijau keabu-abuan.   Suara: Suara berputar: &amp;ldquo;kirr-r-r&amp;rdquo;, dengungan keras bernada tinggi, dan suara bergenderang keras. Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Sumatera (termasuk pulau-pulau di lepas pantai), Natun utara, Bangka, dan Kalimantan. Penyebaran local dan status: Umum terdapat di hutan primer dan hutan sekunder di bawah ketinggian 1.000 m. Kebiasaan: Menyukai lapisan tengah dan bawah di hutan. Kadang-kadang bergabung dengan kelompok burung campuran lain. 6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Oriolus xanthonotus (Kepudang Hutan)   Deskripsi Sedang (18 cm), berwarna hitam dan kuning. Kepala, leher, dan kerongkongan burung jantan berwarna hitam. Dada keputih-putihan, dengan burik hitam, membedakannya dari Kepudang kuduk-hitam. Bulu terbang hitam; dan bagian lain kuning terang. Bagian atas burung betina dan burung remaja berwarna kehijauan, tungging kuning, dan bagian bawah sisinya putih dengan burik hitam tebal.Iris merah; paruh merah jambu; kaki hitam. Suara Siulan berdering panjang, berulang, dan menurun &amp;ldquo;pii-fiiuuu&amp;rdquo; beralun &amp;ldquo;ti-ti-lu-i&amp;ldquo;, dan suara pekikan. Kicauannya lebih lemah dan kurang melodius dibandingkan dengan kicauan Kepudang kuduk-hitam. Berukuran agak kecil (18 cm), berwarna hitam dan kuning. Jantan: kepala, leher dan kerongkongan hitam. Bulu terbang hitam. Dada keputih-putihan dengan burik hitam. Bagian lain kuning terang. Betina dan burung remaja: tubuh bagian atas kehjauan, tungging kuning, tubuh bagian bawah siasanya putih dengan burik hitam tebal.Iris merah, paruh merah jambu kaki hitam. Terdapat di Filipina, Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar. Di Bali tidak tercatat. 7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rhinoplax vigil (Rangkong Papan) Deskripsi    Burung enggang gading disebut demikian karena di antara ekornya yang panjang terselip semacam dua tangkai gading dengan panjang sekitar 50 sentimeter. Buceros vigil, demikian nama Latin burung berukuran besar ini. Enggang gading memang termasuk raksasanya burung yang bisa terbang. Dalam identifikasi ukuran, rata-rata panjang tubuhnya antara 60 &amp;ndash; 160 cm, ditambah dengan ekor 50 sentimeter Walau besar, enggang punya bobot tubuh yang ringan antara 100 gram &amp;ndash; 8 kg. Umumnya burung jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dari burung betina. Jenis kelamin Enggang yang telah dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung atau cula, warna sayap, paruh dan mata. burung ini cukup menarik perhatian para kolektor burung unik. Diantara enggang/burung rangkong, enggang gading adalah yang terbesar ukurannya, kepalanya dan paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan tanduk yang menutup bagian dahinya. Orang mancanegara menyebutnya &amp;rdquo;helmeted hornbill&amp;rsquo; atau &amp;rdquo;ivory hornbill&amp;rdquo; karena memang kekhasannya adalah bagian atas kepalanya yang dilingkupi kulit mirip helm. &amp;rdquo;Helm&amp;rdquo; ini berwarna merah menyala sampai ke bagian leher, menyerupai jengger ayam. Pola warna bulu-bulunya biasanya varian hitam dan coklat tua ( Bulu berwarna coklat, hitam, putih, atau hitam dan putih). Itu pun masih dihias pola lurik atau garis putih, kuning, atau krem pada bulu di area tubuh bawah, sayap, dan ekor. Enggang betina memiliki warna bulu lebih unik lagi, yakni biru sampai biru pucat. Paruh berwarna merah atau kuning, sangat besar dan melengkung dan sebagian besar burung ini mempunyai cula. Kulit dan bulu di sekitar tenggorokan berwarna terang. Sayap kuat, ekor panjang, kaki pendek, jari-jari kaki besar dan S indaktil (Departemen Kehutanan, 1993). Secara morfologi, burung Enggang Gading khas Kalbar jauh lebih cantik dan indah ketimbang Enggang di region lain bumi Kalimantan. Ekor Enggang Gading panjang dan berwarna hitam-putih. Cula atau tanduk di kepala Enggang Gading juga lebih kecil sehingga tidak &amp;ldquo;besar pasak dari pada tiang&amp;rdquo;. Artinya proporsional. (Sinarharapan. 2002) Makanan, prilaku dan suara Enggang gading bukanlah burung &amp;ldquo;vegetarian&amp;rdquo; (herbivora). Ia suka menyantap berbagai menu. Dalam daftar makanan hariannya terdiri dari aneka buah (terutama buah beringin/ara dan palem), serangga, reptil dan burung kecil bahkan tupai. Walau bukan pemburu jempolan, Enggang cukup mahir mengejar mangsanya. Buah memang favorit, namun daging ular, kadal, bahkan hewan pengerat akan dilahap . Ada satu yang unik dalam &amp;ldquo;pertempuran&amp;rdquo; Enggang gading dengan ular. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa saat memangsa ular berbisa, Enggang cukup hati-hati. Kemampuan memangsa ini dikembangkannya menjadi teknik makan yang unik. Saat mematuk ular berbisa, ia menempatkan kepala ular di dekat ujug paruhnya. Ini untuk menjauhkan patukan ular ke kepala atau bagian tubuh lainnya. Setelah menempatkan mangsa sedemikian rupa, ia akan mulai melakukan putaran paruh agar bagian atas ular berada di bawah (terbalik). Lantas dengan perhitungan dan kehati-hatian, ia mematuki kepala dan tubuh ular sampai hancur dan daging segar pun segera dilahap.  Perilaku Unik Enggang Gading suka bersarang di lubang-lubang pohon besar. Namun berbeda dengan kebanyakan burung lainnya, dalam masa mengerami, betina akan mengurung diri selama masa mengerami dan jantan akan setia melayani istrinya, karena enggang dikenal sebagai burung yang setia pada pasangan (monogami). Saat musim bertelur, betina akan bertelur di lubang-lubang pohon sebagai sarang. Biasanya ia akan menempatkan 1 &amp;ndash; 5 telur dalam satu kali musim bertelur. Setelah semua telur ditempatkan sedemikian rupa, maka betina akan menutup lubang pohon dengan lumpur dan meterial lain. Ia kemudian mengurung diri di lubang gelap yang sempit sambil mengerami telurnya. Jantan akan membantu menutup lubang dengan membiarkan sedikit celah sempit. Celah ini digunakan jantan untuk menyuplai makanan bagi betinanya. Pada beberapa spesiesnya, &amp;ldquo;beton&amp;rdquo; penutup lubang akan dibiarkan tertutup selama 100 hari (&amp;plusmn; 3 bulan). Setelah masa mengerami selesai dan anakan enggang telah lahir, betina bersama bayi-bayinya akan memecah tembok pelindung itu dan terbang keluar. Karena sistem perlindungan seperti ini, sarang-sarang Enggang cenderung terlindungi dari kemungkinan serangan predator dan hewan &amp;ldquo;pemburu&amp;rdquo; telur. Suara Suara enggang gading cukup keras/lantang dan bergema jauh saat musim kawin tiba. Mereka juga senang berkomunikasi antar satu kelompok dengan kelompok lain dari habitat yang berbeda dengan mengeluarkan suara melengking tinggi. A series of identical, loud, hollow took notes, gaining in speed before drawing to an amazing climax of maniacal laughter, tee poop notes. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008) Habitat Burung enggang gading menyukai habitat hutan yang lebat dengan banyak pohon buah-buahan. Burung enggang gading bertengger di pohon yang tinggi ( upper canopy) dengan ketinggian &amp;plusmn;1500 mdl. Burung enggang juga dapat hidup rukun dengan primata di sebuah pohon yang berbuah. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008) Persebaran Burung Enggang Gading persebarannya di hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatra serta Malaya Peninsula. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008). Ancaman kelestarian burung &amp;ndash; burung interior Kelestarian burung interior di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan diakibatkan oleh dua hal yakni berkurangnya habitat dan perburuan.&amp;nbsp; Perubahan tutupan hutan di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang utamanya akibat perkebunan kopi berdampak pada hilangnya jenis-jenis burung interior hutan sepertikuau, luntur, pergam, sempur dan jenis-jenis lain interior lainnya.&amp;nbsp; Selain hilangnya habitat, kelestarian burung interior khususnya rangkong diakibatkan oleh perburuan.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perburuan rangkong di TNBBS berdasarkan hasil keterangan petugas yang melakukan patroli terjadi pada beberapa lokasi.&amp;nbsp; Perburuan rangkong maupun tanda-tanda perburuan diketahui terjadi di daerahSukaraja, Suoh dan Makakau.&amp;nbsp; Padahal burung rangkong dikenal sebagai petani hutan yang artinya membantu proses regenerasi hutan melalui biji-biji tumbuhan yang dimakan dan biji yang tidak hancur dikeluarkan kembali melalui kotorannya.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 05:03:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10742</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10741/EVALUASI-PROGRAM-GEF-UNDP-KUNJUNGI-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10741</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10741&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>EVALUASI PROGRAM, GEF – UNDP KUNJUNGI TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10741/EVALUASI-PROGRAM-GEF-UNDP-KUNJUNGI-TNBBS.aspx</link> 
    <description>  Kotaagung, 22 Oktober 2017. Regional Technical Advisor (RTA) GEF-UNDP, PIU UNDP, PMU UNDP, Subdit KSDAE, dan Biro Kerjasama Luar Negeri-KLHK mengunjungi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, 20 &amp;ndash; 22 &amp;nbsp;Oktober 2017. Kunjungan ini bertujuan untuk mengetahui dan memberi feedback, evaluasi, atau masukan atas implementasi program GEF-UNDP yang berlangsung di TNBBS. Kegiatan kunjungan meliputi kegiatan pemaparan dan juga kunjungan lapangan ke beberapa site terkait program GEF-UNDP di TNBBS.   Tim GEF &amp;ndash; UNDP beserta rombongan diterima oleh Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiono di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung pada hari Jumat 20 Oktober 2017. Kemudian, dilakukan paparan mengenai tantangan pengelolaan kawasan TNBBS yang sedang dihadapi saat ini oleh Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TNBBS Ismanto, S.Hut,MP. Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke kantor WCS-IP Kotaagung. Firdaus Affandi (WCS-IP) Southern Sumatra Landscape Manager) dan Patih (WCS-IP Southern Sumatra Wildlife Crime UnitOfficer) melakukan paparan mengenai kemajuan implementasi program GEF-UNDP di TNBBS yang telah dilaksanakan oleh WCS-IP, diantaranya meliputi program RBM, patroli berbasis SMART, mitigasi konflik satwa liar, monitoring harimau sumatra, dan penegakan hukum terkait kasus kejahatan satwa liar. Pada tanggal 21-22 Oktober 2017, rombongan melakukan kunjungan lapangan ke beberapa site dengan didampingi oleh perwakilan TNBBS dan WCS-IP. Kunjungan lapangan pertama dilakukan ke Stasiun Penelitian Way Canguk. Dalam kegiatan kunjungan lapangan ini dilakukan pemaparan tentang kegiatan riset dan monitoring di Way Canguk, peninjauan langsung kegiatan riset dan monitoring yang dilakukan adalah cek sarang rangkong, siamang, dan arena kuau (argus dancing ground). Kunjungan lapangan kedua dilakukan ke Rhino Camp RPU-YABI. Tim dari RPU-YABI melakukan pemaparan profil kegiatan perlindungan badak sumatera di TNBBS. Kunjungan terakhir dilakukan ke salah satu desa dampingan mitigasi konflik satwa liar, yaitu Desa Margo Mulyo. Kunjunganini bertujuan untuk melakukan peninjauan langsung terhadap kandang anti serangan harimau (Tiger Proof Enclosure/TPE). Pihak GEF &amp;ndash; UNDP melalui Regional Technical&amp;nbsp; Advisor (RTA) menyatakan kunjungan lapang ini sangat positif dan bermanfaat dalam membagi informasi upaya konservasi dari tingkat lapang dan pengelola,&amp;nbsp; dan berharap agar kedepannya, program kerjasama yang telah berlangsung di TNBBS dapat berjalan dengan baik dan lancar.&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 05:01:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10741</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10740/WORKSHOP-PENGEMBANGAN-KEMITRAAN-PEMANFAATAN-GETAH-DAMAR-MATA-KUCING-PADA-ZONA-TRADISIONAL-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10740</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10740&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>WORKSHOP PENGEMBANGAN KEMITRAAN PEMANFAATAN GETAH DAMAR MATA KUCING PADA ZONA TRADISIONAL TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10740/WORKSHOP-PENGEMBANGAN-KEMITRAAN-PEMANFAATAN-GETAH-DAMAR-MATA-KUCING-PADA-ZONA-TRADISIONAL-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Liwa, 18 Oktober 2017. Balai Besar TNBBS menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kemitraan Pemanfaatan Getah Damar Mata Kucing Pada Zona Tradisional TNBBS, Rabu 18 Oktober 2017. Kegiatan diselenggarakan di Kantor Bidang Pengeloaan Taman Nasional (BPTN) II Liwa. Kepala BPTN II Liwa Amri, SH.,M.Hum mewakili Kepala Balai Besar TNBBS membuka acara workshop, menyampaikan bahwa kelestarian TNBBS sebagai kawasan konservasi merupakan tanggung jawab bersama. &amp;ldquo;Masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan kawasan TNBBS. Dalam kaitannya dengan zona tradisional, merupakan zona yang dialokasikan untuk mengakomodir aktifitas tradisional pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, seperti hal nya getah damar. Perlunya pemahaman masyarakat bahwa dalam pemanfaatan getah damar mata kucing, harus mengacu pada peraturan yang berlaku agar aktifitas menjadi legal&amp;rdquo;, papar Amri. Kegiatan workshop ini menghadirkan berbagai Narasumber, antara lain : -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kepala Seksi Bina Pemanfaatan Zona Tradisional Direktorat PIKA, memaparkan materi tentang Kebijakan dan Peraturan dalam Pemanfaatan Zona Tradisional; -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Subdit Pemanfaatan Kawasan Strategis, memaparkan materi tentang Kerjasama dalam penguatan fungsi Kawasan KSA dan KPA; -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Plh. Kepala Bidang Perencanaan Bappeda Kabupaten Lampung Barat, memaparkan materi tentang Peran Perencanaan Daerah Dalam Mendukung Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan, terkait Target Prioritas Nasional Pengembangan Wilayah; -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama Balai Besar TNBBS, memaparkan materi tentang Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Zona Tradisional TNBBS sebagai Role Model. &amp;nbsp; Acara ini diikuti oleh : Camat Way Krui; Camat Karya Punggawa; Unila Pili; WWF BBS Project; serta masyarakat sekitar kawasan TNBBS yang akan mengajukan izin pemanfaatan getah damar di zona tradisional TNBBS, yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Mandapalu dan KTH Damar Indah Jaya. &amp;ldquo;Pemanfaatan HHBK di zona tradisional TNBBS merupakan salah satu Role Model Balai Besar TNBBS, dari 4 Role Model yang telah disahkan oleh Bapak Dirjen KSDAE di Jakarta tanggal 27 September 2017 lalu. Dengan adanya izin pemanfaatan ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat&amp;rdquo;, kata Kasubbag Program dan Kerjasama Balai Besar TNBBS Siti Muksidah, S.Hut.,M.Sc. Dalam kegiatan ini juga dibahas mengenai penyusunan Perjanjian Kerjasama antara Balai Besar TNBBS dengan KTH Damar Indah Jaya. Substansi Perjanjian Kerjasama, Rencana Pelaksanaan Program dan Rencana Kerja Tahunan telah disepakati oleh Ketua KTH Damar Indah Jaya. &amp;ldquo;Masyarakat akan memberikan umpan balik kepada TNBBS dengan skema inkind, yang diwujudkan antara lain melalui kegiatan pemulihan ekosistem secara mandiri, berperan dalam menurunkan konflik dan gangguan terhadap kawasan, dan ikut berperan dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan. Saat ini, untuk penandatanganan Perjanjian Kerjasama, RPP dan RKT masih menunggu terbitnya surat persetujuan dari Dirjen KSDAE&amp;rdquo;, tambah Siti. &amp;nbsp; Hutan untuk kemakmuran rakyat, menuju pemanfaatan hutan secara arif dan bijaksana&amp;hellip; (KEHUMASAN BBTNBBS, Oktober 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:59:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10740</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10739/8-KELOMPOK-TERIMA-IZIN-PEMANFAATAN-AIR-DARI-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10739</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10739&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>8 KELOMPOK TERIMA IZIN PEMANFAATAN AIR DARI TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10739/8-KELOMPOK-TERIMA-IZIN-PEMANFAATAN-AIR-DARI-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Air Hitam, 19 Oktober 2017. Bertempat di Balai Pekon Sumber Alam Kecamatan Air Hitam Kabupaten Lampung Barat, Kepala BPTN II Liwa Amri, SH.,M.Hum menyerahkan 8 izin pemanfaatan air kepada perwakilan 8 kelompok masyarakat, 19 Oktober 2017. Turut hadir dalam acara ini antara lain Camat Air Hitam, Peratin (Kepala Desa) Sumber Alam, Sekdes Suka Damai, Kepala SPTN III Krui dan Kepala SPTN IV Bintuhan.  Izin Pemanfaatan Air Non Komersil tersebut diberikan pada 8 Kelompok Masyarakat, dengan rincian sebanyak 5 Kelompok dari Pekon (Desa) Sumber Alam Kecamatan Air Hitam dengan jumlah anggota sebanyak 170 KK; sebanyak 3 Kelompok dari Pekon Suka Damai Kecamatan Air Hitam dengan jumlah anggota 90 KK. Sebelumnya, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) telah memberikan izin pemanfaatan air non komersil pada 1 Kelompok dari Pekon Manggarai Kecamatan Air Hitam yang beranggotakan sebanyak 76 KK, dan 5 Kelompok Masyarakat di Pekon Tiga Jaya Kecamatan Sekincau Kabupaten Lampung Barat. Kepala BPTN II Liwa Amri, SH.,M.Hum mengatakan air merupakan salah satu potensi yang ada di kawasan TNBBS, yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menunjang kehidupan sehari &amp;ndash; hari baik untuk kebutuhan air bersih maupun energi, yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik rumah tangga. &amp;ldquo;Sebagaimana diketahui bersama, bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.64 tahun 2013 tentang pemanfaatan air dan energi air di Suaka Margasatwa dan Taman Nasional, bahwa kegiatan pemanfaatan air dan energi di TNBBS baik yang komersil maupun non komersil harus ada izin pemanfaatan airnya dari Kementerian LHK. Untuk yang non komersil, izin dapat diberikan oleh Balai Besar TNBBS&amp;rdquo;, ujar Amri. Pemberian izin pemanfaatan air non komersil pada kelompok masyarakat sekitar kawasan hutan TNBBS merupakan rangkaian / tahapan kegiatan yang dilakukan oleh Balai Besar TNBBS. Sebelumnya, petugas lapangan Balai Besar TNBBS melakukan pembinaan terhadap masyarakat dan melakukan sosialisasi, terkait pemanfaatan air non komersil oleh masyarakat. &amp;ldquo;Dengan diterimanya izin pemanfaatan air tersebut, kelompok berkomitmen untuk melakukan restorasi secara swadaya di sekitar areal pemanfaatan air dengan jenis tanaman endemik TNBBS, yaitu : bambu; medang; aren; kemiri; meranti dan pule. Luas yang akan direstorasi tersebut direncanakan sekitar 5 Ha/tahun pada masing &amp;ndash; masing Pekon&amp;rdquo;, kata Adhi Masturiatna, S.Hut yang merupakan Penyuluh Kehutanan pada BPTN II Liwa. &amp;nbsp; Kawasan TNBBS sebagai perlindungan tata air lingkungan untuk masyarakat&amp;hellip; &amp;nbsp;(KEHUMASAN BBTNBBS, Oktober 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:57:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10739</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10737/KAMI-CINTA-NKRI-DAN-PEDULI-KONSERVASI-KEHATI-AGAR-BADAK-TETAP-LESTARI.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10737</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10737&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>KAMI CINTA NKRI DAN PEDULI KONSERVASI KEHATI AGAR BADAK TETAP LESTARI</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10737/KAMI-CINTA-NKRI-DAN-PEDULI-KONSERVASI-KEHATI-AGAR-BADAK-TETAP-LESTARI.aspx</link> 
    <description>  Sukaraja, 24 September 2017. Pada tanggal 23 September 2017, berselang satu hari dari peringatan Hari Badak Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 September 2017, dilaksanakan kegiatan Pelantikan Purna Tugas Paskibraka Indonesia Kabupaten Tanggamus tahun 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Bumi Perkemahan Sukaraja Resort Sukaraja Atas SPTN I Sukaraja Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), tanggal 23 &amp;ndash; 24 September 2017.&amp;nbsp;Peserta yang berjumlah 71 orang, terdiri dari peserta pelantikan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kabupaten Tanggamus (32 orang); Pengurus Paskibra Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus (22 orang); Panitia serta Petugas Resort Sukaraja Atas (17 orang). Dalam kegiatan pelantikan ini disampaikan materi mengenai Tata Organisasi, Kepemimpinan serta Program Konservasi TNBBS. Untuk memupuk rasa kepedulian terhadap alam dan konservasi TNBBS, para peserta melaksanakan kegiatan penanaman bibit pohon jenis Kuyung/Damar Batu di lingkungan Bumi Perkemahan Sukaraja. Riyanto, S.Hut Penyuluh Kehutanan TNBBS menyampaikan, sehubungan dengan &amp;nbsp;waktu pelaksanaan kegiatan yang berdekatan dengan Hari Badak Sedunia, maka materi Program Konservasi TNBBS lebih menekankan pada Kelestarian Badak Sumatera di TNBBS. &amp;ldquo;Badak merupakan salah satu satwa kunci yang ada di TNBBS selain Harimau Sumatera dan Gajah Sumatera. TNBBS berkewajiban menjaga kelestarian Badak Sumatera dengan target pertambahan populasi minimal 2 % setiap tahunnya. Dengan cara mengkampanyekan program konservasi Badak Sumatera di lingkungan sekolah dan masyarakat, dapat menggugah rasa kepedulian akan kelestarian Badak Sumatera pada mereka. Apalagi pada kegiatan ini, yang berpartisipasi merupakan generasi muda penerus bangsa serta agen perubahan dalam masyarakat&amp;rdquo;, kata Riyanto yang akrab disapa Masri. &amp;ldquo;Banyak upaya yang telah dilakukan oleh penggiat konservasi Badak Sumatera untuk memeriahkan Hari Badak Sedunia yang dirayakan tanggal 22 September setiap tahunnya, kami di TNBBS berupaya ikut memeriahkan Hari Badak ini dengan melakukan penyadar tahuan tentang Konservasi Badak Sumatera di tempat ini. Semoga dengan upaya yang sederhana ini dan disertai hati yang tulus, dapat menimbulkan rasa memiliki pada masyarakat terhadap Badak Sumatera, khususnya di TNBBS. Sehingga masyarakat tidak lagi mengatakan Badak TNBBS, tetapi Badak Kita Bersama&amp;rdquo;, tambah Masri.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:55:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10737</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10738/KAMI-CINTA-NKRI-DAN-PEDULI-KONSERVASI-KEHATI-AGAR-BADAK-TETAP-LESTARI.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10738</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10738&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>KAMI CINTA NKRI DAN PEDULI KONSERVASI KEHATI AGAR BADAK TETAP LESTARI</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10738/KAMI-CINTA-NKRI-DAN-PEDULI-KONSERVASI-KEHATI-AGAR-BADAK-TETAP-LESTARI.aspx</link> 
    <description>  Sukaraja, 24 September 2017. Pada tanggal 23 September 2017, berselang satu hari dari peringatan Hari Badak Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 September 2017, dilaksanakan kegiatan Pelantikan Purna Tugas Paskibraka Indonesia Kabupaten Tanggamus tahun 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Bumi Perkemahan Sukaraja Resort Sukaraja Atas SPTN I Sukaraja Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), tanggal 23 &amp;ndash; 24 September 2017.&amp;nbsp;Peserta yang berjumlah 71 orang, terdiri dari peserta pelantikan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kabupaten Tanggamus (32 orang); Pengurus Paskibra Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus (22 orang); Panitia serta Petugas Resort Sukaraja Atas (17 orang). Dalam kegiatan pelantikan ini disampaikan materi mengenai Tata Organisasi, Kepemimpinan serta Program Konservasi TNBBS. Untuk memupuk rasa kepedulian terhadap alam dan konservasi TNBBS, para peserta melaksanakan kegiatan penanaman bibit pohon jenis Kuyung/Damar Batu di lingkungan Bumi Perkemahan Sukaraja. Riyanto, S.Hut Penyuluh Kehutanan TNBBS menyampaikan, sehubungan dengan &amp;nbsp;waktu pelaksanaan kegiatan yang berdekatan dengan Hari Badak Sedunia, maka materi Program Konservasi TNBBS lebih menekankan pada Kelestarian Badak Sumatera di TNBBS. &amp;ldquo;Badak merupakan salah satu satwa kunci yang ada di TNBBS selain Harimau Sumatera dan Gajah Sumatera. TNBBS berkewajiban menjaga kelestarian Badak Sumatera dengan target pertambahan populasi minimal 2 % setiap tahunnya. Dengan cara mengkampanyekan program konservasi Badak Sumatera di lingkungan sekolah dan masyarakat, dapat menggugah rasa kepedulian akan kelestarian Badak Sumatera pada mereka. Apalagi pada kegiatan ini, yang berpartisipasi merupakan generasi muda penerus bangsa serta agen perubahan dalam masyarakat&amp;rdquo;, kata Riyanto yang akrab disapa Masri. &amp;ldquo;Banyak upaya yang telah dilakukan oleh penggiat konservasi Badak Sumatera untuk memeriahkan Hari Badak Sedunia yang dirayakan tanggal 22 September setiap tahunnya, kami di TNBBS berupaya ikut memeriahkan Hari Badak ini dengan melakukan penyadar tahuan tentang Konservasi Badak Sumatera di tempat ini. Semoga dengan upaya yang sederhana ini dan disertai hati yang tulus, dapat menimbulkan rasa memiliki pada masyarakat terhadap Badak Sumatera, khususnya di TNBBS. Sehingga masyarakat tidak lagi mengatakan Badak TNBBS, tetapi Badak Kita Bersama&amp;rdquo;, tambah Masri.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:55:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10738</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10736/Setelah-Taman-Negara-Malaysia-Taman-Nasional-Bogani-Nani-Martabone-Studi-Banding-RBM-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10736</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10736&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Setelah Taman Negara Malaysia,  Taman Nasional Bogani Nani Martabone Studi Banding RBM TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10736/Setelah-Taman-Negara-Malaysia-Taman-Nasional-Bogani-Nani-Martabone-Studi-Banding-RBM-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Kotaagung, 28 September 2017. &amp;ldquo;Bulan Agustus lalu, kita kedatangan tamu dari Negara Malaysia, tepatnya dari Taman Negara Pahang dan Taman Negara Ramsar. Pada Bulan September ini, kita kembali kedatangan tamu dari Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Keduanya datang dengan tujuan yang sama, yakni mempelajari SMART Patrol yang telah dilaksanakan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Hal ini merupakan suatu hal yang membanggakan bagi kita (Balai Besar TNBBS red.), tetapi juga merupakan beban yang kita terima, karena kita dinilai oleh pihak luar telah baik dalam pelaksanaan SMART Patrol dalam mendukung RBM. Semoga hal ini dapat membuat kita semakin terpacu untuk berbuat lebih baik lagi, khususnya dalam pelaksanaan SMART Patrol mendukung RBM di TNBBS&amp;rsquo;, Ujar Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBBS Wasja, SH setelah melepas Tim TNBNW di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung. Sebagai salah satu taman nasional dengan proses implementasi SMART-RBM yang sudah berjalan dengan relative &amp;nbsp;baik, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menjadi salah satu contoh taman nasional tujuan studi banding dari UPT-UPT terkait, salah satunya adalah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). Studi banding TNBNW ke TNBBS ini bertujuan untuk mengetahui proses dan implementasi sistem SMART-RBM di TNBBS. WCS-IP selaku mitra TNBBS yang mendukung pelaksanaan sistem SMART-RBM di TNBBS dilibatkan untuk pendampingan dalam pelaksanaan studi banding kali ini. Pendampingan tersebut berupa pengambilan data patroli di tingkat resort dan pelatihan operator SMART. Studi banding yang dilaksanakan oleh TNBNW berlangsung pada tanggal 22-28 September 2017. Kegiatan studi banding dibagi menjadi dua tahapan, yaitu pengambilan data patroli di tingkat resort dan pelatihan operator SMART. Peserta studi banding meliputi pihak-pihak terkait dari TNBNW (tim lapangan, operator SMART, dsb) dan juga mitra TNBNW, yaitu E-PASS dan WCS-IP Sulawesi Program. Peserta studi banding berjumlah + 30 orang. Tahapan pelatihan pengambilan data lapangan patroli di tingkat resort dilaksanakan oleh tim lapangan TNBNW, didampingi oleh tim patroli SMART TNBBS dan WCS-IP. Pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari di wilayah Resort Sukaraja, SPTN wilayah I Semaka. Dalam pelaksanaan studi banding patroli kali ini, peserta terlihat sangat antusias. Hal ini terbukti dengan begitu semangatnya peserta dalam mengamati dan mencatat temuan-temuan selama patroli, serta diskusi tentang kondisi TNBBS saat ini. Setelah data lapangan diperoleh, tahapan kegiatan selanjutnya adalah pelatihan operator SMART. Tahapan ini diikuti oleh seluruh peserta dari TNBNW dan mitra TNBNW (E-PASS dan WCS-IP Sulawesi Program). Pelatihan operator SMART didampingi oleh SMART Database Officer WCS-IP BBS (Aan Apriyanto) dan SMART Coordinator WCS-IP BBS (Ari Sutopo) di kantor BPTN Wilayah I Sukaraja. Meskipun hanya dapat dilaksanakan dalam waktu singkat, kegiatan pelatihan operator SMART berjalan dengan baik dan lancar. Kegiatan studi banding diakhiri dengan presentasi hasil dari rekan-rekan TNBNW di kantor Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Rekan-rekan dari TNBNW mempresentasikan hasil studi banding yang telah dilakukan, baik saat pengambilan data patroli di lapangan maupun saat proses input data dan pelatihan operator SMART. Acara studi banding ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari TNBBS dan buku RBM di resort IPZ TNBBS.  &amp;nbsp; Experience is a good teacher. Sharring knowledge to be SMART for better wildlife management&amp;hellip; &amp;nbsp;(KEHUMASAN BBTNBBS, September 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:51:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10736</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10615/Empat-Role-Model-Balai-Besar-TNBBS-Disahkan-Dirjen-KSDAE.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10615</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10615&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Empat Role Model Balai Besar TNBBS Disahkan Dirjen KSDAE</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10615/Empat-Role-Model-Balai-Besar-TNBBS-Disahkan-Dirjen-KSDAE.aspx</link> 
    <description>  Jakarta 27 September 2017. Bersamaan dengan diselenggarakannya Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Bidang KSDAE tahun 2017 di Royal Kuningan Hotel Jakarta, Dirjen KSDAE Ir. Wiratno M.Sc menandatangani 4 Role Model Balai Besar TNBBS. Kegiatan Rakornis Bidang KSDAE tahun 2017 dilaksanakan tanggal 26 &amp;ndash; 28 September 2017. Pada kesempatan ini, Dirjen KSDAE kembali menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan role model serta koordinasi pada tingkat Pemerintah Daerah Setempat. &amp;ldquo; Role Model Balai Besar TNBBS telah ditetapkan, dan kita berkomitmen untuk melaksanakannya sesuai dengan arahan Bapak Dirjen KSDAE. Kegiatan ini akan dilaksanakan di tahun 2018, saya menghimbau agar seluruh jajaran Balai Besar TNBBS ikut berperan dalam mengsukseskan program ini sesuai dengan porsinya. Dukungan dan peran serta para mitra kerja TNBBS akan kita optimalkan, dengan mencermati program kerja mitra di tahun 2018 yang tertuang dalam RKT masing &amp;ndash; masing mitra&amp;rdquo;, ujar Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono. Role Model pengelolaan kawasan konservasi adalah suatu bagian pengelolaan kawasan konservasi yang dilaksanakan secara terencana, partisipatif, implementatif dan terukur, dibatasi waktu, yang prosesnya sampai kepada hasil capaiannya dapat menjadi contoh/referensi UPT lain lingkup Ditjen KSDAE dalam pengelolaan kawasan konservasi. Keempat Role Model Balai Besar TNBBS yang akan dilaksanakan adalah : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat (Community Based Ecotourism) Di Resort Suoh, SPTN III Krui, BPTN II Liwa; 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;ldquo;Intensive Searching Rescue&amp;rdquo; Badak Sumatera Yang Terdesak (Domed) Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Secara Kolaboratif Dan Sistematis; 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengembangan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (Damar Mata Kucing) Di Zona Pemanfaatan Tradisional Oleh Masyarakat Berbasis Multi Pihak (Stakeholders Collaboration) Di Resort Balai Kencana, SPTN Wilayah III Krui, BPTN Wilayah II Liwa; 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemulihan Ekosistem Berbasis Masyarakat (Community Based Restoration Program) Di Resort Ulu Belu Dan Suoh. &amp;nbsp; Pada Rakornis Bidang KSDAE tahun 2017 ini juga ditekankan pentingnya setiap UPT untuk memiliki Situation Room, yang merupakan kumpulan sumber data dan informasi yang terintegrasi dengan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi mutakhir. &amp;ldquo;Kebenaran data dan informasi yang ada pada Situation Room, akan dijadikan pertimbangan Kepala Balai dalam mengambil keputusan dan mencari solusi permasalahan di lapangan. Data yang Saudara sampaikan benar &amp;ndash; benar merupakan data yang diambil dengan turun ke lapangan, bukan berdasarkan perkiraan di atas meja&amp;rdquo;, kata Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc disaat memberikan arahan di depan para Wali Data UPT lingkup Ditjen KSDAE. &amp;nbsp; Data dan Informasi yang akurat dapat menuntun pada pengambilan keputusan yang tepat&amp;hellip; &amp;nbsp;(KEHUMASAN BBTNBBS, September 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Thu, 19 Oct 2017 06:39:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10615</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10608/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10608</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10608&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Ayo beraksi untuk badak</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10608/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx</link> 
    <description>Hari badak sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 September bertujuan untuk mengingatkan kepada kita bahwa saat ini terdapat 5 spesies badak di dunia yang perlu penanganan secara serius untuk mencegah dari kepunahan. Dua di antara spesies badak tersebut ada di Indonesia, yaitu badak sumatera dan badak jawa. Rhino Protection Unit Bukit Barisan Selatan (RPU BBS) sebagai mitra strategis Balai Besar Taman Nasonal Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Lampung mengadakan perayaan hari badak sedunia pada tanggal 24 September 2017 di Tugu Adipura Bandar Lampung dengan acara antara lain long march, kuis dengan pertanyaan tentang konservasi badak dan pembagian gantungan kunci serta sticker badak. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat Lampung mengenai pentingnya konservasi badak sumatera terutama yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Menjawab pertanyaan NATURA; media kampus mahasiswa jurusan Biologi Universitas Lampung, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan BBTNBBS yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa badak sumatera selain berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan juga ada di Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Gunung Leuser di Provinsi Aceh. Keberadaan badak sumatera merupakan salah satu indikator bahwa ekosistem hutan masih baik karena badak sumatera sensitive terhadap keberadaan manusia dan perubahan hutan. Selama ini masih ada persepsi yang salah di masyarakat mengenai kegunaan cula badak sumatera. Masih ada masyarakat yang menganggap cula badak sumatera dapat digunakan sebagai obat kuat atau penangkal racun, padahal pada kenyataannya cula badak tidak memiliki khasiat apapun. Bahan penyusun cula badak adalah keratin, merupakan bahan yang sama penyusun rambut manusia. Jumlah badak sumatera yang tersisa saat ini kurang dari 100 individu berdasarkan Population Viability Analysis tahun 2015 dan tersebar dibeberapa kantung populasi di Indonesia. Populasi badak yang berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berkisar antara Upaya konservasi badak sumatera harus dilakukan bersama antara pemerintah, NGO dan masyarakat internasional untuk mencegah badak sumatera dari kepunahan.&amp;nbsp; Saat ini Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memiliki beberapa upaya dalam konservasi badak sumatera, antara lain: 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Patroli rutin pengamanan kawasan TNBBS baik secara mandiri maupun bersama mitra TNBBS, 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Survey/monitoring secara rutin, 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menetapkan Intensive Protection Zone (areal pengamanan intensif) dan Intensive Monitoring Zone (areal pengamatan intensif) di TNBBS. 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembuatan penangkaran badak dengan system koridor. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peyadartahuan kepada masyarakat di sekitar kawasan mengenai satwa di lindungi.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 18 Oct 2017 01:43:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10608</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10609/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10609</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10609&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Ayo beraksi untuk badak</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10609/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx</link> 
    <description>Hari badak sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 September bertujuan untuk mengingatkan kepada kita bahwa saat ini terdapat 5 spesies badak di dunia yang perlu penanganan secara serius untuk mencegah dari kepunahan. Dua di antara spesies badak tersebut ada di Indonesia, yaitu badak sumatera dan badak jawa. Rhino Protection Unit Bukit Barisan Selatan (RPU BBS) sebagai mitra strategis Balai Besar Taman Nasonal Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Lampung mengadakan perayaan hari badak sedunia pada tanggal 24 September 2017 di Tugu Adipura Bandar Lampung dengan acara antara lain long march, kuis dengan pertanyaan tentang konservasi badak dan pembagian gantungan kunci serta sticker badak. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat Lampung mengenai pentingnya konservasi badak sumatera terutama yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Menjawab pertanyaan NATURA; media kampus mahasiswa jurusan Biologi Universitas Lampung, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan BBTNBBS yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa badak sumatera selain berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan juga ada di Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Gunung Leuser di Provinsi Aceh. Keberadaan badak sumatera merupakan salah satu indikator bahwa ekosistem hutan masih baik karena badak sumatera sensitive terhadap keberadaan manusia dan perubahan hutan. Selama ini masih ada persepsi yang salah di masyarakat mengenai kegunaan cula badak sumatera. Masih ada masyarakat yang menganggap cula badak sumatera dapat digunakan sebagai obat kuat atau penangkal racun, padahal pada kenyataannya cula badak tidak memiliki khasiat apapun. Bahan penyusun cula badak adalah keratin, merupakan bahan yang sama penyusun rambut manusia. Jumlah badak sumatera yang tersisa saat ini kurang dari 100 individu berdasarkan Population Viability Analysis tahun 2015 dan tersebar dibeberapa kantung populasi di Indonesia. Populasi badak yang berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berkisar antara Upaya konservasi badak sumatera harus dilakukan bersama antara pemerintah, NGO dan masyarakat internasional untuk mencegah badak sumatera dari kepunahan.&amp;nbsp; Saat ini Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memiliki beberapa upaya dalam konservasi badak sumatera, antara lain: 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Patroli rutin pengamanan kawasan TNBBS baik secara mandiri maupun bersama mitra TNBBS, 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Survey/monitoring secara rutin, 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menetapkan Intensive Protection Zone (areal pengamanan intensif) dan Intensive Monitoring Zone (areal pengamatan intensif) di TNBBS. 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembuatan penangkaran badak dengan system koridor. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peyadartahuan kepada masyarakat di sekitar kawasan mengenai satwa di lindungi.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 18 Oct 2017 01:43:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10609</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10610/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10610</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10610&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Ayo beraksi untuk badak</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10610/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx</link> 
    <description>Hari badak sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 September bertujuan untuk mengingatkan kepada kita bahwa saat ini terdapat 5 spesies badak di dunia yang perlu penanganan secara serius untuk mencegah dari kepunahan. Dua di antara spesies badak tersebut ada di Indonesia, yaitu badak sumatera dan badak jawa. Rhino Protection Unit Bukit Barisan Selatan (RPU BBS) sebagai mitra strategis Balai Besar Taman Nasonal Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Lampung mengadakan perayaan hari badak sedunia pada tanggal 24 September 2017 di Tugu Adipura Bandar Lampung dengan acara antara lain long march, kuis dengan pertanyaan tentang konservasi badak dan pembagian gantungan kunci serta sticker badak. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat Lampung mengenai pentingnya konservasi badak sumatera terutama yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Menjawab pertanyaan NATURA; media kampus mahasiswa jurusan Biologi Universitas Lampung, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan BBTNBBS yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa badak sumatera selain berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan juga ada di Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Gunung Leuser di Provinsi Aceh. Keberadaan badak sumatera merupakan salah satu indikator bahwa ekosistem hutan masih baik karena badak sumatera sensitive terhadap keberadaan manusia dan perubahan hutan. Selama ini masih ada persepsi yang salah di masyarakat mengenai kegunaan cula badak sumatera. Masih ada masyarakat yang menganggap cula badak sumatera dapat digunakan sebagai obat kuat atau penangkal racun, padahal pada kenyataannya cula badak tidak memiliki khasiat apapun. Bahan penyusun cula badak adalah keratin, merupakan bahan yang sama penyusun rambut manusia. Jumlah badak sumatera yang tersisa saat ini kurang dari 100 individu berdasarkan Population Viability Analysis tahun 2015 dan tersebar dibeberapa kantung populasi di Indonesia. Populasi badak yang berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berkisar antara Upaya konservasi badak sumatera harus dilakukan bersama antara pemerintah, NGO dan masyarakat internasional untuk mencegah badak sumatera dari kepunahan.&amp;nbsp; Saat ini Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memiliki beberapa upaya dalam konservasi badak sumatera, antara lain: 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Patroli rutin pengamanan kawasan TNBBS baik secara mandiri maupun bersama mitra TNBBS, 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Survey/monitoring secara rutin, 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menetapkan Intensive Protection Zone (areal pengamanan intensif) dan Intensive Monitoring Zone (areal pengamatan intensif) di TNBBS. 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembuatan penangkaran badak dengan system koridor. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peyadartahuan kepada masyarakat di sekitar kawasan mengenai satwa di lindungi.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 18 Oct 2017 01:43:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10610</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10596/Kami-Bangga-Praktek-Kerja-Lapang-di-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10596</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10596&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Kami Bangga Praktek Kerja Lapang di TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10596/Kami-Bangga-Praktek-Kerja-Lapang-di-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Kotaagung, 7 September 2017. Lima mahasiswa Kehutanan USU telah selesai melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan mulai satu bulan lalu tepatnya tanggal 8 Agustus 2017. Kepala Bidang Teknis Konservasi Ismanto, S.Hut,MP menuturkan hari ini (7 September 2017) merupakan hari terakhir PKL. Selanjutnya mohon perkenan Bapak Kepala Balai Besar untuk memberikan pengarahan akhir. Demikian Ismanto mengawali seremonial penutupan PKLmahasiswaKehutanan USU. Selanjutnya mereka mendapat pengarahan akhir dari Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono.  Dalam arahannya Kepala Balai Besar menyampaikan apresiasi serta meminta kesan dan pesan kepada kelima mahasiswa tersebut setelah praktek di TNBBS. &quot;Terimakasih sudah praktek di TNBBS semoga kegiatan di tempat kami menambah ilmu bagi kalian, ceritakan hal-hal yang baik kepada teman-teman di Medan dan melalui media sosial sebagai bagian promosi, untuk hal-hal yang kurang bagus sampaikan kepada kami untuk perbaikan, kami sangat terbuka untuk menerima masukan&quot; AgusWahyudiyonomengakhiriarahannya.  &amp;nbsp;  Kepala BBTNBBS memberikanarahankepadamahasiswa PKL dari USU. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Selanjutnya Raja SP Aritonang mewakili kelompok PKL mengungkapkan rasa bangga bisa praktek di TNBBS. &quot;Kami bangga pak bisa praktek disini, kami menuju ke sini dari Medan pertama karena TNBBS warisan dunia, potensi alam luar biasa, dan kami juga mendapat pelayanan yang baik, mulai dari pertama di kantor balai besar sampai kami di lapangan, petugas yang dilapangan juga mendampingi kami&quot; ungkap Raja. Sehari sebelumnya (Rabu, 6 September 2017) Koordinator PEH TNBBS Tri Sugiharti, S.Hut dan kelima mahasiswa sempat menjelaskan kegiatan yang dilakukan saat PKL. Menurut Tri, mereka mengawali kegiatan praktek dengan melaksanakan analisis vegetasi di Zona Tradisional Resort Balai Kencana. Kegiatan ini untuk melengkapi data tagging pohon damar yang sedang dilaksanakan BBTNBBS dan WWF di zona tersebut.  Tri menambahkan &quot;Selama praktek disana, mereka didampingi petugas resort dan WWF yang sedang melaksanakan kegiatan tagging pohon damar. Selain mahasiswa USU kegiatan tagging juga melibatkan mahasiswa magang dari UNILA&quot;. Usai melaksanakan kegiatan di Resort Balai Kencana, mereka melanjutkan kegiatan pengumpulan bahan informasi wisata alam di Kubu Perahu, Resort Balik Bukit. Ketua kelompok PKL RahadianYudho menceritakan kegiatannya disana. &quot;Kami didampingi petugas setempat dan Unit Pengelola Wisata Kubu Perahu. Selain berkunjung ke air terjun Sepapa Kiri dan wisata desa Kubu Perahu, kami juga sempat mengumpulkan informasi dari wisatawan yang sedang menikmati keindahan alam Kubu Perahu&quot;. &amp;nbsp; Usai dari Resor Balik Bukit, mahasiswa semester 7 itu pun melanjutkan kegiatan di Resort Sukaraja Atas. Di resort tersebut, mereka menceritakan mendapatkan pengalaman menarik menangani konflik satwa liar dengan manusia. &quot;Saat kami praktek disana, beberapa ekor gajah keluar kawasan TNBBS ke lahan warga di PekonMargomulyo Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus. Kami ikut petugas resort setempat bersama tim Wildlife Respons Unit WCS-IP serta warga menghalau gajah agar masuk kembali ke kawasan TNBBS, itu pengalaman yang sangat menarik bagi kami&quot; tutur Raja. Anggota praktek lainnya Heriyadi menambahkan &quot;kami juga mengumpulkan data sosek di PekonMargomulyo sekaligus sosialisasi ke warga untuk turut serta mencegah konflik satwa liar&quot;. Dan minum kopi Lampung gratis, canda Layla satu-satunya anggota perempuan dalam praktek tersebut. Didi yang juga ikut dalam kelompok PKL melengkapi cerita pengalaman praktek mereka di Resort SukarajaAtasdengan mengikuti SMART Patrol bersama petugas setempat dan WCS-IP.  Raja (kiri), Mahasiswa PKL mewawancaraianggotaFosumJasaWisataAlamJagadEndah Lestari, Suoh. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Di minggu akhir praktek, Tri menjelaskan mahasiswa juga melaksanakan praktek kerja di Resort Suoh, disana mereka berdiskusi dengan forum jasa wisata alam Jagad Endah Lestari terkait pengelolaan wisata di Suoh bersama masyarakat. &quot;Meskipun mereka dari Medan dan disana ada Danau Toba, mereka tetap menyatakan danau-danau di Suoh bagus, ada keramikan dan satu lagi potensi baru, masyarakat menyebutnya nirwana keramikan&quot; Tri menutup penjelasannya sembari mengutarakan rasa kagum kelima mahasiswa Kehutanan USU PKL di TNBBS. &amp;nbsp; Penulis :VivinAdiAnggoro, SST (PenyuluhKehutanan BBTNBBS)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 10 Oct 2017 01:50:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10596</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10595/PELANTIKAN-ANGGOTA-SAKA-WANABAKTI-PESISIR-BARAT-BINAAN-BALAI-BESAR-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10595</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10595&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>PELANTIKAN ANGGOTA SAKA WANABAKTI PESISIR BARAT  BINAAN BALAI BESAR TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10595/PELANTIKAN-ANGGOTA-SAKA-WANABAKTI-PESISIR-BARAT-BINAAN-BALAI-BESAR-TNBBS.aspx</link> 
    <description>BengkunatBelimbing, 10 September 2017. Sebanyak 33 orang Pramuka Penegak mengikuti kegiatan Perkemahan Pelantikan Anggota Baru Satuan Karya (Saka) Wanabakti Pesisir Barat di Bumi Perkemahan Resort Pemerihan, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kegiatan ini merupakan pelantikan pertama anggota Saka Wanabakti di Kabupaten Pesisir Barat. Seluruh peserta berasal dari pangkalan Gugus Depan SMA N 1 Pesisir Selatan. Selama ini mereka aktif mengikuti latihan rutin Saka Wanabakti yang dibina oleh SPTN Wilayah II, BPTN Wilayah I Semaka, Balai Besar TNBBS.  Perkemahan dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 8-10 September 2017. Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua KwarranBengkunat Belimbing, Tasiwan. Dihadapan para peserta, Tasiwan menyampaikan bahwa sebagai generasi muda, anggota Pramuka Saka Wanabakti bisa menjadi pelopor pelestarian hutan dan lingkungan. &amp;ldquo;Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan, meningkatkan kesadaran dan kepedulian dan peranserta generasi muda dalam pelestarian TNBBS&amp;rdquo; amanat Tasiwan sekaligus membuka kegiatan perkemahan. Riyanto, S.Hut salah satu Instruktur Saka Wanabakti TNBBS menjelaskan &amp;ldquo;Kegiatan ini melibatkan 104 orang terdiri dari peserta sebanyak 33 orang yang aktif mengikuti kegiatan latihan, panitia sebanyak 35 orang dari TNBBS, mitra (WCS-IP, RPU YABI, Konsorsium UNILA PILI) dan DKS Semaka, serta 2 orang dari PuskesmasBengkunat Belimbing. Kesuksesan perkemahan ini juga tidak terlepas dari peranserta 24 orang dari kakak-kakak Pramuka Saka Wanabakti Lampung Barat, KwarranKotaagung Barat dan Gugus Depan SMA Bhakti MulyaSuoh. Selain itu juga dihadiri 10 anggota pramuka KwarranBengkunat Belimbing&amp;rdquo;.  Pesertamencatatmateripengenalanjenispohon yang disampaikanoleh Rahman dari WCS-IP (mengenakankaoshitam). Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Melalui kegiatan Perjusami (perkemahanJum&amp;aacute;t Sabtu Minggu, red.) peserta juga mendapat materi sebelum dikukuhkan menjadi anggota. Untuk kelas XI peserta mendapat materi danberbagipengalamantentang peran generasi muda dalam pelestarian TNBBS dari Kepala SPTN Wilayah II Bengkunat Jimmy Fonda, S.H, SunarniWidyastuti (Konsorsium UNILA PILI), Edi Edwar (Koperasi Pakor Makmur), danUjang Suryadi (KwarranKotaagung Barat). Materi lainnya yaitu tentang Revitalisasi GerakanPramuka oleh Supri (KwarranKotagung Barat, Krida Saka Wanabakti oleh Vivin Adi Anggoro, SST; perlindungan dan pelestarian Badak Sumatera oleh RPU YABI; pengenalan jenis satwa dan tumbuhan oleh WCS-IP, pengenalan alat navigasi dan praktek penggunaan GPS oleh WWF; serta melaksanakan praktek pengenalan jenis tumbuhan di sekitar bumi perkemahan. Sementara untuk peserta dari kelas XII, mereka mendapat materi tentang kegiatan penelitian di Stasiun Penelitian Way Canguk Resort Pemerihan.Mereka juga melaksanakan kegiatan penjelajahan ke Way Canguk sekaligus praktek pengenalan jenis tumbuhan dan pengamatan satwa selama penjelajahan. Selain materi terkait konservasi, pelestarian hutan dan kesakaan. Seluruh peserta juga dikenalkan packing perlengkapan pribadi untuk penjelajahan/patroli/monitoring satwa dan praktek penanaman di sekitar bumi perkemahan. &amp;ldquo;Setelah melalui berbagai proses uji mental dan watak kepribadian, serta kecakapan pemahaman tentang Saka Wanabakti, materi terkait konservasi dan pelestarian hutan, sebanyak 33 orang dilantik menjadi anggota Saka Wanabakti. Seluruhnya telah mendapat nama rimba yang berasal dari spesies tumbuhan obat di TNBBS&amp;rdquo; ungkap Riyanto.  Pengukuhan anggota dilaksanakan sekaligus dalam upacara penutupan perkemahan. Pada kesempatan tersebut, Jimmy Fonda selaku Pimpinan Saka Wanabakti Pesisir Barat menyematkan badge Saka Wanabakti kepada perwakilan putra dan putri, sementara Tasiwan bertindak sebagai Pembina Upacara. Dalam amanatnya, sebelum menutup perkemahanTasiwan menyampaikan rasa bangga, di KwarranBangkunat Belimbing telah ada Bumi Perkemahanbaru yang lokasinya di TNBBS dan lebih semangat untuk membina Pramuka.   Jimmy Fonda, SH (Kepala SPTN Wilayah II Bengkunat) selakuPimpinan Saka WanabaktiPesisirBarat&amp;nbsp; menyematkan badge kepadaperwakilananggota Saka Wanabakti yang dikukuhkan. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; &amp;ldquo;Kalian patut bersyukur telah dibina oleh Balai Besar TNBBS. Dengan adanya Saka Wanabakti kita berharap kegiatan Pramuka di sini semakin berkembang. Kami minta setelah ini terus aktif dan mengembangkan Saka Wanabakti bukan sekedar mengenakan bagde, tetapi lebih bertanggung jawab atas apa yang telah adik-adik kenakan&amp;rdquo;. Tasiwanmeyampaikan amanat sekaligus menutup perkemahan. Dalam kesempatan tersebut, Ka Kwarran juga menaman bibit pohon pulai di Bumi Perkemahan. SALAM PRAMUKA &amp;nbsp;(Penulis :VivinAdiAnggoro, SST (PenyuluhKehutanan BBTNBBS)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 10 Oct 2017 01:46:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10595</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10594/PENINGKATAN-KAPASITAS-MASYARAKAT-MITRA-POLHUT-MMP-BALAI-BESAR-TAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10594</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10594&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT MITRA POLHUT (MMP) BALAI BESAR TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10594/PENINGKATAN-KAPASITAS-MASYARAKAT-MITRA-POLHUT-MMP-BALAI-BESAR-TAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx</link> 
    <description>Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan kawasan pelestarian alam memiliki keanekaragaman jenis hayati (biodiversity) yang sangat tinggi baik flora maupun fauna dan keindahan alamnya.Kelestarian dari kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) sebagai situs warisan dunia (world heritage site) merupakan tanggung jawab seluruh pihak, bukan hanya pihak pengelola saja melainkan merupakan tangungjawab seluruh lapisan masyarakat.  Perlindungan dan pengamanan kawasan hutan di TNBBS dilakukan oleh Polisi Kehutanan. Akan tetapi keberadaan Polhut yang bertugas di TNBBS tidak sebanding kuantitasnya dengan luas areal hutan yang harus dilindungi, yaitu sebanyak 37 orang Polhut harus melindungi area TNBBS seluas 313.572,48 ha. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pelibatan masyarakat dalam hal perlindungan dan pengamanan kawasan TNBBS dalam patroli partisipatif, sosialisasi, dan penyebarluasan informasi mengenai arti penting kawasan TNBBS.Anggota masyarakat yang peduli terhadap kawasan TNBBS tersebut telah ditetapkan dalam organisasi Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) lingkup TNBBS sesuai Keputusan Kepala Balai Besar TNBBS Nomor : SK.06/T.7/TU/PEG/1/2017 tanggal 3 Januari 2017. Seiring dengan semakin kompleksnya tekanan terhadap kawasan hutan dan permasalahan perlindungan dan keamanan kawasan, maka dipandang perlu dilakukan peningkatan kapasitas Masyarakat Mitra Polhut. Kegiatan Pembinaan/ Peningkatan Kapasitas Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, wawasan dan keterampilan masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Balai Besar TNBBS serta meningkatkan etos kerja personil MMP dalam mendukung perlindungan dan pengamanan kawasan TNBBS sebagai benteng terakhir kawasan konservasi.  Pembinaan MMP perlu dilakukan secara kontinyu dan berkala untuk terus memotivasi MMP dalam melaksanakan tugas dan menanamkan jiwa rimbawan/konservasi, sehingga memahami dasar pelaksanaan tugas. Di samping itu, penguatan kapasitas dan peningkatan keterampilan perlu terus dilakukan dengan penyampaian materi yang bervariasi dan up to date untuk menjadi bekal dalam pelaksanaan tugas MMP dilapangan. Kegiatan peningkatan kapasitas MMP dilaksanakan selama 3 (tiga) haripada tanggal 30 Juli &amp;ndash; 1 Agustus 2017 di Hotel Gisting, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Peserta kegiatan Pembinaan MMP adalah anggota MMP di Balai Besar TNBBS yang berasal dari 17 (tujuh belas) resort, dimana masing-masing resort memiliki tenaga MMP sebanyak 5 (lima) orang pesonil. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Ir. Timbul Batubara, M.Si. Kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian materi dan praktik dalam upaya peningkatan kapasitas MMP BBTNBBS.  Gambar 1. Pembukaan acara Pembinaan MMP oleh Kepala Balai Besar TNBBS. Materi yang disampaikan meliputi materi-materi dan praktik yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas sehari-hari MMP. Metode yang digunakan dalam menyampaikan materi dilakukan melalui pemaparan/ceramah, diskusi, dan praktik di areal lokasi pelaksanaan kegiatan.&amp;nbsp; Materi-materi yang disampaikan, yaitu : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PengelolaanKawasanKonservasi di TN Bukit Barisan Selatan yang disampaikanolehKepalaBidangPengelolaan TN Wilayah I Semaka, (Ir. Maryanto) 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KebijakanPeraturanPerundang-undanganterkait MMP yang disampaikanolehKepalaBagian Tata Usaha (Wasja, S.H.) 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KonservasiSumberDayaAlamdanEkosistem yang disampaikanolehKepalaBidangTeknisKonservasi TN (Ismanto, S.Hut, M.P) 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KesamaptaandenganinstrukturKepalaBidangPengelolaan TN Wilayah II Liwa (LukitaAwangNistyantara, S.Hut, M.Si) 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; TeknikDasarBeladiridenganinstruktur yang berasaldari INKADO Provinsi Lampung 6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jurus Karate denganinstruktur yang berasaldari INKADO Provinsi Lampung 7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; OlahragadenganinstrukturKepalaBidangPengelolaan TN Wilayah II Liwa (LukitaAwangNistyantara, S.Hut, M.Si) &amp;nbsp;  Gambar 2. Peserta MMP mengikuti praktik beladiri. Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti acara dengan antusias, baik pada saat pelaksanaan praktik maupun penyampaian materi di dalam ruangan. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama kegiatan berlangsung, khususnya pada sesi diskusi dan tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan meliputi solusi dari kendala dan permasalahan yang ditemukan ketika bertugas di lapangan. Serta peserta juga menyampaikan harapan-harapan ke depan mengenai pengelolaan kawasan dan keterlibatan MMP di dalamnya. Ketika pelaksanaan praktik, baik olahraga, kesamaptaan, maupun beladiri, para pesertasemangat berbaris dan mengikuti arahan instruktur dengan baik dan bersungguh-sungguh.  Gambar 3. Olahraga pagi yang dipimpin oleh instruktur Kepala Bidang Pengelolaan TN Wilayah II Liwa.  &amp;nbsp; Peserta diberikan personal use berupa kaos lapangan lengan panjang dan topi rimba serta seperangkat alat tulis. Peserta terlihat antusias ketika diberikan perlengkapan tersebut, karena selain berguna dalam pelaksanaan kegiatan MMP, personal use tersebut juga bermanfaat untuk mendukung pelaksanakan tugas sehari-hari di lapangan. Selain itu, peserta juga diberikan sertifikat dalam partisipasinya di kegiatan Pembinaan MMP, yaitu sebagai bentuk penghargaan telah mengikuti kegiatan Pembinaan MMP dengan baik. (Oleh : Intannia Ekanasty, S.Hut)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 10 Oct 2017 00:40:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10594</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10593/PELANTIKAN-ANGGOTA-SAKA-WANABAKTI-PESISIR-BARAT-BINAAN-BALAI-BESAR-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10593</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10593&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>PELANTIKAN ANGGOTA SAKA WANABAKTI PESISIR BARAT  BINAAN BALAI BESAR TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10593/PELANTIKAN-ANGGOTA-SAKA-WANABAKTI-PESISIR-BARAT-BINAAN-BALAI-BESAR-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Fotobersamausaipengukuhananggota Saka WanabaktiPesisir Barat. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; BengkunatBelimbing, 10 September 2017. Sebanyak 33 orang Pramuka Penegak mengikuti kegiatan Perkemahan Pelantikan Anggota Baru Satuan Karya (Saka) Wanabakti Pesisir Barat di Bumi Perkemahan Resort Pemerihan, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kegiatan ini merupakan pelantikan pertama anggota Saka Wanabakti di Kabupaten Pesisir Barat. Seluruh peserta berasal dari pangkalan Gugus Depan SMA N 1 Pesisir Selatan. Selama ini mereka aktif mengikuti latihan rutin Saka Wanabakti yang dibina oleh SPTN Wilayah II, BPTN Wilayah I Semaka, Balai Besar TNBBS.  Perkemahan dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 8-10 September 2017. Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua KwarranBengkunat Belimbing, Tasiwan. Dihadapan para peserta, Tasiwan menyampaikan bahwa sebagai generasi muda, anggota Pramuka Saka Wanabakti bisa menjadi pelopor pelestarian hutan dan lingkungan. &amp;ldquo;Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan, meningkatkan kesadaran dan kepedulian dan peranserta generasi muda dalam pelestarian TNBBS&amp;rdquo; amanat Tasiwan sekaligus membuka kegiatan perkemahan. Riyanto, S.Hut salah satu Instruktur Saka Wanabakti TNBBS menjelaskan &amp;ldquo;Kegiatan ini melibatkan 104 orang terdiri dari peserta sebanyak 33 orang yang aktif mengikuti kegiatan latihan, panitia sebanyak 35 orang dari TNBBS, mitra (WCS-IP, RPU YABI, Konsorsium UNILA PILI) dan DKS Semaka, serta 2 orang dari PuskesmasBengkunat Belimbing. Kesuksesan perkemahan ini juga tidak terlepas dari peranserta 24 orang dari kakak-kakak Pramuka Saka Wanabakti Lampung Barat, KwarranKotaagung Barat dan Gugus Depan SMA Bhakti MulyaSuoh. Selain itu juga dihadiri 10 anggota pramuka KwarranBengkunat Belimbing&amp;rdquo;.  Pesertamencatatmateripengenalanjenispohon yang disampaikanoleh Rahman dari WCS-IP (mengenakankaoshitam). Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Melalui kegiatan Perjusami (perkemahanJum&amp;aacute;t Sabtu Minggu, red.) peserta juga mendapat materi sebelum dikukuhkan menjadi anggota. Untuk kelas XI peserta mendapat materi danberbagipengalamantentang peran generasi muda dalam pelestarian TNBBS dari Kepala SPTN Wilayah II Bengkunat Jimmy Fonda, S.H, SunarniWidyastuti (Konsorsium UNILA PILI), Edi Edwar (Koperasi Pakor Makmur), danUjang Suryadi (KwarranKotaagung Barat). Materi lainnya yaitu tentang Revitalisasi GerakanPramuka oleh Supri (KwarranKotagung Barat, Krida Saka Wanabakti oleh Vivin Adi Anggoro, SST; perlindungan dan pelestarian Badak Sumatera oleh RPU YABI; pengenalan jenis satwa dan tumbuhan oleh WCS-IP, pengenalan alat navigasi dan praktek penggunaan GPS oleh WWF; serta melaksanakan praktek pengenalan jenis tumbuhan di sekitar bumi perkemahan. Sementara untuk peserta dari kelas XII, mereka mendapat materi tentang kegiatan penelitian di Stasiun Penelitian Way Canguk Resort Pemerihan.Mereka juga melaksanakan kegiatan penjelajahan ke Way Canguk sekaligus praktek pengenalan jenis tumbuhan dan pengamatan satwa selama penjelajahan. Selain materi terkait konservasi, pelestarian hutan dan kesakaan. Seluruh peserta juga dikenalkan packing perlengkapan pribadi untuk penjelajahan/patroli/monitoring satwa dan praktek penanaman di sekitar bumi perkemahan. &amp;ldquo;Setelah melalui berbagai proses uji mental dan watak kepribadian, serta kecakapan pemahaman tentang Saka Wanabakti, materi terkait konservasi dan pelestarian hutan, sebanyak 33 orang dilantik menjadi anggota Saka Wanabakti. Seluruhnya telah mendapat nama rimba yang berasal dari spesies tumbuhan obat di TNBBS&amp;rdquo; ungkap Riyanto.  Pengukuhan anggota dilaksanakan sekaligus dalam upacara penutupan perkemahan. Pada kesempatan tersebut, Jimmy Fonda selaku Pimpinan Saka Wanabakti Pesisir Barat menyematkan badge Saka Wanabakti kepada perwakilan putra dan putri, sementara Tasiwan bertindak sebagai Pembina Upacara. Dalam amanatnya, sebelum menutup perkemahanTasiwan menyampaikan rasa bangga, di KwarranBangkunat Belimbing telah ada Bumi Perkemahanbaru yang lokasinya di TNBBS dan lebih semangat untuk membina Pramuka.   Jimmy Fonda, SH (Kepala SPTN Wilayah II Bengkunat) selakuPimpinan Saka WanabaktiPesisirBarat&amp;nbsp; menyematkan badge kepadaperwakilananggota Saka Wanabakti yang dikukuhkan. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; &amp;ldquo;Kalian patut bersyukur telah dibina oleh Balai Besar TNBBS. Dengan adanya Saka Wanabakti kita berharap kegiatan Pramuka di sini semakin berkembang. Kami minta setelah ini terus aktif dan mengembangkan Saka Wanabakti bukan sekedar mengenakan bagde, tetapi lebih bertanggung jawab atas apa yang telah adik-adik kenakan&amp;rdquo;. Tasiwanmeyampaikan amanat sekaligus menutup perkemahan. Dalam kesempatan tersebut, Ka Kwarran juga menaman bibit pohon pulai di Bumi Perkemahan. SALAM PRAMUKA &amp;nbsp; Penulis :VivinAdiAnggoro, SST (PenyuluhKehutanan BBTNBBS)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 07 Oct 2017 10:44:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10593</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10592/Kami-Bangga-Praktek-Kerja-Lapang-di-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10592</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10592&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Kami Bangga Praktek Kerja Lapang di TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10592/Kami-Bangga-Praktek-Kerja-Lapang-di-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Kepala BBTNBBS (empatdarikanan) didampingiKepalaBidangTeknisKonservasidanKoordinator PEH (kanan) fotobersamadenganmahasiswa PKL dari USU. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Kotaagung, 7 September 2017. Lima mahasiswa Kehutanan USU telah selesai melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan mulai satu bulan lalu tepatnya tanggal 8 Agustus 2017. Kepala Bidang Teknis Konservasi Ismanto, S.Hut,MP menuturkan hari ini (7 September 2017) merupakan hari terakhir PKL. Selanjutnya mohon perkenan Bapak Kepala Balai Besar untuk memberikan pengarahan akhir. Demikian Ismanto mengawali seremonial penutupan PKLmahasiswaKehutanan USU. Selanjutnya mereka mendapat pengarahan akhir dari Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono.  Dalam arahannya Kepala Balai Besar menyampaikan apresiasi serta meminta kesan dan pesan kepada kelima mahasiswa tersebut setelah praktek di TNBBS. &quot;Terimakasih sudah praktek di TNBBS semoga kegiatan di tempat kami menambah ilmu bagi kalian, ceritakan hal-hal yang baik kepada teman-teman di Medan dan melalui media sosial sebagai bagian promosi, untuk hal-hal yang kurang bagus sampaikan kepada kami untuk perbaikan, kami sangat terbuka untuk menerima masukan&quot; AgusWahyudiyonomengakhiriarahannya.  &amp;nbsp;  Kepala BBTNBBS memberikanarahankepadamahasiswa PKL dari USU. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Selanjutnya Raja SP Aritonang mewakili kelompok PKL mengungkapkan rasa bangga bisa praktek di TNBBS. &quot;Kami bangga pak bisa praktek disini, kami menuju ke sini dari Medan pertama karena TNBBS warisan dunia, potensi alam luar biasa, dan kami juga mendapat pelayanan yang baik, mulai dari pertama di kantor balai besar sampai kami di lapangan, petugas yang dilapangan juga mendampingi kami&quot; ungkap Raja. Sehari sebelumnya (Rabu, 6 September 2017) Koordinator PEH TNBBS Tri Sugiharti, S.Hut dan kelima mahasiswa sempat menjelaskan kegiatan yang dilakukan saat PKL. Menurut Tri, mereka mengawali kegiatan praktek dengan melaksanakan analisis vegetasi di Zona Tradisional Resort Balai Kencana. Kegiatan ini untuk melengkapi data tagging pohon damar yang sedang dilaksanakan BBTNBBS dan WWF di zona tersebut.  Tri menambahkan &quot;Selama praktek disana, mereka didampingi petugas resort dan WWF yang sedang melaksanakan kegiatan tagging pohon damar. Selain mahasiswa USU kegiatan tagging juga melibatkan mahasiswa magang dari UNILA&quot;. Usai melaksanakan kegiatan di Resort Balai Kencana, mereka melanjutkan kegiatan pengumpulan bahan informasi wisata alam di Kubu Perahu, Resort Balik Bukit. Ketua kelompok PKL RahadianYudho menceritakan kegiatannya disana. &quot;Kami didampingi petugas setempat dan Unit Pengelola Wisata Kubu Perahu. Selain berkunjung ke air terjun Sepapa Kiri dan wisata desa Kubu Perahu, kami juga sempat mengumpulkan informasi dari wisatawan yang sedang menikmati keindahan alam Kubu Perahu&quot;. &amp;nbsp; Usai dari Resor Balik Bukit, mahasiswa semester 7 itu pun melanjutkan kegiatan di Resort Sukaraja Atas. Di resort tersebut, mereka menceritakan mendapatkan pengalaman menarik menangani konflik satwa liar dengan manusia. &quot;Saat kami praktek disana, beberapa ekor gajah keluar kawasan TNBBS ke lahan warga di PekonMargomulyo Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus. Kami ikut petugas resort setempat bersama tim Wildlife Respons Unit WCS-IP serta warga menghalau gajah agar masuk kembali ke kawasan TNBBS, itu pengalaman yang sangat menarik bagi kami&quot; tutur Raja. Anggota praktek lainnya Heriyadi menambahkan &quot;kami juga mengumpulkan data sosek di PekonMargomulyo sekaligus sosialisasi ke warga untuk turut serta mencegah konflik satwa liar&quot;. Dan minum kopi Lampung gratis, canda Layla satu-satunya anggota perempuan dalam praktek tersebut. Didi yang juga ikut dalam kelompok PKL melengkapi cerita pengalaman praktek mereka di Resort SukarajaAtasdengan mengikuti SMART Patrol bersama petugas setempat dan WCS-IP.  Raja (kiri), Mahasiswa PKL mewawancaraianggotaFosumJasaWisataAlamJagadEndah Lestari, Suoh. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Di minggu akhir praktek, Tri menjelaskan mahasiswa juga melaksanakan praktek kerja di Resort Suoh, disana mereka berdiskusi dengan forum jasa wisata alam Jagad Endah Lestari terkait pengelolaan wisata di Suoh bersama masyarakat. &quot;Meskipun mereka dari Medan dan disana ada Danau Toba, mereka tetap menyatakan danau-danau di Suoh bagus, ada keramikan dan satu lagi potensi baru, masyarakat menyebutnya nirwana keramikan&quot; Tri menutup penjelasannya sembari mengutarakan rasa kagum kelima mahasiswa Kehutanan USU PKL di TNBBS. &amp;nbsp; Penulis :VivinAdiAnggoro, SST (PenyuluhKehutanan BBTNBBS)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 07 Oct 2017 10:42:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10592</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10591/RADEN-ANDIK-JELAJAH-NEGERI-KAMPANYE-KONSERVASI.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10591</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10591&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>RADEN ANDIK : “JELAJAH NEGERI KAMPANYE KONSERVASI”</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10591/RADEN-ANDIK-JELAJAH-NEGERI-KAMPANYE-KONSERVASI.aspx</link> 
    <description>Kotaagung 6 Juni 2017. Raden Andik Jaya Prawira yang akrab disapa &amp;ldquo;Kang Andik&amp;rdquo; tiba di Kantor Balai Besar TNBBS pukul 16.05 WIB, didampingi oleh petugas lapangan Balai Besar TNBBS dan Komunitas Sepeda santai Kotaagung. Kang Andik sebagai &amp;ldquo;Duta Lingkungan Perwira Rimba&amp;rdquo; mengawali perjalanannya bersepeda mengelilingi Indonesia sejak 16 September 2014 dari Banten.  &amp;nbsp;&amp;ldquo;Sebelum saya sampai di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung, saya melewati kawasan TNBBS dan menikmati kesejukan udaranya, dan mampir dulu di Kubuperahu&amp;rdquo;, papar Kang Andik pada Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Timbul batubara, M.Si. Pada kesempatan ini, Kepala Balai Besar TNBBS menyampaikan Piagam Penghargaan yang dianugerahkan kepada Kang Andik. &amp;ldquo;Penghargaan ini diberikan pada Duta Lingkungan Perwira Rimba, atas kegiatan Jelajah Sepeda Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Pada Tanggal 4 Sampai Dengan 6 Juni 2017, Sebagai Rangkaian Perjalanan Bersepeda Keliling Indonesia, Dalam Rangka Kampanye Pelestarian Hutan dan Lingkungan Hidup, Yang Dilaksanakan Mulai September 2014 Sampai Dengan Juni 2017&amp;rdquo;, tambah Ir. Timbul Batubara yang mengutip isi dari piagam penghargaan yang akan diberikan. &amp;nbsp; Kunjungan Kang Andik di TNBBS, dapat dikatakan sebagai rangkaian penutup, karena merupakan bagian akhir dari rangkaian perjalannya keliling Indonesia dengan bersepeda. &amp;ldquo;Pengalaman unik dalam perjalanannya lintas pulau keliling Indonesai adalah berhasil singgah di 4 sudut NKRI, yaitu sabang (16 Desember 2016); Merauke (26 Mei 2016); Rote (26 September 2015) dan Miangas&amp;rdquo;, ujar Kang Andik. &amp;ldquo;Tugas kita sebagai rimbawan sejati adalah tetap menjaga dan melestarikan hutan kita, walaupun&amp;nbsp; sudah pensiun, yang pensiun adalah jabatan dan tugas, tetapi semangat rimbawan harus tetap dijaga dan dipelihara, dan peduli menjaga kelestarian hutan&amp;rdquo;, papar Kang Andik dengan mantap. &amp;ldquo;Dalam keseluruhan perjalanan yang telah ditempuh, Kang Andik tak mau menginap di hotel, dan lebih memilih menginap di rumah alumni SKMA, atau tempat usaha alumni SKMA. Makan dan minum selalu disiapkan oleh alumni di daerah yang dikunjunginya&amp;rdquo;, jelas Kang Andik pada Humas Balai Besar TNBBS. Akhir dari perjalanan mengelilingi Indonesia, Kang Andik akan menerbitkan sebuah buku kisah perjalanannya dengan judul &amp;ldquo;Alumni SKMA Dan Rimbawan Ada Dimana &amp;ndash; Mana&amp;rdquo;, yang merupakan bagian dari proyek membangun Museum Perjalanan Andik SKMA 1964 Lintas Pulau Keliling Indonesia di Bandung.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 07 Oct 2017 10:13:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10591</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10590/Masyarakat-Sebagai-Solusi-Pelaksanaan-Program-Konservasi-Untuk-TNBBS-Lestari.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10590</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10590&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Masyarakat Sebagai Solusi  Pelaksanaan Program Konservasi  Untuk TNBBS Lestari</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10590/Masyarakat-Sebagai-Solusi-Pelaksanaan-Program-Konservasi-Untuk-TNBBS-Lestari.aspx</link> 
    <description>    &amp;ldquo;Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan tekanan dan permasalahan yang tidaklah kecil dan sederhana, memerlukan koordinasi dan kerjasama dengan seluruh stakeholder maupun NGO, serta berkolaborasi dengan masyarakat setempat. TNBBS merupakan Taman Nasional yang strategis, selain karena potensi biodiversity yang tinggi, juga sudah menjadi sorotan masyarakat dunia, karena TNBBS termasuk dalam Situs Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatera&amp;rdquo;. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE Ir. Herry Subagiadi, M.Sc, disaat menghadiri Acara Serah Terima Jabatan dan Lepas Sambut Kepala Balai Besar TNBBS, dari Ir. Timbul Batubara, M.Si kepada Ir. Agus Wahyudiyono di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung. Hal senada juga disampaikan oleh Ir. Agus Wahyudiyono, sebagai Kepala Balai Besar TNBBS yang baru. &amp;ldquo;Kita menyadari keterbatasan yang kita miliki, dan mengharapkan dukungan dari semua pihak, dalam mengemban amanat konservasi di TNBBS. Peran serta masyarakat akan kita kedepankan, sehingga masyarakat dapat merasakan nilai manfaat keberadaan kawasan TNBBS, Akses masyarakat akan kita berikan pada kawasan TNBBS, sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku. Arahan dari Pak Dirjen KSDAE agar kita kembali ke lapangan, merangkul masyarakat dalam mengsukseskan program konservasi keanekaragaman hayati TNBBS&amp;rdquo;, kata Ir. Agus Wahyudiyono.  &amp;ldquo;Saya mengharapkan Kepala Balai Besar TNBBS yang baru (Agus Wahyudiyono red.), dapat melanjutkan program &amp;ndash; program Konservasi TNBBS dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan, karena merekalah ujung tombak konservasi TNBBS. Sudah ada 33 Izin Pemanfaatan Air dan Wisata Alam yang diberikan TNBBS kepada masyarakat sekitar kawasan TNBBS, dan saya berharap agar terus dikembangkan&amp;rdquo;, tambah Ir. Batubara M.Si, sebelum ia menuju tempat tugas barunya sebagai Kepala Balai Besar KSDA Papua. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selamat Jalan Bapak Ir. Timbul Batubara, M.Si, semoga Bapak lebih sukses dalam menjalankan tugas di tempat yang baru. Selamat datang Bapak Ir. Agus Wahyudiyono, segenap keluarga besar Balai Besar TNBBS siap mendukung Bapak dalam mengemban tugas Konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 07 Oct 2017 09:44:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10590</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10589/Tertarik-Mengadopsi-SMART-Patrol-Pemerintah-Malaysia-Kirim-2-Wildlife-Rangers-Ke-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10589</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10589&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Tertarik Mengadopsi SMART Patrol,  Pemerintah Malaysia Kirim 2 Wildlife Rangers Ke TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10589/Tertarik-Mengadopsi-SMART-Patrol-Pemerintah-Malaysia-Kirim-2-Wildlife-Rangers-Ke-TNBBS.aspx</link> 
    <description>  Kotaagung, 10 Agustus 2017.  &amp;ldquo;Kita memiliki pengalaman yang panjang dalam mengelola kawasan konservasi, dan kita lebih baik, saatnya mereka (Negara lain red.) belajar mengelola kawasan konservasi dengan kita&amp;rdquo;. Hal ini disampaikan oleh Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc pada kegiatan Workshop Data dan Informasi tanggal 24 &amp;ndash; 27 Juli 2017 di Manggala Wana Bakti beberapa minggu lalu.   Hari Selasa tanggal 8 Agustus 2017, Balai Besar TNBBS mendapat kunjungan 2 Wildlife Rangers dari Pemerintah Malaysia (Department Of Wildlife And National Parks Peninsular Malaysia). Ini merupakan tindak lanjut dari Surat Direktur Institute of Biodiversity (IBD) Department Of Wildlife And National Parks (DWNP) Peninsular Malaysia yang ditujukan kepada Kepala Balai Besar TNBBS. IBD DWNP adalah Lembaga Negara Malaysia yang merupakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan untuk seluruh staff yang menangani Pengelolaan Kawasan Lindung, Penegakan Hukum, Konservasi eksitu dan insitu, Kebun Binatang, dll. Mereka menyampaikan ketertarikannya untuk mempelajari SMART Patrol yang diaplikasikan di dalam pengelolaan TNBBS. Selain itu, mereka juga akan melakukan studi banding (field trip) ke Pusat Penelitian Way Canguk TNBBS yang dikelola oleh Wildlife Conservation Society &amp;ndash; Indonesia Program (WCS &amp;ndash; IP). &amp;ldquo;Pelaksanaan SMART Patrol di tempat kami masih baru, TNBBS lebih advance, lebih lama. Kompilasi data yang komplit dari segi kawasan, cobaan dan masalah. Kami mau belajar, supaya kalau ada yang baik kami aplikasi di tempat Kami, kadang &amp;ndash; kadang kita merasa yang kita buat bagus, tetapi ada yang lebih bagus dari Kita, tidak salah kalau kita belajar dari orang yang lebih advance&amp;rdquo;, ujar Khairul Zamri, Wildlife Ranger dari Taman Negara Pahang. Short Training Programme At Bukit Barisan Selatan National Park dilaksanakan selama 10 hari, dari tanggal 6 s.d. 15 Agustus 2017. Peserta yang merupakan Ranger dari Taman Negara Pahang dan Taman Negara RAMSAR, Malaysia mendapatkan Kursus Peningkatan Keberkesanan Rondaan menggunakan sistem SMART di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dengan &amp;nbsp;Instruktur dari BBTNBBS dan WCS-IP yang telah mengikuti TOT SMART Pusdiklat KLHK.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 07 Oct 2017 09:42:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10589</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10588/Jalan-Negara-Di-Dalam-Kawasan-TNBBS-Longsor.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10588</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10588&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Jalan Negara Di Dalam Kawasan TNBBS Longsor</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10588/Jalan-Negara-Di-Dalam-Kawasan-TNBBS-Longsor.aspx</link> 
    <description>  Kotaagung, 22 Agustus 2017.  Dilaporkan telah terjadi longsor di ruas jalan Rataagung &amp;ndash; Manula di dalam kawasan TNBBS, mengakibatkan terputusnya akses jalan yang menghubungkan Provinsi Lampung dengan Provinsi Bengkulu. Hal ini disampaikan oleh Kepala SPTN III Krui Suhana, S.Sos, setelah meninjau lokasi kejadian. &amp;ldquo;Sekira jam 23.00 WIB 11 Agustus 2017, penyebab karena hujan lebat semalaman, maka terjadi longsor pada Hari Selasa tanggal 22 Agustus 2017. Saat ini masih dalam penanganan para pihak antara lain : TNBBS Pemda Kab. Pesisir Barat Lampung dan Pemda Kaur Bengkulu&amp;rdquo;, ujar Suhana. Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung, setelah menerima laporan mengatakan perlunya kajian khusus dalam pengelolaan jalan di kawasan TNBBS. &amp;ldquo;Dalam pengelolaan ruas jalan Rataagung &amp;ndash; Way Manula, Balai Besar TNBBS bekerjasama dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Palembang. Perlu dilakukan upaya restorasi habitat di sekitar sisi kiri dan kanan ruas jalan, untuk mencegah terjadinya erosi. Kejadian ini dapat membahayakan pengguna jalan, dan kita berupaya agar kepentingan publik dapat terpenuhi dengan tetap menjaga konservasi kawasan TNBBS&amp;rdquo;, kata Agus.   Pembangunan ruas jalan Rataagung &amp;ndash; Way Manula telah memiliki izin prinsip Menteri Kehutanan, yaitu Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 358/Kpts-II/1985 tanggal 26 November 1985, tentang Ijin Pembuatan Jalan Tembus Lampung Bengkulu Yang Melewati Kawasan Suaka Margasatwa / Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Propinsi Dati I Lampung. Akan tetapi, berdasarkan Surat Menteri Kehutanan Nomor S.10/Menhut-IV/2005 tentang peningkatan ruas jalan Pugung Tampak &amp;ndash; Batas Provinsi Bengkulu, agar peningkatan ruas jalan dengan meminimalkan dampak kerusakan hutan, dampak lingkungan dan tidak mengganggu pola aliran air. Pada pukul 17.00 WIB 22 Agustus 2017, dilaporkan bahwa ruas jalan Rataagung &amp;ndash; Way Manula telah dapat dilalui oleh para pengguna jalan.  (Gambar di samping kanan : Kemacetan di ruas jalan Rataagung &amp;ndash; Way Manula).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 07 Oct 2017 09:40:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10588</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10587/Landak-Ditemukan-Mati-Di-Ruas-Jalan-Negara-Sanggi--Bengkunat-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10587</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10587&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Landak Ditemukan Mati Di Ruas Jalan Negara Sanggi - Bengkunat TNBBS </title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10587/Landak-Ditemukan-Mati-Di-Ruas-Jalan-Negara-Sanggi--Bengkunat-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Kotaagung, 31 Agustus 2017.Sekira pukul 08.20 WIB tanggal 30 Agustus 2017, ditemukan&amp;nbsp; 1 ekor Landak (Hystrix brachiura) mati di ruas jalan negara Sanggi &amp;ndash; Bengkunat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, tepatnya di KM 50 atau lebih dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai Patok 50. Informasi ini disampaikan oleh Mitra Kerja Balai Besar TNBBS Unila &amp;ndash; Pili Nani, yang saat itu sedang melintas di ruas jalan tersebut. Diperkirakan Landak tersebut tertabrak oleh kendaraan yang melintas di malam hari, mengingat perilaku Landak diwaktu siang hari bersembunyi di lubang dan pada malam hari aktif mencari makan (nocturmal). &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal ini membuat para pihak kembali melihat dan mengkaji, agar pengelolaan ruas jalan negara yang ada di dalam kawasan TNBBS dapat ikut mendukung program konservasi kelestarian jenis TNBBS. Berdasarkan Surat Menteri Kehutanan Nomor S.10/Menhut-IV/2005 tentang Peningkatan Ruas Jalan Pugung Tampak &amp;ndash; Batas Provinsi Bengkulu dan Sanggi &amp;ndash; Bengkunat yang melalui TNBBS, Menteri Kehutanan menyatakan bahwa ruas jalan Sanggi &amp;ndash; Bengkunat merupakan lintasan satwa Harimau, Badak dan Gajah, maka kegiatan pengelolaannya perlu ikut menjaga kelestarian keanekaragaman hayati serta memasang papan peringatan lintasan satwa.  &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam pengelolaan ruas jalan negara di dalam kawasan konservasi TNBBS, Balai Besar TNBBS bekerja sama dengan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional V Palembang. Dalam perjanjian kerjasama ini, mencakup 3 ruas jalan, yaitu Jalan Sanggi &amp;ndash; Bengkunat sepanjang 11,5 KM; Jalan Liwa &amp;ndash; Krui sepanjang 15 KM; jalan Rataagung &amp;ndash; Way Manula sepanjang 14 KM.  &amp;ldquo;Kerjasama penyelenggaraan KSA dan KPA adalah kegiatan bersama para pihak yang dibangun atas kepentingan bersama untuk optimalisasi dan efektifitas pengelolaan kawasan, dalam hal ini adalah kawasan TNBBS. Perjanjian Kerjasama ini dapat meliputi penguatan fungsi KSA dan KPA, atau pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan. Kita menyadari pentingnya keberadaan jalan bagi masyarakat, tetapi pengelolaan jalan ini harus &amp;nbsp;turut &amp;nbsp;mendukung program &amp;ndash; program konservasi TNBBS&amp;rdquo;, &amp;nbsp;kata Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiono.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 07 Oct 2017 09:38:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10587</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10586/Mitigasi-Konflik-Gajah-Sumatera-dan-Manusia-Disekitar-Kawasan-TNBBS-TNBBS-WCS-Masyarakat.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10586</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10586&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia Disekitar Kawasan TNBBS (TNBBS; WCS; Masyarakat)  </title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10586/Mitigasi-Konflik-Gajah-Sumatera-dan-Manusia-Disekitar-Kawasan-TNBBS-TNBBS-WCS-Masyarakat.aspx</link> 
    <description>Kotaagung, 29 Agustus 2017. Balai Besar TNBBS bersama WCS &amp;ndash; IP dan Masyarakat Wonorejo melakukan penjagaan di sekitar batas kawasan TNBBS daerah Wonorejo Pekon Sukaraja Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus, untuk melakukan penghalauan Gajah liar yang hendak keluar dari kawasan TNBBS dan memasuki perkebunan masyarakat, Senin malam tanggal 28 Agustus 2017. Teridentifikasi 5 ekor gajah yang terdiri dari 3 ekor gajah dewasa dan 2 ekor gajah anakan, yang telah menimbulakan kerugian masyarakat berupa rusaknya tanaman perkebunan masyarakat dan 1 unit gardu. Sejak tanggal 25 Agustus 2017, kelompok Gajah liar dilaporkan telah keluar dari kawasan TNBBS oleh Tim Patroli SMART TNBBS bersama WCS &amp;ndash; IP. &amp;ldquo;Tanggal 27 Agustus 2017 kemarin, sekelompok Gajah liar yang diperkirakan berjumlah 7 ekor telah merusak 5 rumpun pohon pisang dan beberapa batang pohon Sengon dan Kopi milik masyarakat di sekitar tugu batas Margo Mulyo&amp;rdquo;. Jadi, upaya mitigasi konflik satwa liar Gajah ini telah telah kita laksanakan bersama masyarakat selama 3 hari, dengan melakukan penjagaan di dekat batas kawasan TNBBS&amp;rdquo;, ungkap Kepala Resort Sukaraja Atas Subki, S. Hut yang masih berada di lokasi mitigasi.      &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Di tempat terpisah di Kantor Balai Besar TNBBS, Kepala SPTN I Sukaraja Sasriful Hadi mengkonfirmasi kejadian konflik Gajah liar dan Manusia di Pekon Sukaraja dan Margo Mulyo. &amp;ldquo;Kita bersama masyarakat dan didukung Mitra Kerja TNBBS berupaya menghalau Gajah agar kembali ke dalam kawasan TNBBS, dalam upaya meminimalisir dampak kerugiannya. Sebelumnya juga telah terjadi konflik Gajah liar dan manusia di daerah sekitar kawasan Hutan Lindung Kotaagung Utara, dan gajah telah dihalau masuk ke dalam kawasan Hutan Lindung Kotaagung Utara. Bahkan Tim penghalauan yang dikomandoi oleh ERU Taman Nasional Way Kambas telah berhasil menghalau gajah masuk lebih dalam sampai pada kawasan TNBBS&amp;rdquo;, kata Sasriful.  Upaya penanggulangan konflik Gajah liar yang terjadi harus dilakukan bersama &amp;ndash; sama, dan melibatkan pihak Pemerintah Daerah setempat&amp;rdquo;, tambanhya.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Fri, 06 Oct 2017 22:57:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10586</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10585/15-Ekor-Kukang-Sumatera-Dilepas-Liarkan-Di-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10585</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10585&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>15 Ekor Kukang Sumatera Dilepas Liarkan Di TNBBS  </title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10585/15-Ekor-Kukang-Sumatera-Dilepas-Liarkan-Di-TNBBS.aspx</link> 
    <description>  Kotaagung, 23 Agustus 2017. Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono mengunjungi lokasi Translokasi Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) di Resort Pemerihan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Rabu 23 Agustus 2017. Saat kunjungannya, Agus mengatakan &amp;ldquo;Terdapat 15 individu Kukang Sumatera, terdiri dari 6 Kukang jantan dan 9 Kukang betina. Yayasan IAR Indonesia bersama TNBBS telah melakukan translokasi 15&amp;nbsp; individu Kukang Sumatra dari Bogor ke&amp;nbsp; TNBBS, 7 Agustus 2017 lalu. Alasan memilih lokasi untuk pelepas liaran ini dengan mempertimbangkan hasil survey Tim dari IAR bersama petugas TNBBS, dan menyatakan telah menemukan ke beradaan Kukang liar pada lokasi survey di dalam hutan TNBBS, serta tersedia nya pakan yg memadai di Resort Pemerihan ini&amp;rdquo;. Kukang (Nycticebus coucang) atau yang dikenal dengan nama lokal malu-malu merupakan primata nokturnal yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999. Kukang termasuk dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Ada tiga jenis kukang di Indonesia, Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) dan Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis). Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature) Redlist, Kukang Jawa termasuk dalam kategori kritis atau terancam punah sedangkan Kukang Sumatera dan Kalimantan termasuk dalam kategori rentan punah. Yayasan IAR Indonesia menyatakan bahwa Kukang terancam punah akibat kerusakan habitat, perburuan dan perdagangan untuk pemeliharaan. Perdagangan untuk pemeliharaan memegang peran besar dalam mendorong kepunahan Kukang. 30 % Kukang hasil perburuan mati dalam perjalanan saat menuju perdagangan. Kukang mati karena stress, dehidrasi atau terluka akibat transportasi yang buruk. Sesampainya di pedagang, Kukang kembali mengalami penderitaan yaitu pemotongan gigi taring. Pemotongan gigi tersebut kerap menyebabkan infeksi mulut yang berujung pada kematian karena Kukang kesulitan makan. Rata &amp;ndash; rata Kukang hanya akan berumur 6 bulan saja saat diperdagangan atau dipelihara.  Berdasarkan data yang dihimpun oleh Yayasan IAR Indonesia pada tahun 2015 terdapat sekitar 200-250 individu Kukang ditawarkan di tujuh pasar besar di empat kota besar Indonesia. Sementara dari hasil pemantauan online, pada tahun 2015 sebanyak 400 individu Kukang dipelihara oleh pemilik media sosial. Data tahun 2016 sebanyak 625 individu Kukang diperdagangkan oleh 50 grup jual beli hewan di media sosial facebook. Rata-rata harga pasaran Kukang dijual seharga 350-500 ribu rupiah. Sementara dari penelusuran online tim IAR terhadap akun pemelihara satwa liar di media instagram, sepanjang tahun 2015-2016 ditemukan sekitar 500 postingan negatif mengenai Kukang. Konten negatif tersebut berupa foto/video &amp;lsquo;pamer kukang peliharaan&amp;rsquo;, selfie bareng kukang dan penggunaan kata pets/peliharaan pada caption. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kepala Bidang Teknis TNBBS Ismanto, S.Hut.,M.Si saat mendampingi kunjungan lapangan Kepala Balai Besar TNBBS menambahkan, &amp;ldquo;Sebelum nya ke lima belas Kukang tersebut telah melakukan serangkaian pemulihan prilaku alami dan kesehatannya. untuk saat ini kukang - kukang tersebut berada di kandang habituasi di kawasan TNBBS di Resort Pemerihan, untuk lebih beradaptasi di rumah barunya selama dua sampai empat minggu. Setelah itu baru akan dilepaskan liarkan ke alam bebas secara bertahap. Dari ke lima belas Kukang tadi, ada empat individu yg dipasang Radio Collar, selanjutnya akan dilakukan pemantauan atau monitoring, kurang lebih selama tiga bulan per individu. Untuk waktu pemantauan di mulai jm 17:00&amp;nbsp; sampai jam 01:00 setiap malam nya&amp;rdquo;. &amp;nbsp;   Koordinator Pelepasliaran Kukang Sumatra Yayasan IAR Indonesia, Bobbi Muhidin mengatakan prosesi pelepasliaran kukang dilaksanakan oleh tim IAR serta staf TNBBS beserta relawan. Mereka mengangkut kandang transportasi berisi kukang dengan berjalan kaki masuk ke dalam hutan di kawasan TNBBS menuju area habituasi kukang. &amp;ldquo;Habituasi merupakan kawasan di dalam area TNBBS sebagai lokasi kukang untuk beradaptasi dengan habitat barunya hingga akhirnya benar-benar bisa dilepasliar, &amp;rdquo; ujar Muhidin. &amp;nbsp; Mari bersama &amp;ndash; sama menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia&amp;hellip;Kami Siap Kerja Bersama&amp;hellip; &amp;nbsp;(KEHUMASAN BBTNBBS, Agustus 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Fri, 06 Oct 2017 22:39:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10585</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10584/HABIS-GELAP-TERBITLAH-TERANG-AMING-DAN-CLEO-KEMBALI-KE-ALAM-BEBAS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10584</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10584&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>“HABIS GELAP TERBITLAH TERANG” AMING DAN CLEO KEMBALI KE ALAM BEBAS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10584/HABIS-GELAP-TERBITLAH-TERANG-AMING-DAN-CLEO-KEMBALI-KE-ALAM-BEBAS.aspx</link> 
    <description>&amp;nbsp;Sukaraja, 21 April 2017. Bertepatan dengan hari Kartini tanggal 21 April 2017, Balai Besar TNBBS bersama mitra kerja antara lain Balai KSDA Bengkulu Lampung; Direktorat KKH; Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK); RPU YABI TNBBS; WCS &amp;ndash; IP; WWF BBS; Unila Pili; serta Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus melaksanakan pelepas liaran 2 ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus). Pelepas liaran dilaksanakan di Resort Sukaraja atas SPTN I Sukaraja Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kedua ekor Elang Brontok (diberi nama Aming dan Cleo) diserahterimakan kepada Balai Besar TNBBS pada rangkaian kegiatan Kemah Konservasi Lampung 2017, dan disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ibu Siti Nurbaya Bakar tanggal 2 April 2017 lalu. Sebelum diserah terimakan, kedua satwa ini dibawah pengawasan Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK). &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bersamaan dengan kegiatan pelepasliaran satwa (Aming dan Cleo), diadakan sarasehan mengenai pelestarian satwa Elang, yang dikuti para mitra kerjasama dan masyarakat sekitar kawasan hutan TNBBS. Pusat Konservasi Elang Kamojang berfungsi sebagai pusat rehabilitasi bagi elang-elang hasil sitaan dan serahan masyarakat, sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya, PKEK juga berfungsi sebagai media pendidikan lingkungan hidup dan penyadartahuan kepada masyarakat mengenai nilai penting keberadaan elang dan habitatnya di Indonesia Pasca proses pelepasliaran, Aming dan Cleo akan terus dimonitoring secara intensif selama 2 minggu untuk menilai tingkat kemampuannya bertahan hidup, mencari pakan, terbang dan daya jelajah terbangnya. Proses monitoring dilakukan dengan menggunakan penanda yang dipasang ditubuh satwa berupa microchip dan wing marker kuning PKEK 18 (Aming) dan microchip dan wing marker kuning PKEK 17 (Cleo). Upaya menjaga dan melestarikan kekayakan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi diperlukan keterlibatan para pihak dari berbagai kalangan masyarakat.&amp;nbsp;  Semoga kegiatan yang telah dilakukan ini menjadi &amp;ldquo;Triger&amp;rdquo; bagi upaya konservasi elang dan habitatnya di sumatera sehingga dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kepedulian, komitmen untuk melindungi, memperbaiki serta memanfaatkan lingkungan hidup secara bijaksana, turut menciptakan pola perilaku baru yang bersahabat dengan lingkungan hidup, mengembangkan etika lingkungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.  &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Elang Brontok (Cleo), sesaat sebelum di lepasliarkan di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. (HUMAS BBTNBBS 2017). &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Statement : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Arief Rubianto Manajer Perlindungan YABI Wilayah Sumatera menyampaikan perlu dukungan dari masyarakat sekitar kawasan TNBBS, untuk lebih bijaksana dalam penggunaan lahan. Hal ini juga untuk mengurangi pendatang dari daerah lain yang meSmbuka lahan di dalam kawasan TNBBS, karena hal ini akan memicu kegiatan illegal lainnya, seperti perburuan, illegal logging, illegal fishing, dan pencurian burung. Elang Brontok semakin terancam kelestariannya di Sumatera, dan TNBBS merupakan habitat Elang Brontok. 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Noviar Andayani, Country Director WCS-IP mengatakan &amp;ldquo;Konflik manusia dan satwa liar semakin terbuka karena dampak proses pembangunan.&amp;nbsp; Oleh karena itu WCS-IP sejak 1997 telah mengembangkan program penanganan konflik untuk mengurangi kematian satwa liar terancam punah, khususnya harimau sumatera dan gajah sumatera.&amp;nbsp; Di sisi lain, perdagangan satwa liar terancam punah juga semakin marak. Salah satu program kunci dalam memerangi perdagangan satwa liar adalah program anti perdagangan hidupan liar (Wildlife Crime Unit), untuk mencegah diperdagangkannya hasil-hasil tindak kejahatan perdagangan satwa liar.&amp;nbsp; Melalui kolaborasi parapihak, diharapkan perdagangan liar satwaliar diharapkan juga dapat tertangani, dan pekerjaan menyelamatkan TNBBS semestinya menjadi semakin ringan dalam mencapai tujuan pengelolaan yang optimal. Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) merupakan salah satu satwa liar yang diperdagangkan dan terancam punah, padahal Elang Brontok berfungsi sebagai top karnivor pada suatu ekosistem dan sebagai penyeimbang populasi ekosistem hutan&amp;rdquo;. 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Job Charles Project Leader WWF Indonesia Southern Sumatra Program menambahkan &amp;ldquo;&quot;Pemerintah harus memperhatikan pengelolaan jalan dalam kawasan konservasi yamg membuat satwa terisolasi dan punah. Keberadaan jalan ini perlu menjadi perhatian bersama. Untuk itu WWF indonesia sejak tahun 2009 telah melakukan kajian dan studi dampak serta menginisiasi forum pengelolaan jalan dalam kawasan konservasi. Salah satu dampak lanjutan dengan adanya jalan yang melintasi kawasan TNBBS adalah dapat meningkatkan terjadinya perburuan illegal, seperti perburuan satwa Burung Elang Brontok ini&quot; 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KEPALA BALAI BESAR TNBBS : MASIH MENUNGGU WA,  &amp;nbsp; TERIMAKASIH MBAK&amp;nbsp; NUI J </description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Fri, 06 Oct 2017 22:06:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10584</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10565/Bupati-Lampung-Barat-TNBBS-Sebagai-Tujuan-Wisata-Unggulan-Lampung-Barat.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10565</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10565&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Bupati Lampung Barat : “TNBBS Sebagai Tujuan Wisata Unggulan Lampung Barat”</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10565/Bupati-Lampung-Barat-TNBBS-Sebagai-Tujuan-Wisata-Unggulan-Lampung-Barat.aspx</link> 
    <description>Suoh, 17 September 2017. Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat menyelenggarakan Festival Layang &amp;ndash; Layang dan Funbike, dalam rangka HUT Kabupaten Lampung Barat ke 26 tanggal 17 September 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Objek Wisata Alam Danau Lebar Suoh Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, secara administrasi berada di Pekon Suka Marga Kabupaten Lampung Barat. Funbike diikuti oleh 385 peserta, Bapak Bupati Lampung Barat Drs. H. Mukhlis Basri, MM ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.     Dalam sambutannya pada pelaksanaan &amp;nbsp;kegiatan ini, Bupati Lampung Barat Drs. H. Mukhlis Basri, MM menyampaikan bahwa Danau Suoh telah dijadikan sebagai daerah wisata di Lampung Barat, bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. &amp;ldquo;Saya minta kepada masyarakat dapat mendukung program wisata ini, karena apabila masyarakat tidak mendukung, walaupun bagaimana bagusnya program ini, dia tidak akan ada nilai yang didapat. Kita sama sama menjaga pohon agar tidak ditebang, menjaga kebersihan lingkungan, agar wisatawan dapat nyaman berkunjung kesini. Balai Besar TNBBS telah membuka obyek wisata Danau Lebar, pengunjung dapat menaiki perahu mengelilingi Danau Lebar. Objek wisata ini dipublikasikan melalui media massa Radar Group, masyarakat harus mendukung program wisata unggulan Lampung Barat Ini&amp;rdquo;, kata Mukhlis Basri. Kepala SPTN III Krui Suhana S.Sos mengatakan :&amp;rdquo;Pengembangan wisata alam Suoh berbasis masyarakat dilakukan bersama Forum Jasa Wisata Alam Jagad Endah Lestari, Pekon Suka Marga. Masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan objek wisata ini telah berkomitmen untuk ikut berperan aktif dalam menjaga kelestarian TNBBS. Apabila terjadi kebakaran di sekitar areal ini, mereka yang terdepan dalam penanggulangannya. Seperti yang kita ketahui bersama, di sini pernah terjadi kebakaran pada tanggal 9 Maret 2017 lalu, dan mengakibatkan &amp;plusmn; 1,5 Ha kawasan TNBBS terbakar. Pada kesempatan yang sama, anggota Resort Suoh Hengki Novimba, A.Md yang juga merupakan Petugas Pemungut PNBP di Resort Suoh menyampaikan : &amp;ldquo;Data pengunjung di Resort Suoh dari bulan ke bulan semakin meningkat. Pada Bulan Mei 2017 jumlah pengunjung adalah 45 orang dengan PNBP terkumpul Rp. 225.000,-. Bulan Juni 2017 jumlah pengunjung adalah 385 orang dengan PNBP senilai Rp. 1.887.500,-. Peningkatan secara signifikan terjadi pada Bulan Agustus dengan jumlah pengunjung 1002 orang dan PNBP mencapai Rp. 4.985.000,-. Dari trend data yang selalu meningkat, menunjukkan bahwa Objek Wisata Suoh khususnya Danau Lebar memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan&amp;rdquo;.  Meningkatkan jumlah pengunjung wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara merupakan salah satu target capaian kinerja Balai Besar TNBBS di tahun 2017. Dengan pengembangan wisata alam Danau Lebar Suoh ini, dapat menunjang tercapainya jumlah kunjungan wisatawan nusantara minimal 1.600 orang dan wisatawan mancanegara minimal 150 orang, yang merupakan target Balai Besar TNBBS di tahun 2017. Seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan domestic dan mancanegara, maka Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) melalui penjualan tiket masuk akan meningkat pula.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 04 Oct 2017 00:13:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10565</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10307/Penguatan-Kelompok-Masyarakat-dalam-Menekan-Laju-Perambahan-Di-Taman-Nasional-Bukit-Barisan-Selatan.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10307</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10307&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Penguatan Kelompok Masyarakat dalam Menekan Laju Perambahan  Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10307/Penguatan-Kelompok-Masyarakat-dalam-Menekan-Laju-Perambahan-Di-Taman-Nasional-Bukit-Barisan-Selatan.aspx</link> 
    <description>A.&amp;nbsp; Pendahuluan Resor Way Nipah memangku wilayah kerja seluas 17.985 hektare, merupakan satu dari tujuh belas resor di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dipimpin oleh dua personil polisi hutan, dibantu lima warga masyarakat sebagai mitra polhut. Terdapat enam desa penyangga yang wilayahnya berbatasan langsung dengan resor Way Nipah yaitu : Pesanguan, Teluk Brak, Way Nipah, Guring, Betung dan Tanjungan, dihuni 3.165 kepala keluarga atau 12.774 jiwa. Laporan identifikasi perambahan TNBBS tahun 2012, menyebutkan bahwa area seluas 2.172 hektare atau 12 persen dari wilayah kerja resor Way Nipah merupakan lahan garapan yang terjadi sejak 1975. Dalam kurun waktu 2004-2006 terdapat 748 kepala keluarga yang menggarap lahan di kawasan TNBBS resor Way Nipah.  Untuk menekan laju perambahan tersebut, berbagai upayapun dilakukan. Penegakan hukum melalui operasi penurunan perambah pada 2007. Pemulihan kawasan melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) bersama swasta dan TNI tahun 2010 dan 2012. Kegiatan pembinaan daerah penyangga melalui bantuan listrik mikrohidro 2013 dan air bersih 2014. Fakta dilapangan menunjukan bahwa penegakan hukum meninggalkan masalah sosial yang tak kunjung selesai. Program GNRHL lebih memposisikan masyarakat sebagai pekerja bukan sebagai mitra. Pemberian bantuan dalam rangka bina daerah penyanggapun tidak diikuti dengan pendampingan. Pengalaman ini mempengaruhi pola pikir masyarakat. Akibatnya rasa tanggungjawab terhadap keberhasilan dan keberlanjutan program agak rendah. Padahal dengan dilaksanakanya program tersebut diharapkan adanya perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat dalam mendukung pengelolaan taman nasional.  Pengalaman diatas menjadi pembelajaran bersama sebagai modal dalam mencari alternatif solusi atas penyelamatan kawasan dan memahami kebutuhan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya. Pemulihan ekosistem melalui program restorasi berbasis masyarakatpun mulai diinisiasi di resor Way Nipah. Masyarakat dijadikan sebagai mitra dan mendapat pendampingan secara intensif.  B.&amp;nbsp; Penguatan Kelompok Masyarakat Sebagai Alternatif Solusi Menjadikan masyarakat di sekitar taman nasional sebagai mitra sangatlah penting, mengingat jumlah personil yang terbatas. Menjalin komunikasi secara bijak dengan masyarakat. Berada dimasyarakat baik dalam rangka tugas atau kemasyarakatan diharapkan dapat memupuk modal sosial&amp;nbsp; untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pelestarian taman nasional. Pendamping yang membaur dengan kelompok masyarakatnya dan menjadi bagian dari kelompoknya sangatlah penting. Kondisi yang demikian dapat menumbuhkan komunikasi yang harmonis sesuai dinamika sosial yang terjadi. Pesan-pesan konservasipun akan tersampaikan secara efektif dimasyarakat sasaran.  Proses inilah yang sedang terus dipupuk di tengah warga masyarakat desa Pesanguan, Kecamatan Pematangsawa, Kabupaten Tanggamus. Diawali tanggal 8 Pebruari 2103 bertempat di Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Sukaraja melalui curah pendapat atas solusi perambahan di resor Way Nipah. Dihadiri kepala resor Way Nipah, PEH, Penyuluh dan Fasilitator Program dari Unila Pili serta diikuti 15 warga masyarakat Pesanguan. Dalam pertemuan disepakati bahwa program penanaman kembali pada lahan garapan di TNBBS akan melibatkan masyarakat desa Pesanguan.  Tanggal 15 Oktober 2013 terbentuklah Kelompok Peduli Hutan Pesanguan (KPHP) yang selanjutnya bersama Konsorsium Unila Pili melaksanakan kerjasama program restorasi berbasis masyarakat seluas 200 hektare di resor Way Nipah. Skema kerjasama restorasi berbasis masyarakat diharapkan memberikan solusi atas permasalahan sosial ekonomi masyarakat dan memulihkan hutan yang terganggu. Masyarakat dapat merasakan manfaat jasa lingkungan taman nasional dan memiliki akses kelola dari hasil hutan bukan kayu yang dihasilkan.  Sebagai kelompok yang baru dibentuk, KPHP masih perlu mendapat sentuhan. Pelibatan Penyuluh, PEH, Polhut serta Fasilitator Unila Pili sebagai petugas pendamping kegiatan mulai intensif dilakukan. Berbagi peran terus dilakukan sesuai tupoksi masing-masing. Namum tetap berpedoman pada surat keputusan tentang tim pendamping yang ditetapkan Kepala Balai Besar TNBBS. Penguatan kelembagaan dan kapasitas kelompok menjadi tugas penyuluh. PEH berperan terkait teknis tanam menanam dan Polhut dibidang pengamanan wilayah dan petugas Unila Pili sebagai fasilitator program.  C.&amp;nbsp; Kegiatan Kelompok Pelestari Hutan Pesanguan (KPHP) Sejak saat itu kegiatan pendampingan kepada KPHP terus dilakukan baik oleh petugas TNBBS maupun petugas pendamping dari Konsorsium Unila Pili dengan kegiatan antara lain : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pertemuan kelompok  Dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 1 malam. Forum ini sebagai media untuk berinteraksi, berbagi baik pengalaman, dan meningkatkan keterampilan berorganisasi anggota : merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan kelompok. Dalam pertemuan kelompok juga disampaikan materi tentang nilai dan prinsip dasar yang akan menjadi pedoman dan komitmen bersama dalam berkelompok. Hasil yang dicapai berupa rencana kerja kelompok, aturan kelompok, diketahuinya kendala dan kemajuan kegiatan kelompok serta laporan kegiatan tahunan. 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Asistensi pembukuan dan administrasi kegiatan kelompok Pengurus kelompok mendapatkan pendampingan pembukuan dan administrasi kelompok dengan&amp;nbsp; hasil kelengkapan dokumen organisasi seperti pengukuhan kelompok, anggaran dasar dan rumah tangga, buku KAS, buku tamu, buku notulen pertemuan.  3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelatihan ketrampilan teknis kelompok  Kelompokpun dibekali dengan berbagai ketrampilan baik bersumber dari angggaran taman nasional maupun dari anggran program TFCA seperti : a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelatihan restorasi : ini terkait teknis pelaksanaan restorasi mulai dari pengadaan bibit cabutan, perlakuan bibit cabutan, komposisi media semai, pengolahan media, pengisian polibag, pembibitan dan penyungkupan bibit semai cabutan dan perawatan bibit. b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelatihan ketrampilan budidaya ternak : bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota kelompok tentang praktek budidaya ternak kambing secara sehat dan berkelanjutan (kandang sehat, pencegahan dan penanganan penyakit sejak dini, serta pembuatan pakan alternatif melalui teknik fermentasi). Saat ini usaha ternak dipilih kelompok sebagai solusi usaha non lahan pengganti aktivitas lahan garapan yang dulu pernah dilakukan di dalam taman nasional.  c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelatihan ketrampilan pembuatan pupuk kompos : bertujuan memberikan ketrampilan kepada anggota dalam memanfaatkan limbah organik yang berasal dari hewan ternak, rumah tangga, sampah kebun menjadi pupuk organik untuk kebutuhan anggota.  d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelatihan ekowisata : masyarakat diberi bekal mengenai wawasan tentang produk jasa lingkungan yang dihasilkan taman nasional. Harapan untuk masa mendatang kelompok mempunyai destinasi wisata pendidikan melalui pembuatan demplot restorasi. Tindak lanjut pelatihan ini yaitu terbentuknya kelompok sadar wisata pesanguan yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olah Raga dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Tanggamus nomor : SK. 556/510/21/X/2016 tanggal 17 Oktober 2017. Kegiatan wisata di resor Way Nipah direncanakan pada wisata minat khusus untuk media pendidikan proses pembelajaran kegiatan pemulihan ekosistem kawasan hutan berbasis masyarakat yang pertamakali disosialisasikan kepada &amp;plusmn; 36 pelajar SMP satu atap desa Pesanguan. e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembinaan kader konservasi TNBBS : sejak 2014, perwakilan anggota KPHP secara aktif mengikuti pelatihan dan pembinaan sebagai kader konservasi TNBBS.  4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelaksanaan restorasi Saat ini kelompok telah menyelesaikan tahapan pekerjaan restorasi seluas 200 hektare : pengadaan bibit, persiapan lahan, penanaman, perawatan, dan penyulaman. Perubahan positif yang terlihat manakala kelompok menjadi mitra adalah tumbuhnya tanggungjawab dan partisipasi kelompok terhadap keberhasilan program. Perawatan/penyulaman dan monitoring tanam tumbuh tanaman restorasi dilakukan kelompok secara berkala. Bahkan kelompok membuat demplot restorasi seluas 1 hektar. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Usaha Produktif a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sub usaha pertanian alami : berbekal ketrampilan dan peralatan satu unit mesin pencacah kompos kelompok mulai memanfaatkan lahan pekarangan anggota sebagai demplot pertanian organik dengan jenis tanaman sayur mayur untuk memebuhi kebutuhan anggota dan lingkungan. b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sub usaha ternak : berupa usaha ternak kambing dengan modal kas kelompok hasil dari menyisihkan sebagian dana restorasi. Dimulai Agustus 2014, dengan modal awal sepuluh ekor indukan dan satu ekor pejantan dan telah berkembang menjadi dua puluh sembilan ekor. Selain itu kelompok juga mendapat tambahan lima ekor kambing indukan lagi untuk dikembangkan secara bergulir. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, beternak kambing merupakan pilihan yang tepat karena didukung dengan ketersediaan pakan yang cukup melimpah dan mudah didapat. Kambing menjadi sumber penghasilan pendukung bagi masyarakat, yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak di masyarakat. c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sub usaha pembibitan : dibuat untuk memenuhi kebutuhan penyulaman tanaman restorasi yang mati serta untuk kebutuhan penanaman pada acara seremonial tertentu. d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sub usaha kerajinan : dimulai Pebruari 2017 dengan peralatan sederhana : pisau, gergaji dan amplas menyulap batok kelapa menjadi kerajinan gantungan kunci aneka motif. Selain itu dibuat juga kerangka golok dan pisau dari kayu.  6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Event Organizer&amp;nbsp; &amp;rdquo; arisan 17 resor &amp;rdquo; Dalam rangka resor based management, sejak 2015 Balai Besar TNBBS setiap tahun mengadakan pertemuan tujuh belas resor. Tahun 2016 kelompok masyarakat KPHP bersama Unila Pili berkesempatan menjadi panitia sekaligus tuan rumah pelaksanaan kegiatan tersebut.  &amp;nbsp; D.&amp;nbsp; Capaian Kegiatan Pendampingan 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perubahan pola pikir dan perilaku anggota Awal program :  -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kelompok pesimis bahwa program penanaman melalui restorasi prakteknya akan sama dengan penanaman gerhan sebelumnya, tanggjungjawab keberhasilan kegiatan agak rendah. -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Persepsi kelompok nantinya hanya sebagai pekerja dan tidak terlibat secara penuh mulai perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aktivitas menggarap lahan di taman nasional masih dilakukan beberapa anggota kelompok. -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kepedulian kelompok terhadap ancaman konflik satwa liar masih dilakukan secara perorangan  &amp;nbsp;Saat ini :  -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kelompok optimis kegiatan restorasi dapat dilakukan lebih baik lagi, dan areal 200 hektare yang rusak secara perlahan dapat diperbaiki kembali. Hal yang mendukung : perawatan, penyulaman dan monitoring masih dilakukan kelompok secara swadaya. -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kelompok menjadi mitra pelaksana program yang terlibat secara aktif mulai perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Anggota kelompok tidak ada lagi yang menggarap lahan di taman nasional masih dilakukan beberapa anggota kelompok. -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Upaya penghalauan konflik satwa liar dilakukan secara terorganisir melalui kelompok satgas konflik satwa liar yang dibentuk.  -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Masyarakat secara aktif bergantian melakukan ronda dan penjagaan terhadap aset yang dimiliki (ternak dan tanaman budidiya kebun) ketika terjadi konflik satwa liar beruang madu maupun gajah sumatera.  2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meningkatnya partisipasi kelompok  Indikator capaian yaitu kegiatan dan pertemuan kelompok semakin aktif diikuti oleh anggota, kelompok secara swadaya turut membantu pembangunan podok jaga resor Way Nipah, upaya penyuluhan tentang konservasi terus disampaikan ke masyarakat lainnya, terlaksanya kegiatan pendidikan lingkungan dan pendidikan konservasi di sekolah. 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meningkatnya partisipasi lembaga masyarakat Indikator capaian yaitu adanya dukungan dari lembaga WCS-IP untuk mendampingi kelompok satgas konflik satwa liar dalam melakukan penghalauan konflik satwa liar yang sering terjadi di Pesanguan. 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meningkatnya partisipasi pemerintah desa Indikator capaian yaitu adanya dukungan anggaran desa untuk kegiatan kelompok dan kegiatan penghalauan konflik satwa.  5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meningkatnya jumlah anggota atau kelompok yang peduli terhadap pelestarian TNBBS  Indikator capaian yaitu terbentuknya beberapa kelompok aktif dimasyarakat seperti tiga kelompok satgas konflik satwa liar, satu kelompok satgas kebakaran hutan, satu kelompok pemanfaat air dan satu kelompok sadar wisata. 6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meningkatnya pendapatan anggota kelompok yang dibina/didampingi. Indikator capaian yaitu pendekatan pengembangan usaha ekonomi produktif yang dilakukan kelompok meliputi usaha ternak kambing, pertanian organik, kerajinan dan pembibitan tanaman kayu dan MPTS. 7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menurunnya jumlah masyarakat yang mempunyai interaksi negatif terhadap kawasan. Indikator : saat ini anggota kelompok tidak ada lagi yang melakukan aktivitas berkebun di dalam kawasan TNBBS, tidak ada pembukaan lahan garapan baru. Padahal pada awal program tahun 2013, di dalam areal seluas 200 ha yang direstorasi masih terdapat lahan garapan aktif sedikitnya seluas 10,25 hektere.  &amp;nbsp; E.&amp;nbsp; Penutup  Melalui kegiatan pendampingan yang telah dilaksanakan secara intensif dan berkelanjutan telah mendorong terjalinnya komunikasi yang baik antara petugas dan masyarakat di daerah penyangga TNBBS. Saat ini masyarakat desa Pesanguan semakin menyadari pentingnya kawasan TNBBS untuk dijaga dan dilestarikan bersama-sama. Bermula dari kiprah restorasi, KPHP menjadi garda depan dalam dalam membuka peluang untuk membangun desa Pesanguan tanpa melupakan nilai nilai konservasi. &amp;nbsp; Keterangan : penulis artikel, riyanto &amp;ndash; penyuluh TNBBS, bahan tulisan sebagian di ambil dari sumber buku berjudul &amp;ldquo; ARUS BALIK PESANGUAN &amp;ndash; RESTORASI HUTAN BUKIT BARISAN SELATAN &amp;ldquo;&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sun, 16 Jul 2017 23:47:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10307</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10255/PENYEGARAN-POLHUT-DAN-PPNS-BALAI-BESAR-TAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN-TAHUN-2017.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10255</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10255&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>PENYEGARAN POLHUT DAN PPNS BALAI BESAR TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN TAHUN 2017</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10255/PENYEGARAN-POLHUT-DAN-PPNS-BALAI-BESAR-TAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN-TAHUN-2017.aspx</link> 
    <description> Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) memiliki keanekaragaman jenis hayati (biodiversity) yang sangat tinggi baik flora maupun fauna dan keindahan alamnya. Berdasarkan nilai konservasi yang tinggi tersebut UNESCO menetapkan kawasan TNBBS, TN Kerinci Seblat dan TN Gunung Leuser menjadi Tapak Warisan Dunia (Cluster Natural World Heritage Site) dengan nama The Tropical Rainforest Heritage of Sumatera pada bulan Juli tahun 2004. Kekayaan hayati yang terdapat di dalam kawasan perlu dijaga kelestariannya dari berbagai ancaman yang ada. Polisi Kehutanan (Polhut) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sebagai salah satu unsur dalam pengelolaan kawasan TNBBS mempunyai peranan sangat penting dalam menunjang program kegiatan pelestarian alam dan lingkungan hidup terutama di bidang perlindungan dan pengamanan hutan serta penegakan hukum tindak pidana kehutanan (tipihut). Kegiatan pembinaan POLHUT dan PPNS dilaskanakan secara periodik untuk mengarahkan pencapaian profesionalisme POLHUT dan PPNS yang memerlukan pengetahuan administrasi dan teknis operasional. Maksud dan tujuan dari kegiatan Penyegaran Polhut dan PPNS, yaitu: 1.&amp;nbsp; Membina Polhut dan PPNS lingkup Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. 2.&amp;nbsp; Meningkatkan pengetahuan, wawasan dan kinerja Polhut dan PPNS dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi serta penegakan hukum di bidang kehutanan, khususnya Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kegiatan Penyegaran Polhut dan PPNS Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Tahun 2017 berlangsung selama 2 (dua) hari, yaitu pada tanggal 23-24 Mei 2017. Kegiatan ini diikuti oleh 44 (empat puluh empat) orang peserta yang berasal dari Balai Besar TNBBS, Balai TN Way Kambas, SKW III Lampung &amp;ndash; BKSDA Bengkulu, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, KPHL Kotaagung Utara, KPHL Batu Tegi, KPHL Pesawaran, dan KPHK Tahura Wan Abdul Rachman. Kegiatan Penyegaran Polhut dan PPNS Lingkup Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan dilaksanakan di lokasi Lembaga Konservasi, yaitu di Taman Wisata Lembah Hijau, Bandar Lampung. Kegiatan penyegaran Polhut dan PPNS pada Tahun 2017 menghadirkan beberapa narasumber yang merupakan jajaran Eselon II, yaitu Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE (Ir. Herry Subagiadi, M.Sc), Kepala Balai Besar TNBBS (Ir. Timbul Batubara, M.Si), sekaligus Tenaga Ahli Menteri Bidang Pengembangan Generasi Muda dan Pramuka (Pramu Risanto) dan Penasihat Senior Menteri LHK (Ir. Wahyudi Wardojo, M.Sc). Selain itu, kegiatan ini menghadirkan pula Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi (Ir. Erni Mayana, M.M.) yang memberikan bimbingan dalam hal manajemen pengelolaan pejabat fungsional Polisi Kehutanan.  &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Penyampaian materi oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE (kiri) dan Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi (kanan). &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  &amp;nbsp; Bapak Wahyudi Wardojo selaku Penasihat Senior Menteri LHK melakukan pembinaan kepada peserta (kiri). Pak Ipam, Tenaga Ahli Menteri LHK, sedang menyampaikan materi kepada peserta (kanan). &amp;nbsp; Materi yang disampaikan dalam kegiatan Penyegaran Polhut dan PPNS Tahun 2017 yaitu sebagai berikut : 1.&amp;nbsp; Kebijakan Pembangunan KSDAE di Indonesia yang disampaikan oleh Sekretaris Ditjen KSDAE 2.&amp;nbsp; Filosofi dan Implementasi Konservasi di Indonesia yang disampaikan oleh Penasihat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 3.&amp;nbsp; Upaya dan Strategi Menggerakkan Pemuda dalam Mendukung Konservasi yang disampaikan oleh Tenaga Ahli Menteri Bidang Pengembangan Generasi Muda dan Pramuka 4.&amp;nbsp; Manajemen Pejabat Fungsional Polhut dan PPNS yang disampaikan oleh Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi 5.&amp;nbsp; Implementasi Pembangunan KSDAE di TNBBS yang disampaikan oleh Kepala Balai Besar TNBBS 6.&amp;nbsp; Penanganan Barang Bukti Tindak Pidana LHK yang disampaikan oleh Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan 7.&amp;nbsp; Kesamaptaan 8.&amp;nbsp; Beladiri 9.&amp;nbsp; Olahraga  Penyampaian materi oleh Kepala Balai Besar TNBBS. &amp;nbsp; Praktik yang diterapkan dalam kegiatan Penyegaran Polhut dan PPNS yaitu olahraga, beladiri, dan kesamaptaan. Instruktur yang dihadirkan berasal dari Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling untuk mata ajaran kesamaptaan. Sedangkan pembinaan latihan beladiri dilakukan oleh instruktur yang berasal dari INKADO Provinsi Lampung.  &amp;nbsp; Pelaksanaan praktik kesamaptaan oleh instruktur dari SPN Kemiling (kiri). Praktik beladiri yang bermanfaat untuk mempertahankan diri dan kesehatan jasmani (kanan) &amp;nbsp; Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti acara dengan antusias, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh beberapa peserta dalam sesi tanya jawab dan diskusi. Pada saat pelaksanaan praktik pun para peserta sigap berbaris pada pagi dini hari mengikuti arahan instruktur dengan baik dan bersungguh-sungguh. &amp;nbsp;  &amp;nbsp; Foto bersama setelah penyampaian materi.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 11 Jul 2017 06:29:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10255</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10254/MENDUKUNG-PENGAMANAN-HUTAN-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10254</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10254&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>MENDUKUNG PENGAMANAN HUTAN TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10254/MENDUKUNG-PENGAMANAN-HUTAN-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Luasnya wilayah kawasan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS) dan tingginya interaksi masyarakat terhadap kawasan, menuntut intensitas pelaksanaan patrol kawasan TNBBS harus ditingkatkan.&amp;nbsp; Kegiatan patroli pengamanan dilakukan melalui perondaan dan identifikasi potensi dan permasalahan kawasan, penjagaan pada tempat-tempat tertentu, penyuluhan,&amp;nbsp; patroli mobil, dan patroli selektif.&amp;nbsp;  Patroli pengamanan dilakukan bertujuan untuk mengeliminir niat dan kesempatan masyarakat untuk melakukan tindakan pelanggaran tindak pidana kehutanan. Adapun mekanisme pelaksanaan kegiatan patroli dapat dilakukan secara bersama-sama antara petugas resort dengan MMP dan Mitra Kerja.&amp;nbsp;  Upaya perentive selain dengan patroli pengamanan juga dilakukan melalui penyadartahuan oleh petugas setempat (resort) kepada masyarakat sekitar kawasan dan pemasangan papan-papan larangan/peringatan. Kesamaan persepsi dan opini tentang kawasan konservasi, factor keterbatasan jumlah personil BBTNBBS dalam upaya penyadartahuan hukum dan perundangan kawasan konservasi kepada masyarakat dapat dilakukan oleh para penegak hukum lain.  &amp;nbsp; Upaya yang perlu diperhatikan dalam pengamanan hutan diantaranya: 1.&amp;nbsp; Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pengamanan Hutan  Secara normatif kelembagaan pengamanan hutan di Balai Besar TNBBS cukup kuat hal ini dapat diidentifikasi dari keberadaan Struktur Organisasi (Organisasi Balai Besar TNBBS, Bidang Pengelolaan TN Wilayah, Seksi Pengelolaan TN Wilayah, Resort Pengelolaan TN, dan Organisasi Satuan Polhut Balai Besar TNBBS), sarana prasarana disetiap organisasi, sumber daya manusia, anggaran, serta kerjasama dengan lembaga lain dalam bidang perlindungan dan pengamanan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Namun apabila ditelaah lebih lanjut, unsur-unsur kelembagaan harus lebih diperkuat khususnya pada bagian sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, dan peraturan/kebijakan tentang disiplin pegawai yang bertugas di lapangan.&amp;nbsp; Adapun jenis-jenis kegiatan yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kelembagaan antara lain:  a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penyusunan analisa jabatan kebutuhan pegawai TNBBS khususnya tenaga pengamanan hutan b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Usul Penambahan personil pengamanan hutan kepada Biro Kepegawaian c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelibatan anggota masyarakat sebagai Masyarakat Mitra Polhut sesuai kebutuhan d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemenuhan kebutuhan sarana parasarana pengamanan hutan di lapangan sesuai skala prioritas e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peningkatan kualitas SDM pengamanan hutan melalui apel siaga, penyegaran Polhut/PPNS, juga pelatihan Beladiri. f.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mendorong adanya peraturan/kebijakan tentang disiplin pegawai yang bertugas di lapangan g.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penguatan kelembagaan resort &amp;nbsp; 2.&amp;nbsp; Kegiatan Pendukung Pengamanan Hutan Kegiatan Pendukung Pengamanan Hutan merupakan kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan secara langsung dengan aktivitas&amp;nbsp; maupun kapasitas kelembagaan pengamanan hutan namun secara tidak langsung mempengaruhi upaya dan hasil pengamanan hutan. Upaya-upaya tersebut diantaranya: 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Percepatan penetapan status kawasan TNBBS dan penyelesaian konflik batas di beberapa lokasi  Penataan batas kawasan TNBBS sampai dengan tahun 2014 telah dilakukan secara utuh dan saat ini pihak yang berwenang (BPKH Wilayah XX) sedang menusulkan penetapan kawasan kepada Menteri Kehutanan.&amp;nbsp; Secara defakto kawasan TNBBS telah diketahui dan diakui para pihak pemangku kepentingan, namun secara dejure kawasan TNBBS belum ada penetapannya. Untuk meningkatkan kepastian hukum atas kawasan ini perlu dilakukan upaya peningkatan koordinasi dan mendorong pihak berwenang untuk segera menetapkan kawasan TNBBS. Adanya kepastian hukum atas kawasan sangat mempengaruhi kinerja pengelola kawasan yang dalam hal ini bidang perlindungan dan pengamanan hutan.Segala tindakan hukum yang diambil oleh pihak berwenang berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum unsur msyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. &amp;nbsp; 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menggali dan mengembangkan potensi wisata alam dan jasa lingkungan TNBBS  Meningkatnya tekanan kawasan akibat desakan social dan ekonomi karena kebutuhan hidup masyarakat secara langsung dan adanya pemekaran wilayah administrasi menuntut pihak pengelola kawasan untuk lebih secara intensif menggali dan mengembangkan potensi-potensi kawasan berupa jasa lingkungan dan wisata alam untuk dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Penggalian dan pengembangan kedua potensi ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan perekonomian daerah (masyarakat dan pemerintah daerah) dengan adanya investasi-investasi dari pihak swasta maupun berkembanganya wisata alam.&amp;nbsp; Adapun sub kegiatan yang diharapkan dapat mendukung kegiatan ini antara lain: a.&amp;nbsp; Identifikasi potensi jasa lingkungan dan wisata alam; b.&amp;nbsp; Promosi dan penyebaran informasi model pemanfaatan wisata alam dan jasa lingkungan kepada masyarakat luas dan khususnya pihak swasta terkait. c.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembangunan kapasitas kelembagaan wisata alam d.&amp;nbsp; Koordinasi dengan para pihak terkait (Pemerintah Pusat, Pemda, dan Swasta/lembaga-lembaga lainnya)  &amp;nbsp; 3.&amp;nbsp; Penyadartahuan masyarakat Penyadartahuan masyarakat&amp;nbsp; berperan mengubah paradigma atau pola pikir masyarakat tentang pentingnya kawasan konservasi sebagai tempat satwa hidup dan berkembang biak disamping sebagai penunjang kehidupan misalnya kebutuhan akan air bersih dan kayu sehingga berperan penting dalam pengamanan hutan.&amp;nbsp;  Hal yang perlu disampaikan dalam penyadartahuan adalah nilai penting kawasan TNBBS bagi kehidupan, peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti tentang kehutanan, KSDAHE, penegakan hokum dan lain-lain. Arti nilai penting TNBBS kiranya dapat dijelaskan mengenai peran satwa dalam pembentukan hutan sehingga hutan bisa ditumbuhi beragam jenis tumbuhan kayu dengan ukuran yang besar-besar, kita mengenal tiga satwa kunci diantaranya gajah, badak, dan harimau. Gajah dengan ukuran dan kelompok yang dimilikinya berperan sebagai pembuka ruang tumbuh pohon sehingga sinar ultra fiolet yang sangat berguna bagi tumbuhnya pohon bisa berpungsi dengan baik, berapa hektar hutan setiap hari, minggu, bulan yang satwa gajah jarangi, tidak hanya itu gajah atau badak setiap harinya makan 10 persen berat tubuhnya dan mengeluarkan 5 persen berat tubuhnya sebagai kotoran yang merupakan pupuk bagi pohon yang ada dihutan.&amp;nbsp; Satwa Badak juga tidak kalah pentingnya, diataranya sebagai satwa yang senang membuat kubangan dan berkubang selain menyuburkan hutan dengan menyediakan tampungan air juga lumpur yang menempel ditubuhnya akan membawa berbagai jenis pohon dan menyemai biji berbagai jenis pohon disamping dengan biji yang tumbuh dari kotoran badak yang berdasarkan reperensi yang ada bahwa badak memakan berbag jenis pohon berbuah termasuk pohon yang bergetah dalam hutan.&amp;nbsp; Harimau sebagai pemangsa tingkat satu berperan dalam pengendali satwa dibawahnya, dapat kita banyangkan bila tidak ada harimau, maka hutan akan dipenuhi babi hutan atau rusa dan satwa dibawahnya sehingga populasi yang tidak terkendali akan berakibat satwa itu menjadi perusak atau hama.  Berkaitan dengan pungsi kawasan hutan sebagai penunjang kehidupan yaitu air dan kayu hal ini tidak berarti hutan itu sebagai penghasil air bersih dan kayu saja, tetapi bagaimana air bersih dan kayu itu bisa dihasilkan.&amp;nbsp; Air bersih berasal dari hutan, kenapa bersih? Karena air tersebut tidak langsung keluar besar tapi dari air hujan yang diserap pohon menghasilkan mata air yang mengalir membentuk sungai kecil bersatu di daerah bawahnya dan akhirnya menjadi sungai besar sehingga walaupun sungai itu besar tapi airnya tetap jernih dan mempunyai manfaat yang banyak, disini adalah jelas bahwa ohon disamping sebagai penahan derasnya hujan yang bisa mengakibatkan erosi juga menyimpan air yang dikeluarkan berupa mata air. Penyadartahuan masyarakat yang dimaksud bisa diimplementasikan melalui berbagai kegiatan baik ditingkat pelajar atau masyarakat umum , diantaranya berupa : a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sosialisasi nilai pentingnya TNBBS bagi masyarakat sekitar dan keseimbangan ekosistem skala mikro makro. b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sosialisasi peraturan perundang-undangan kehutanan berkaitan dangan konservasi. c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sosialisasi pengggunaan bahan bangunan alternatif non kayu yang dilakukan bekerjasama dengan produsen bahan bangunan non kayu. d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengadaan dan pemasangan papan informasi dan peringatan/ larangan. &amp;nbsp; 4.&amp;nbsp; Pemberdayaan masyarakat Pemberdayaan masyarakat dalam hal ini diartikan sebagai pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi melalui kegiatan berbasis masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan sosial ekonomi masyarakat dan penyadartahuan akan fungsinya kawasan hutan sehingga masyarakat bisa dengan penuh kesadaran terlibat dalam pengamanan dan pelestarian ekosistem hutan.  Berbagai upaya dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar TNBBS yang bersifat mendidik dan membina masyarakat sehingga sosial ekonomi masyaraksat bisa meningkat, disamping itu masyarakat yang diberdayakan turut serta menjadi mitra TNBBS dalam penjagaan dan pelestarian kawasan TNBBS yang berada disekitar desanya. Upaya dan bentuk kegiatan pemberdayaan Masyarakat desa sekitar TNBBS&amp;nbsp; diantaranya sebagai berikut : a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembinaan daerah penyangga dan Model Desa Konservasi (MDK). b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembentukan dan pendampingan kelompok masyarakat mitra polhut. TNBBS. c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembentukan dan pembinaan kader konservasi, kelompok pedinta alam, dan generasi muda. d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pelatihan dan kunjungan kerja usaha ekonomim kreatif terhadap kelompok-kelompok masyarakat mitra TNBBS. e.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemberian bantuan modal usaha ekonomi kreatif dan berkelanjutan. &amp;nbsp; 5.&amp;nbsp; Tidak adanya pembangunan/penambahan jalan baru yang memotong kawasan TNBBS Berdasarkan data statistic tahun 2012, tercatat sebanyak 63 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNBBS dan ratusan desa berada disekitar TNBBS, belum termasuk pemukiman-pemukiman yang berada di dalam kawasan hutan lindung, hutan produksi, dan hutan produksi terbatas.Adanya desa-desa yang berbatasan langsung maupun disekitar TNBBS sangat mempengaruhi kuantitas keberadaan jalan di dalam kawasan TNBBS yang digunakan sebagai akses untuk hubungan social, budaya, dan kepentingan ekonomi. Saat ini disinyalir terdapat ratusan jalan yang ada di TNBBS yang sebagian besar berupa jalan tanah dan sebagian kecil jalan yang telah ditingkatkan baik yang berijin maupun tidak berijin. Kondisi ini sangat ironis dengan status kawasan TNBBS sebagai Taman Nasional dan sebagai Situs Warisan Alam Dunia (TRHS) yang merupakan kawasan konservasi untuk perlindungan system penyangga kehidupan, pengawetan sumber plasma nutfah, dan pemanfaatan terbatas yang harus mendapat perhatian khusus dan perlindungan intensif untuk kehidupan saat ini dan mendatang. Adanya jalan-jalan &amp;ldquo;umum&amp;rdquo; dalam kawasan hutan (TNBBS),secara ekologis menyebabkan fragmentasi habitat seiring dengan meningkatnya akses manusia untuk menggunakan jalan tersebut&amp;nbsp; dan meningkatkan niat dan kesempatan oknum masyarakat untuk melakukan tindak pidana kehutanan.&amp;nbsp;  Terkait hal tersebut perlu adanya upaya untuk menahan penambahan/pembangunan jalan baru melalui sub-sub kegiatan: a.&amp;nbsp; Identifikasi dan inventarisasi jalan masuk dan keluar kawasan TNBBS b.&amp;nbsp; Pemantauan penggunaan jalan masuk dan keluar kawasan TNBBS c.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penutupan jalan berdasarkan analisa dan kajian pemantauan penggunaan jalan d.&amp;nbsp; Koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah serta pihak-pihak terkait. &amp;nbsp; 6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembatasan volume kendaraan dan waktu perlintasan pada jalan-jalan yang telah mendapat ijin Menteri Kehutanan. Pembangunan diberbagai bidang telah berdampak pada semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan social dan ekonomi dan berpengaruh terhadap tingkat mobillitas masyarakat. Penggunaan jalan-jalan di dalam&amp;nbsp; kawasan TNBBS khususnya yang telah mendapat ijin Menteri Kehutanan telah mengalami peningkatan sangat siginifikan dibandingkan 10 tahun kebelakang. Tingginya penggunaan jalan &amp;ldquo;jalan nasional&amp;rdquo; di dalam kawasan TNBBS disinyalir cukup mempengaruhi perubahan kondisi habitat dan pola hidupan liar yang ada disekitarnya.Untuk mengurangi pengaruh buruk akibat adanya penggunaan jalan perlu adanya pembatasan volume kendaraan dan waktu perlintasan/penggunaan jalan-jalan tersebut. Adapun sub kegiatan yang mendukung kegiatan ini adalah: a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Analisa pengaruh pengggunaan jalan lintas yang memotong kawasan terhadap hidupan liar di sekitar jalan tersebut b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Koordinasi dan kerjasama dengan Dinas Perhubungan (Pemerintah Daerah/Kabupaten) &amp;nbsp; 7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penguatan Kapasitas SDM Pengamanan Hutan  Secara normatif kelembagaan pengamanan hutan di Balai Besar TNBBS cukup kuat hal ini dapat diidentifikasi dari keberadaan Struktur Organisasi (Organisasi Balai Besar TNBBS, Bidang Pengelolaan TN Wilayah, Seksi Pengelolaan TN Wilayah, Resort Pengelolaan TN, dan Organisasi Satuan Polhut Balai Besar TNBBS), sarana prasarana disetiap organisasi, sumber daya manusia, anggaran, serta kerjasama dengan lembaga lain dalam bidang perlindungan dan pengamanan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Namun apabila ditelaah lebih lanjut, unsur-unsur kelembagaan harus lebih diperkuat khususnya pada bagian sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, dan peraturan/kebijakan tentang disiplin pegawai yang bertugas di lapangan.&amp;nbsp; Adapun upaya yang dilakuakan Balai Besar TNBBS pada tahun 2017 ini adalah dengan Peningkatan kapasitas SDM pengamanan hutan melalui beladiri. Peningkatan kapasitas SDM pengamanan hutan melalui beladiri diharapkan bisa membantu meningkatkan disiplin pegawai negeri sipil selain yang telah berjalan beberapa waktu ini dengan menggunakan alat finger print cukup membuat pegawai negeri sipil disiplin terhadap waktu kerja.&amp;nbsp; Masuk mulai pukul 07.30 dan pulang pukul 16.00 WIB.&amp;nbsp; Penerapan disiplin waktu kerja berkaitan erat dengan tunjangan kinerja yang dibayarkan kepada setiap pegawai setiap bulan, apabila pegawai tersebut terlambat datang atau pulang lebih dulu maka secara tunjangan kinerja pegawai tersebut akan dikurangi sesuai jam kerja yang tercantum dalam finger print.&amp;nbsp; Akhirnya kita bisa berharap semua upaya dan usaha Balai Besar TNBBS untuk melestarikan satwa dan habitatnya di bumi nusantara bisa berjalan dengan baik dan lestarinya flora dan fauna langka yang merupakan situs warisan dunia &amp;nbsp;di TNBBS. Besar harapan bahwa Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan &amp;nbsp;ini bisa mempertahankan kekayaan sumberdaya hayati dan non hayati yang sampai saat ini begitu besar bagi masyarakat dunia untuk Oksigen yang dihasilkan, Air sebagai sumber kehidupan dan juga energy panas bumi serta wisaata, untuk konservasi khususnya kontribusi keanekaragaman jenis satwa dari Tarsius bancanus mamalia terkecil hingga gajah Sumater, dari macan akar hingga Harimau, dari burung madu kecil hingga burung Rangkong, serta tumbuhan dari mulai lumut hingga pohon besar, berbagai jenis anggrek, rotan, serta ratusan jenis pohon yang memperkaya keanekaragaman ekosistem hutan yang sangat lengkap memanjang dari Teluk Belimbing hingga Pulau Beringin dari hutan pantai hingga hutan hujan dataran Tinggi. Mari kita turut serta dalam menjaga kelestariannya hingga ujung usia dunia yang sudah tua. Salam konservasi. (mamanrpu@gmail.com)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 11 Jul 2017 00:46:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10254</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9993/Kemah-Konservasi-Lampung.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9993</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9993&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Kemah Konservasi Lampung </title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9993/Kemah-Konservasi-Lampung.aspx</link> 
    <description>Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017 dibuka oleh Kepala Balai Besar TNBBS &amp;nbsp;tanggal 31 Maret 2017, pukul 14.30 WIB. Pada saat membuka Kegiatan Kemah Konservasi, Ir. Timbul Batubara, M.Si menyampaikan bahwa Kemah Konservasi ini merupakan model yg baru pertama kali di Indonesia, karena akan dihadiri oleh Menteri LHK saat puncak acara kegiatan juga merupakan hasil kolaborasi yang unik antar stakeholder termasuk Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten khususnya dengan SUPM Kotaagung yg menjadi tempat acara. Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017 diselenggarakan di Sekolah Usaha Perikananan Menengah (SUPM) Kotaagung, dalam rangka memperingati Bakti Kehutanan ke 34 dan Hari Hutan Internasional. Peserta berjumlah 300 orang, terdiri dari 90 orang Kader Konservasi dan 210 orang Pramuka (Saka Wanabakti, Saka Bahari, Saka Kalpataru, dll). Materi akan diberikan pada peserta 25 jam, terdiri dari Leader Of Consevation (Ir. Timbul Batubara, M.Si); Kegiatan Bina Cinta Alam di TNBBS; Ekologi Sosial Dalam Penanggulangan Bencana; Dasar &amp;ndash; Dasar Umum Ekologi; Pemanfaatan Kawasan Konservasi Berbasis Wisata Oleh Masyarakat; dll. Dalam Kegiatan Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017, para peserta akan melakukan aksi nyata dalam kegiatan konservasi, seperti penanaman 6.000 bibit pohon (bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Gubernur Lampung); Pelpas liaran satwa Elang Brontok; Aksi Bersih Pantai.  &amp;ldquo;Diharapkan para peserta Kemah Konservasi akan menjadi Pejuang &amp;ndash; Pejuang Konservasi dan Pendekar &amp;ndash; Pendekar Lingkungan&amp;rdquo; kata Ir. Timbul Batubara, M.Si, disela acara Pembukaan Kemah Konservasi Lampung Tahun 2017, saat wawancara dengan TVRI, sesaat setelah menyampaikan materi pada Peserta mengenai Leader of Conservation. (HUMAS TNBBS 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 17 Apr 2017 02:48:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9993</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9992/YOUTH-LEADERSHIP-CAMP-FOR-CLIMATE-CHANGE-2017-50-Pemuda-Pilihan-Dilatih-Menjadi-Pejuang-Iklim-Taman-Nasional-Bukit-Barisan-Selatan-24-26-Februari-2017.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9992</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9992&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>YOUTH LEADERSHIP CAMP FOR CLIMATE CHANGE 2017 “50 Pemuda Pilihan Dilatih Menjadi Pejuang Iklim” Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (24 – 26 Februari 2017)</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9992/YOUTH-LEADERSHIP-CAMP-FOR-CLIMATE-CHANGE-2017-50-Pemuda-Pilihan-Dilatih-Menjadi-Pejuang-Iklim-Taman-Nasional-Bukit-Barisan-Selatan-24-26-Februari-2017.aspx</link> 
    <description>Perubahan iklim merupakan ancaman terbesar bagi kehidupan manusia, akan tetapi kesadaran akan dampak negatif perubahan iklim dalam berbagai aspek kehidupan manusia sangat terbatas. Hal ini terlihat dari gaya hidup masyarakat yang tidak ramah lingkungan, hanya berpikir pada tujuan jangka pendek dan mengesampingkan tujuan jangka panjang &amp;nbsp;yaitu menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam rangka mitigasi dampak perubahan iklim, dengan target kawula muda yang merupakan generasi penerus bangsa dan merupakan pihak yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.  Para pemuda diharapkan menjadi &amp;ldquo;agen&amp;rdquo; dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan pencegahan perubahan iklim. Mereka harus berada di garis depan dalam gerakan untuk memecahkan masalah perubahan iklim. Dengan pengetahuan yang komprehensif dan luas mengenai perubahan iklim, generasi muda dapat mengubah kebiasaan hidupnya dan mengurangi emisi karbon, yang merupakan pemicu utama terjadinya perubahan iklim. Kantor UNESCO Jakarta, UN CC:Learn (The One UN Climate Change Learning Partnership) melalui UNITAR (United Nations Institute for Training and Research), bekerjasama dengan The Climate Reality Project Indonesia (TCRPI) telah mengadakan &amp;ldquo;Youth Leadership Camp for Climate Change 2017&amp;rdquo; sebagai bagian dari pelaksanaan fase kedua UN CC:Learn proyek Strengthening Human Resources, Learning and Skills Development to Address Climate Change dengan dukungan dari Pemerintah Swiss dan mitra Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pelatihan ini &amp;nbsp;berlangsung selama 3 hari sejak hari Jumat hingga Minggu tanggal 24 &amp;ndash; 26 Februari 2017 di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Pelatihan dengan peserta 50 pemuda/i terpilih ini bertujuan untuk membekali peserta dengan informasi tentang perubahan iklim, gaya hidup yang harus dilakukan agar lebih rendah karbon, dan keterampilan komunikasi untuk mendukung aksi pengendalian perubahan iklim.  Setelah pelatihan, peserta akan dikukuhkan menjadi Pejuang Iklim dan diwajibkan untuk menerapkan aksi pengendalian perubahan iklim secara langsung di lingkungan sekitarnya. Peserta terbaik akan disponsori oleh UN CC:Learn untuk mengikuti &amp;ldquo;Tribal Climate Camp 2017&amp;rdquo; di Amerika Serikat pada tanggal 31 Juli-4 Agustus 2017 yang akan diikuti pemuda/i, kaum profesional pegiat perubahan iklim dan masyarakat adat dari Amerika Serikat dan Kanada.  Pada hari pertama pelaksanaan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 tanggal 24 Februari 2017, para peserta diberikan materi pembekalan dari berbagai nara sumber mengenai perubahan iklim, antara lain : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Prof. Shahbaz Khan, Director of UNESCO Regional Science Bureau for Asia and the Pacific menyatakan bahwa UNESCO mendukung pelibatan pemuda-pemudi dunia termasuk Indonesia untuk menjadi penggiat perubahan iklim, salah satunya dengan turut menjaga kelestarian alam dan meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar. &amp;ldquo;Indonesia sudah memiliki 11 Cagar Biosfer, 4 Warisan Alam Dunia, 2 Taman Bumi (Geopark) dan daftar ini dapat terus bertambah mengingat kekayaan ekosistem yang dimiliki Indonesia. Pemuda-pemudi Indonesia adalah generasi harapan kami untuk dapat meneruskan upaya pelestarian alam dan upaya adaptasi dalam mendukung Agenda 2030 guna mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG)&amp;ldquo; 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Amanda Katili Niode, Manager The Climate Reality Project Indonesia, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wadah bagi pemuda Indonesia untuk mendalami isu perubahan iklim sekaligus belajar bagaimana komunikasi pada masyarakat. &amp;ldquo;Pemuda Indonesia merupakan segmen penduduk yang sesuai sekali untuk menjadi pelopor di masyarakat. Mereka punya semangat membara untuk jadi agen perubahan dan punya kemampuan teknologi informasi yang relatif tinggi. Kita harus wadahi itu&amp;rdquo; 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Cristina Rekakavas, UN CC:Learn Secretariat, menyampaikan selamat kepada seluruh mahasiswa dan pemuda/i atas partisipasinya dalam acara ini. Acara ini berkontribusi terhadap pelaksanaan National Climate Change Learning Strategy of Indonesia, yang diluncurkan pemerintah Indonesia pada tahun 2013. &quot;Pembinaan pemuda/i merupakan investasi yang penting untuk dilakukan guna dapat mewujudkan masa depan yang berkelanjutan. Upaya tersebut diimplementasikan melalui UN CC:Learn Partnership yang mendukung penuh pemuda/i seluruh dunia untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengatasi perubahan iklim, menghadapi tantangan dan menjajagi kesempatan yang tersedia. Pemuda/i merupakan pemimpin, pengambil keputusan dan konsumen di hari esok. Jadi, mulailah dari sekarang dengan menularkan antusiasme kalian dan berpikir kreatif!&quot; 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Murni Titi Resdiana, Assistant to the President&amp;rsquo;s Special Envoy on Climate Change, menyampaikan materi tentang penghitungan &amp;ldquo;karbon yang dikeluarkan akibat aktifitas manusia sehari &amp;ndash; hari&amp;rdquo;. Hal ini untuk memperluas wawasan para peserta mengenai aktifitas &amp;ndash; aktifitas yang menyebabkan emisi karbon, sehingga dalam kehidupan berupaya menghindari aktifitas yang dapat meningkat emisi karbon. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lia Zakiah, Deputy to Assistant to President&amp;rsquo;s Special Envoy on Climate Change, menyampaikan materi tentang Cara Mengkomunikasikan Isu Perubahan Iklim,&amp;nbsp; pada masyarakat dan orang terdekat kita. Para peserta diharapkan dapat menjadi &amp;ldquo;agen perubahan&amp;rdquo; dalam upaya mitigasi perubahan iklim. 6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ray Nayoan, Yayasan Pelabuhan Mimpi, merupakan seorang praktisi pembuat film. Materi yang disampaikan adalah Cara Mengkampanyekan Isu Perubahan Iklim Melalui Film Pendek. Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta memiliki kemampuan menyampaikan isu perubahan iklim melalui film pendek, dengan dipandu oleh Narasumber. &amp;nbsp; Hari kedua pelaksanaan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 tanggal 25 Februari 2017, para peserta melakukan kunjungan lapangan ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Narasumber pada hari kedua ini antara lain : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Trita Katriana, National Project Officer for Water and Environment Science at Unesco Office Jakarta. Menyampaikan materi tentang UNESCO SITES&amp;nbsp; Sebagai Model Dalam Mitigasi Dan Adaptasi Perubahan Iklim. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah salah satu UNESCO SITES dan telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia &amp;ldquo;Tropical Rainforest Heritage of Sumatera&amp;rdquo; bersama Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Kerinci Seblat. 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ir. Timbul Batubara, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Menyampaikan materi mengenai Pengenalan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan pada para peserta. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Manager of The Climate Reality Project Indonesia (Amanda Katili Niode) dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Timbul Batubara) bersama para peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 &amp;nbsp;  &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kunjungan Lapangan Para Peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 &amp;nbsp; &amp;nbsp; Para peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 melakukan kunjungan lapangan ke Taman Nasioanl Bukit Barisan Selatan, untuk melihat destinasi wisata yang ada di TNBBS Resort Sukaraja Atas SPTN Wilayah I Sukaraja BPTN Wilayah I Semaka, antara lain Wisata Air Terjun Tugu Raflesia; Wisata Track Rhino Camp; Wisata Plot Pengamatan Tarsius Bancanicus. &amp;nbsp;  &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wisata Track Rhino Camp &amp;nbsp;  &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Wisata Air Terjun Tugu Raflesia &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Selain mengunjungi destinasi wisata yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Para peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan melakukan kegiatan pelepas liaran satwa, terdiri dari 2 ekor Kukang (Nycticebus coucang) dan 2 ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), berasal dari satwa sitaan BKSDA Bengkulu Lampung.   &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kegiatan kunjungan lapangan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 diakhiri dengan penanaman pohon jenis Cempaka (Magnolia champaca) di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Hari terakhir pelaksanaan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 tanggal 26 Februari 2017, peserta juga mendapatkan workshop tentang pembuatan film. Ray Nayoan, sineas muda Indonesia yang beberapa kali memproduksi film tentang perubahan iklim menyatakan bahwa perubahan iklim itu isu yang kompleks, sangat menantang untuk disampaikan melalui film. Ray yang menjadi salah satu trainer dalam camp tersebut menambahkan, &amp;ldquo;namun jika berhasil mengemas dengan baik, hasilnya adalah masyarakat jadi lebih mudah mencerna dan harapannya mereka mau mengubah gaya hidupnya menjadi lebih rendah karbon. (BBTNBBS, 2017)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 17 Apr 2017 02:37:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9992</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9991/HARI-BAKTI-RIMBAWAN-BALAI-BESAR-TNBBS-16-Maret-2017.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9991</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9991&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>HARI BAKTI RIMBAWAN BALAI BESAR TNBBS (16 Maret 2017)</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9991/HARI-BAKTI-RIMBAWAN-BALAI-BESAR-TNBBS-16-Maret-2017.aspx</link> 
    <description>(Kotaagung, 16 Maret 2017). Balai Besar TNBBS melaksanakan Apel Hari Bakti Rimbawan ke 34, bertempat di lapangan Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung. Peserta Apel Hari Bakti terdiri dari PNS dan PPNPN (Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri) lingkup Balai Besar TNBBS, Mitra Strategis Balai Besar TNBBS (WCS-IP, RPU YABI dan WWF BBS). Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Timbul Batubara M.Si bertindak selaku Pembina Apel, menyampaikan Pidato Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Pada Apel Rimbawan Peringatan Hari Bakti Rimbawan Tahun 2017, dengan tema &amp;ldquo;Dengan Semangat Kerja Nyata, Rimbawan Indonesia Bertekad Menjaga Kelestarian Hutan Untuk Meningkatkan Pembangunan Lingkungan Hidup Yang Berkelanjutan&amp;rdquo;.  Pada kegiatan apel ini, disampaikan penghargaan pada Resort Biha yang aktif dalam pelaporan kegiatan lapangan melalui WA Group RBM TNBBS. Kepala Balai Besar TNBBS pada kegiatan apel ini juga menyampaikan bantuan pada Pondok Pesanteren Al &amp;ndash; Hikmah Kotaagung, berupa material bangunan dan seperangkat alat Marawis.   &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Setelah pelaksanaan Apel Hari Bakti Rimbawan Balai Besar TNBBS, Kepala Balai Besar TNBBS melepas Tim Patroli Smart Patrol Balai Besar TNBBS.&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 17 Apr 2017 02:30:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9991</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9990/TANGGAMUS-EXPO-2017-WAHANA-PENYADARTAHUAN-KONSERVASI-PADA-USIA-DINI.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9990</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9990&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>TANGGAMUS EXPO 2017 “WAHANA PENYADARTAHUAN KONSERVASI PADA USIA DINI”</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9990/TANGGAMUS-EXPO-2017-WAHANA-PENYADARTAHUAN-KONSERVASI-PADA-USIA-DINI.aspx</link> 
    <description>Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mengikuti Tanggamus Expo 2017, tanggal 16 &amp;ndash; 19 Maret 2017. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus, dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Tanggamus yang ke- 20.   Balai Besar TNBBS bersama mitra kerja (RPU; Unila PILI; WCS; WWF) dalam Kegiatan Pameran Ini mengangkat tema &amp;ldquo;Ayo Ke TNBBS&amp;rdquo;, menampilkan daya tarik objek wisata alam TNBBS, dan mengkampanyekan program konservasi 3 satwa kunci, yaitu : Harimau Sumatera; Gajah Sumatera; Badak Sumatera.    Tanggamus Expo 2017 diadakan di Lapangan 17 Landbow Gisting, KabupatenTanggamus diikuti oleh instansi lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus, pelaku dunia usaha / bisnis, lembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan. Bupati Tanggamus Samsul Hadi mengatakan dalam sambutannya pada acara pembukaan Tanggamus Expo 2017, bahwa Tanggamus Expo merupakan wahana bagi instansi pemerintah untuk menyampaikan program &amp;ndash; program kerja serta capaiannya, dan bagi pelaku bisnis dan dunia usaha, momentum ini dapat dijadikan sebagai sarana pengenalan barang dan jasa yang dihasilkan, masyarakat Tanggamus merupakan pangsa pasar yang potensial. Sasriful Yadi Kepala SPTN I Sukaraja selaku ketua pelaksana kegiatan Tim Balai Besar TNBBS, menekankan bahwa selain mempromosikan ekowisata yang ada di TNBBS, pengenalan program konservasi pada anak &amp;ndash; anak merupakan hal yang penting, karena anak &amp;ndash; anak (generasi muda red.) merupakan penerus bangsa. &amp;ldquo;Untuk itulah pada stand TNBBS kita hadirkan patung gajah, replika Bunga Raflesia dan ada petugas penjaga stand yang memakai kostum Badak Sumatera. Hal ini sangat menarik minat anak &amp;ndash; anak, dan kita mudah menyampaikan program konservasi pada mereka&amp;rdquo; kata Sasriful disela &amp;ndash; sela pelaksanaan Tanggamus Expo.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;    Keseriusan Balai Besar TNBBS dalam upaya penyadartahuan program konservasi pada masyarakat khususnya anak &amp;ndash; anak, melalui even Tanggamus Expo 2017 ini berbuah manis. Stand Balai Besar TNBBS terpilih sebagai Stand Terbaik II, piala langsung diberikan oleh Bupati Tanggamus Samsul Hadi disaat penutupan even Tanggamus Expo 2017. &amp;ldquo;Ini semua berkat kerjasama tim dan para mitra yang telah sangat membantu, dan ini merupakan pemicu semangat kita untuk menjadi lebih baik lagi, demi keberhasilan program konservasi TNBBS&amp;rdquo; tambah Sasriful seraya tersenyum&amp;hellip; (HUMAS BALAI BESAR TNBBS, MARET 2017) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 17 Apr 2017 02:10:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9990</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9989/KEMAH-KONSERVASI-LAMPUNG-2017.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9989</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9989&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>KEMAH KONSERVASI LAMPUNG 2017</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9989/KEMAH-KONSERVASI-LAMPUNG-2017.aspx</link> 
    <description>  Rapat Finalisasi pembahasan Persiapan Kunjungan Kerja Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan digelar di Gedung Manggala Wanabakti, Kamis 23 Maret 2017. Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Timbul Batubara M.Si selaku Ketua Umum Tim Pelaksana Kemah Konservasi, berdasarkan SK Sekjen Kementerian LHK Nomor SK. 40/SETJEN/ROUM/KSA.2/3/2017 tanggal 21 Maret 2017, memaparkan persiapan yang telah dilakukan pada peserta rapat. Rapat dihadiri oleh unsur Protokoler; Biro Umum; Biro Humas; Dit. KKH, dan Panitia Pusat lainnya.   &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan direncanakan akan melakukan Kunjungan Kerja ke Balai Besar TNBBS pada tanggal 1-2 April 2017, dan menghadiri Kemah Konservasi Lampung 2017 yang diadakan di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Kotaagung Tanggamus. Kemah Konservasi dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan Ke-34 dan Hari Hutan Internasional Tahun 2017. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama antara Pemerintah Provinsi Lampung; Balai Besar TNBBS; GEF; Tiger Project UNDP; dan Mitra Kerja Strategis Balai Besar TNBBS.   &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kemah Konservasi mengangkat tema &amp;ldquo;Aksi Kemah Konservasi Untuk Penyadaran Masyarakat Terhadap Hutan Dan Konservasi&amp;rdquo;, akan diikuti oleh 300 peserta peserta, yang terdiri dari 90 Kader Konservasi dan 210 Pramuka dari berbagai Gugus (Saka Wanabakti, Saka Kalpataru, Saka Husada, Saka Bahari, dll). Para Peserta Kemah Konservasi pada hari ke -2 pelaksanaan, tanggal 2 April 2017 akan dikukuhkan sebagai Kader Konservasi Binaan Balai Besar TNBBS. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bersamaan dengan pelaksanaan Kemah Konservasi, direncanakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan memberikan 4 izin Pemanfaatan Air/Energi; 2 Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam; Pengakuan Kelompok Tani Pemanfaat HHBK Damar Mata Kucing. Selain itu, Launching Project &amp;ldquo;Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscape&amp;rdquo; di lanskap TNBBS. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai wujud kongkret upaya konservasi, akan dilaksanakan kegiatan Pelepasliaran Satwa Liar dan Penanaman Pohon Endemik, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan dalam Kemah Konservasi Lampung 2017.&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 17 Apr 2017 01:56:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9989</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9988/KONSERVASI-TNBBS-UNTUK-KESEJAHTERAAN-RAKYAT.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9988</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9988&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>KONSERVASI TNBBS UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9988/KONSERVASI-TNBBS-UNTUK-KESEJAHTERAAN-RAKYAT.aspx</link> 
    <description>(Krui, 17 Maret 2017) Keberadaan Kawasan Hutan Konservasi harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kabupaten Pesisir Barat, mengingat hampir separuh wilayah Kabupaten Pesisir Barat merupakan kawasan TNBBS. Hal ini disampaikan oleh Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal, disaat Kepala BPTN II Liwa Lukita Awang Nistyantara, S. Hut.,MSi atas nama Kepala Balai Besar TNBBS, berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Pesisir Barat dalam rangka pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Pemanfaat Getah Damar Mata Kucing pada zona tradisional TNBBS. Sampai saat ini, Balai Besar TNBBS menfasiltasi terbentuknya 3 Kelompok Tani Hutan (KTH) dengan keseluruhan jumlah anggota 41 orang, antara lain: KTH Damar Indah Jaya yang beranggotakan 10 orang dibentuk tanggal 14 Maret 2017 di Pekon Labuhan Mandi dan Pekon Gunung Kemala; KTH Damar Paseban beranggotakan 12 orang dibentuk tanggal 15 Maret 2017 di Pekon Penengahan; KTH Damar Mandapalu beranggotakan 19 orang dibentuk tanggal 16 Maret 2017 di Pekon Punggawa V Ulu. &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;ldquo;Dengan terbentuknya 3 KTH pemanfaat getah damar, merupakan langkah kongkret upaya TNBBS dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan TNBBS, dan dengan dukungan Bapak Bupati kami optimis bahwa Kabupaten Pesisir Barat akan mendukung penuh program &amp;ndash; program konservasi Balai Besar TNBBS&amp;rdquo;, ungkap Lukita Awang.  &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;    &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Zonasi TNBBS berdasarkan SK Dirjen PHKA No. SK. 80/IV-KKBHL/2014 tanggal 25 Maret 2014. Zona Pemanfaatan Tradisional (ZPT) TNBBS dengan luas total 2.433 Ha. Zona Pemanfaatan tradisional memberikan akses pada masyarakat dalam pemanfaatan kawasan hutan secara lestari (HUMAS BBTNBBS 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 17 Apr 2017 01:12:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9988</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9987/GERAK-CEPAT-PETUGAS-DALAM-PEMADAMAN-KEBAKARAN-DI-TN-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9987</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9987&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>GERAK CEPAT PETUGAS DALAM PEMADAMAN KEBAKARAN DI TN BUKIT BARISAN SELATAN</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9987/GERAK-CEPAT-PETUGAS-DALAM-PEMADAMAN-KEBAKARAN-DI-TN-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx</link> 
    <description>Terjadi kebakaran hutan di kawasan TNBBS Pada tanggal 09 Maret 2017 sekitar pukul 17.30 WIB berdasarkan informasi masyarakat. Kebakaran hutan di ini terjadi di &amp;nbsp;wilayah Resort Suoh sekitar danau asam Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh Kab. Lampung Barat pada koordinat X= 0419506 , Y=9420504.  Kepala&amp;nbsp; Seksi PTN Wilayah III Krui ,Petugas resort suoh , MMP, MPA bersama dengan masyarakat sebanyak 18 (delapan belas) orang menuju ke areal kebakaran dengan menggunakan alat Jet Shooter dan gepyok berusaha memadamkan api dan mencegah kebakaran meluas. Areal kebakaran yang dominan ilalang serta angin yang kencang membuat api mudah untuk menyebar dan menyulitkan petugas dalam upaya pemadaman. Api berhasil dipadamkan pada pukul 00.30 WIB  Pada tanggal 10 Maret 2017 petugas kembali ke areal kebakaran hutan untuk memastikan tidak terjadi kebakaran lagi dan melakukaan pengukuran areal yang terbakar serta melakukan penyelidikan mencari faktor yang mengakibatkan kebakaran. Sampai saat ini, pengukuran dan penyelidikan di areal bekas kebakaran masih dilakukan, sehingga kepastian luas areal yang terbakar belum dapat ditentukan. Penyebab kebakaran belum dapat dipastikan. Mengingat lokasi kebakaran tersebut adalah sumber panas bumi, maka diperkirakan penyebab kebakaran adalah faktor alam berupa letupan panas bumi dan cuaca panas di lokasi tersebut.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 17 Apr 2017 00:55:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9987</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9986/BENGKUNAT--BELIMBING-PRESS-RILIS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9986</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9986&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>BENGKUNAT - BELIMBING PRESS RILIS..</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9986/BENGKUNAT--BELIMBING-PRESS-RILIS.aspx</link> 
    <description>(Bengkunat Belimbing, 6 Maret 2017). Petugas Balai Besar TNBBS Resort Pemerihan bersama dengan Polsek Bengkunat dan didukung oleh RPU YABI TNBBS, mengamankan tersangka pelaku perdagangan tumbuhan dan satwa liar (TSL) yang dilindungi, di Pasar Senin Pekon Pagar Bukit Kecamatan Bengkunat Belimbing Kabupaten Pesisir Barat, pada hari Senin tanggal 6 Maret 2017 sekira jam 09.30 WIB. Barang Bukti yang berhasil disita bersama tersangka (warga Bengkulu) berupa : -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1 buah tengkorak kepala Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae); -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1 buah tengkorak kepala Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1 buah gigi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis); -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1 buah tengkorak kepala dan tulang rusuk Tapir (Tapirus indicus); -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1 buah tengkorak kepala Kijang (Muntiacus muntjak); -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1 buah tengkorak kepala Beruang (Helarctos malayanus); -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1 buah tengkorak kepala beserta tanduk dan 2 lembar kulit Kambing Hutan (Capricornis sumatraensis); -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3 buah tengkorak kepala Rangkong (Bucheros rhinoceros); -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5 kulit Buaya Muara (Crocodilus porosus). Barang bukti beserta tersangka diamankan di Polsek Bengkunat untuk diproses oleh Penyidik Polri. Kepala Resort Pemerihan Balai Besar TNBBS (Una Maulana) mengatakan bahwa tersangka telah menjadi target operasi (TO), dan telah dilakukan pengumpulan bahan dan keterangan sebelum dilakukan penangkapan. Tersangka atas nama M. Ramadhan Bin Ilyas merupakan pedagang obat &amp;ndash; obatan, dan bahan obat berasal dari rempah &amp;ndash; rempah yang direndam bersama tengkorak dan tulang satwa yang dilindungi, ujar Una yang merupakan Kepala Resort Pemerihan Balai Besar TNBBS. (Humas BBTNBBS, maret 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sun, 16 Apr 2017 23:23:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9986</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9985/AYO-KE-TNBBS-EKOWISATA-SEBAGAI-EKONOMI-ALTERNATIF-MASYARAKAT.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9985</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9985&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>AYO KE TNBBS… EKOWISATA SEBAGAI EKONOMI ALTERNATIF MASYARAKAT</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9985/AYO-KE-TNBBS-EKOWISATA-SEBAGAI-EKONOMI-ALTERNATIF-MASYARAKAT.aspx</link> 
    <description>  (Biha, 17 Maret 2017). Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan bersama mitra kerja Konsorsium UNILA PILI dan Pemerintah Daerah Pesisir Barat melaksanakan &amp;ldquo;Pelatihan Pengembangan Pusat Informasi Wisata Bagi Masyarakat Sekitar Kawasan TNBBS&amp;rdquo;, tanggal 16 &amp;ndash; 17 Maret 2017 di bertempat di Pekon Paku Negara, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat. Peserta pelatihan terdiri dari anggota masyarakat pengelola wisata Biha, salah satunya Koperasi Serba Usaha Pakor Makmur, yang direncanakan tanggal 2 April 2017, Ibu Siti Nurbaya (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) yang akan menyerahkan langsung Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam. &amp;ldquo;Pengembangan wisata alam di kawasan hutan oleh masyarakat sekitarnya, merupakan salah satu upaya dalam mendorong terwujudnya hutan lestari masyarakat sejahtera. Masyarakat mendapatkan penghasilan dari memanfaatkan kawasan hutan, namun di sisi lain masyarakat juga melakukan upaya untuk melestarikan hutan&amp;rdquo;, kata Ir. Timbul Batubara, M.Si Kepala Balai Besar TNBBS. &amp;ldquo;Dengan berkembangnya ekowisata di Biha, kami yakin masyarakat akan lebih aktif membantu kami menjaga kelestarian ekosistem TNBBS, khususnya di Resort Biha&amp;rdquo;, ungkap Zubaidi Kepala Resort Biha. Nani dari Konsorsium Unila PILI menambahkan bahwa pengembangan wisata alam dengan peran aktif masyarakat merupakan ekonomi alternative bagi masyarakat.   &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;   &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pelatihan Pengembangan Pusat Informasi Wisata Bagi Masyarakat Sekitar Kawasan TNBBS pada Pekon Pakunegara, Resort Biha SPTN II Bengkunat merupakan tindak lanjut dari &amp;ldquo;Test Tour&amp;rdquo; Peluncuran Wisata Biha oleh Bapak Kepala Balai Besar TNBBS dan Ibu Wakil Bupati Kabupaten Pesisir Barat beberapa waktu yang lalu. AYO KE TAMAN NASIONAL&amp;hellip;AYO KE TNBBS.. (HUMAS BBTNBBS, MARET 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sun, 16 Apr 2017 21:46:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9985</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9278/BADAK-SUMATERA-DI-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9278</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9278&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>BADAK SUMATERA DI TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9278/BADAK-SUMATERA-DI-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Berdasarkan Red Book Data IUCN, Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) termasuk dalam kategori critically endangered (kritis atau genting) dan termasuk dalam Appendix I CITES, artinya tidak boleh diperdagangkan.&nbsp; Keberadaan populasi Badak sumatera saat ini tinggal tersisa pada kawasan - kawasan konservasi dan salah satu habitat penting Badak sumatera di Indonesia adalah di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang memiliki luas kurang lebih 355.511 ha.  Peneliti Pusparini, W dan Wibisono,HT (2013) melalui pendekatan Patch occupancy dengan judul &ldquo;Landscape-level assessment of the distribution of the Sumatran rhinoceros in Bukit Barisan Selatan National Park, Sumate ra&rdquo; &nbsp;menyebutkan bahwa Badak sumatera menduduki 32 % kawasan TNBBS (SE = 0.09).&nbsp; Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa distribusi Badak sumatera di TNBBS terkonsentrasi di bagian tengah kawasan dan terpencil menjadi 3 kelompok yakni didaerah Sukaraja, Way Ngaras dan Kubu Perahu.&nbsp;  &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;             Gambar 2. Peta Sebaran Badak yang berada dalam Areal IPZ dari Survey Mitra TNBBS.        &nbsp;&nbsp; &nbsp;  &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; Penelitian menyebutkan bahwa perkiraan jumlah populasi Badak sumatera di TNBBS berdasarkan pendugaan dari temuan jejak maupun tanda-tanda keberadaan berkisar pada angka 60 &ndash; 70 individu (Rubianto and Suratman 2008; Talukdar et al. 2010) meskipun demikian hasil analisa menunjukkan bahwa populasi Badak sumatera di TNBBS mungkin &ldquo; belum sehat&rdquo; sebagaimana yang dipercaya selama ini (dengan jumlah populasi 60 &ndash; 70 individu).&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terlepas dari hasil analisa, populasi Badak sumatera di TNBBS dianggap mengalami perkembangbiakan yang baik mengingat data kematian maupun perburuan Badak sumatera tidak diketemukan sejak 12 tahun terakhir.&nbsp;&nbsp; Disamping itu, perkembangbiakan yang baik ditunjukan dari ditemukannya sekitar 6 (enam) ekor anak badak pada Tahun 2011,&nbsp; 3-4 ekor anak badak pada tahun 2012 dan sekitar 7 ekor anak badak pada tahun 2013 oleh Tim Survey / Patroli TNBBS dan YABI. Keberadaan badak sumatera di TNBBS mengalami ancaman akibat utamanya adalah perubahan fungsi kawasan TNBBS menjadi areal perkebunan (perambahan),&nbsp; Keberadaan jalan tembus, illegal logging dan masih ditemukannya tanda-tanda perburuan turut mengancam kelestarian badak sumatera di TNBBS.&nbsp; Berdasarkan hasil patroli POLHUT Balai Besar TNBBS dan mitra kerja RPU-YABI, pada tahun 2011, ditemukan jerat badak meskipun tidak aktif (jerat lama), 3 temuan kegiatan illegal logging. Namun pada tahun 2012, hasil patroli tidak menemukan adanya jerat badak. Penelitian Pusparini, W (2006) menyebutkan bahwa berdasarkan kamera penjebak terjadi perubahan keterdapatan badak sumatera di TNBBS berdasarkan ketinggian dari 200-300 m dpl di tahun 1999-2004 ke 300-400 m dpl pada tahun 2005.&nbsp; Adanya perubahan keterdapatan Badak sumatera di TNBBS dimungkinkan merupakan respon perilaku badak sumatera terhadap tingginya tekanan antropogenis.&nbsp; Tekanan antropogenis saat ini lebih dikarenakan kehadiran manusia di dalam kawasan.&nbsp;  Berdasarkan hasil pemasangan kamera trap untuk memantau aktivitas illegal di TNBBS, diketahui bahwa selama satu bulan paling tidak 1 &ndash; 3 kali manusia masuk dalam kawasan dengan jumlah manusia yang masuk sekitar 1 &ndash; 6 orang.&nbsp;  Dalam rangka menjaga kelestarian populasi Badak sumatera di TNBBS dari ancaman penurunan kualitas habitat maupun tekanan antropogenis maka sebagaimana hasil Sumatran Rhino Crisis Summit yang dilakukan pada April 2013 di Singapura akan dibangun suatu upaya yang serius menyelamatkan Badak sumatera melalui perlindungan secara penuh dengan skema Intensif Protection Zone (IPZ).&nbsp; Dalam rangka mendukung skema tersebut maka diperlukan langkah nyata berupa dukungan data yang lengkap maupun terus meningkatkan upaya-upaya perlindungan yang selama ini telah dilakukan melalui kegiatan Monitoring Data Intensif Protection Zone Badak Sumatera.&nbsp;  Perkembangan terkini untuk isu Badak sumatera bisa kita simak dari jalannya acara Diskusi Pakar Konservasi Badak sumatera&nbsp; di Hotel Aston Priority Kebagusan Jakarta Selatan pada tanggal 19 Agustus 2016 lalu yang dimediasi oleh Yayasan Kehati&rdquo; Tropical Forest Conservation Action For Sumatera&rdquo; (TFCA Sumatera) yang dihadiri para pemerhati dan konservasionis Badak sumatera dari Kementrian Lingkungan Hidup dan&nbsp; Kehutanan (KLHK), Akademisi dan TFCA Sumatera sendiri. Mereview apa yang dipaparkan Dr.drh. Muhammad Agil dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dilihat dari kondisi yang ada selama ini diantaranya : &middot;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Populasi badak Sumatra menurun drastis dari tahun 1984-2015, + 90% jumlah populasi badak Sumatra berkurang selama 40 th  &sect;&nbsp; Penyebaran badak Sumatra pada th 1984 terdapat di 5 kantong habitat badak Sumatra, saat ini tersisa tinggal di 3 kantong (KEL, TNBBS &amp; TNWK), populasi di 2 kantong (Kerinci Seblat dan Riau) telah punah antara 1993-2013 &sect;&nbsp; Jumlah individu Populasi di setiap kawasan habitat sangat kecil (2-10 ekor) dan terpisah tanpa adanya akses untuk transfer new blood (genetic exchange) antar sub populasi Menurut pendapat beliau harus ada revolusi dalam program konservasi badak Sumatra di Indonesia yang fokus pada capaian yang menjadi gol konservasi badak Sumatra adalah berhasilnya badak Sumatra menghasilkan anak-anak badak.  Proteksi, monitoring dan penyelamatan populasi dan habitat penting untuk konservasi badak Sumatra, namun  Program konservasi badak Sumatra dengan populasi kecil harus menggunakan assessment saintifik untuk: &sect;&nbsp;&nbsp; Menentukan jumlah populasi viable badak yang tepat  &sect;&nbsp;&nbsp; Menentukan status reproduksi dan kejadian patologi organ reproduksi  &sect;&nbsp;&nbsp; Menentukan indeks in-breeding dan variasi genetik (heterosis) dalam populasi  Masih menurut DR. Drh Muhammad Agil (IPB) Program Prioritas Konservasi Badak Sumatra diharapkan bias memenuhi criteria sebagai berikut :  1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Temukan badak dan lokasinya untuk penyelamatan  2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melakukan penangkapan badak di kantong habitat badak dengan populasi &lt; 15 ekor  3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melakukan evaluasi status reproduksi dan patologi organ reproduksi badak yang tertangkap 4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melakukan evaluasi genetik individu badak 5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun IPZ untuk konsolidasi populasi badak minimal 20-30 ekor viable individu (betina dewasa potensial reproduksi dan genetik beragam) 6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun IMZ untuk 15 ekor potensi reproduksi dan genetik beragam  7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) untuk badak yang patologis dan potensial reproduksi  8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aplikasi Advance Reproductive Technology  9.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Proteksi penuh spesies dan habitat di IPZ/IMZ/SRS  10.&nbsp;&nbsp; Diseases surveillance di daerah konservasi badak Sumatra                        Gambar 2. Pemaparan DR.Drh. Muhammad Agil dari IPB dalam Diskusi pakar Konservasi badak sumatera di Hotel Aston Priority Kebagusan Jakarta Selatan        &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;  Berkaca dari sejarah punahnya badak sumatera di Malaysia masalah populasi badak sumatera di Indonesia sekarang sama dengan kondisi di Malaysia pada 20 tahun yang lalu, sepaerti : &sect;&nbsp;&nbsp; Badak Sumatra punah di Malaysia baik di Peninsula awal tahun 2000-an dan Sabah (3 ekor tersisa di rhino Sanctuary di Tabin WR) 2014 &sect;&nbsp;&nbsp; Program konservasi utama adalah patroli, proteksi dan monitoring intensiv  &sect;&nbsp;&nbsp; Populasi terus menurun drastis sejak awal 1980 dan terbagi dibeberapa lokasi dengan populasi kecil  &sect;&nbsp;&nbsp; 200 kamera dipasang di Danum Valley pada tahun 2012, hanya 1 ekor tersisa yang ditangkap pada tahun 2014 &sect;&nbsp;&nbsp; Populasi badak Sumatra tersebar dalam populasi kecil &lt; 15 ekor/ kantong habitat badak  &sect;&nbsp;&nbsp; Individu badak ♂ dan ♀ sulit bertemu untuk kawin karena jumlah kecil dan tersebar  &sect;&nbsp;&nbsp; Potensi perkawinan sedarah tinggi  &sect;&nbsp;&nbsp; Jumlah kelahiran sangat rendah  &nbsp;  &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;                  Gambar 3.                          Gambar 4. Badak sumatera (Iman) terakhir yang ada di Danum Valley Malaysia 2014.        &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;  Menindaklanjuti diskusi pakar konservasi badak sumatera di Hotel Aston Priority Kebagusan Jakarta Selatan, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Ir. Timbul Batubara, M.Si&nbsp; yang juga turut hadir dalam acara Diskusi Pakar Konservasi Badak Sumatera tersebut mengumpulkan para mitra strategis Seperti YABI, WCS-IP, WWF-BBS, dan UNILA-PILI, membahas strategi dan langkah dalam menjawab tantangan keberlangsungan badak sumatera yang ada di TNBBS.  &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;             Gambar 5. Balai Besar TNBBS bersama mantra menyusun rencana aksi penyelamatan Badak sumatera di Ruang Rapat kantor Balai Besar TNBBS.        &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp;  Diskusi Balai Besar TNBBS bersama mitra menghasilkan beberapa resume diskusi diantaranya : 1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk mebuktikan bahwa populasi badak sumatera di TNBBS masih ada dan mendapatkan data populasi badak sumatera yang terbaru serta dapat dipertanggungjawabkan maka pada bulan Januari 2017 sampai dengan bulan Maret 2017 akan dilakukan survey populasi badak sumatera secara komprehensif dengan dipasilitasi oleh anggaran TFCA Sumatera. 2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berdasarkan hasil survey populasi badak sumatera periode Nopember 2015 &ndash; Juli 2016 diketahui bahwa metodologi Capture Mark Recapture (CMR) camera trap dinilai belum mendapatkN hasil yang maksimal untuk mengetahui populasi badak sumatera di Resort Balik Bukit dan Balai Kencana. 3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada bulan oktober &ndash; Desember 2016 akan dilakukan uji coba survey populasi badak dengan mempedomani buku panduan survey badak sumatera pada lokasi plot monitoring. 4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penentuan lokasi plot monitoring badak sumatera akan memperhatikan beberapa hal diantaranya data hasil survey occupancy tahun 2013, data hasil monitoring yang dilakukan oleh YABI tahun 2016, data hasil SMART Patroli Tahun 2016 serta tesis yang berjudul &ldquo;Prediksi Kehadiran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan analisis Struktur Landskap Habitatnya di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan&rdquo;. 5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Agar kegiatan survey populasi badak sumateralebih terencana sehingga mendapatkan hasil yang &ldquo;reliable&rdquo; maka perlu segera dibentuk tim kecil yang akan mendesain kegiatan survey, menentukan tim pelaksana survey, memfasilitasi pelaksanaan pelatihan bagi tim survey. 6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tim kecil akan dibentuk pada bulan September&nbsp; 2016 yang beranggotakan terdiri dari Balai Besar TNBBS, dan mitra kerja (YABI, WCS-IP, dan WWF-BBS), sementara anggaran untuk pelaksanaan survey bulan&nbsp; Oktober &ndash; Desember 2016 akan difasilitasi oleh mitra WWF-BBS.           &nbsp;&nbsp;  &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;  &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;  &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;             Gambar 6. Resume Diskusi Balai Besar TNBBS bersama Mitra Strategi tanggal 7 September 2016.        &nbsp;&nbsp; &nbsp;  Selalu ada harapan selama ada usaha, semoga apa yang menjadi tujuan konservasi badak sumatera seperti apa yang disampaikan Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr.Ir. Tachrir Pathoni, M.S.c bahwa 3 (tiga) tujuan konservasi Badak sumatera diharapkan bisa tercapai. yaitu: 1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Meningkatnya 30 % Badak sumatera di 3 (tiga) Site Badak sumatera yaitu Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuseur, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas. 2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengamankan habitat Badak sumatera untuk kelangsungan hidup yang merupakan ekosistem Badak sumatera diantaranya di Balai Besar Taman Nsional Gunung Leuseur, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Sebelat, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas dan Kalimantan. 3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sukses mengamankan Badak suamtera di Sumatran Rhino Sentuary /Suaka Rhino Sumatera yang akan ditambah luasnya dari 100 Hektar menjadi 128 ha. &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; mamanrpu@gmail.com &nbsp; SEKIAN TERIMAKASIH&nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Fri, 16 Sep 2016 03:33:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9278</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9279/BADAK-SUMATERA-DI-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9279</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9279&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>BADAK SUMATERA DI TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9279/BADAK-SUMATERA-DI-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Berdasarkan Red Book Data IUCN, Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) termasuk dalam kategori critically endangered (kritis atau genting) dan termasuk dalam Appendix I CITES, artinya tidak boleh diperdagangkan.&nbsp; Keberadaan populasi Badak sumatera saat ini tinggal tersisa pada kawasan - kawasan konservasi dan salah satu habitat penting Badak sumatera di Indonesia adalah di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang memiliki luas kurang lebih 355.511 ha.  Peneliti Pusparini, W dan Wibisono,HT (2013) melalui pendekatan Patch occupancy dengan judul &ldquo;Landscape-level assessment of the distribution of the Sumatran rhinoceros in Bukit Barisan Selatan National Park, Sumate ra&rdquo; &nbsp;menyebutkan bahwa Badak sumatera menduduki 32 % kawasan TNBBS (SE = 0.09).&nbsp; Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa distribusi Badak sumatera di TNBBS terkonsentrasi di bagian tengah kawasan dan terpencil menjadi 3 kelompok yakni didaerah Sukaraja, Way Ngaras dan Kubu Perahu.&nbsp;  &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;             Gambar 2. Peta Sebaran Badak yang berada dalam Areal IPZ dari Survey Mitra TNBBS.        &nbsp;&nbsp; &nbsp;  &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; Penelitian menyebutkan bahwa perkiraan jumlah populasi Badak sumatera di TNBBS berdasarkan pendugaan dari temuan jejak maupun tanda-tanda keberadaan berkisar pada angka 60 &ndash; 70 individu (Rubianto and Suratman 2008; Talukdar et al. 2010) meskipun demikian hasil analisa menunjukkan bahwa populasi Badak sumatera di TNBBS mungkin &ldquo; belum sehat&rdquo; sebagaimana yang dipercaya selama ini (dengan jumlah populasi 60 &ndash; 70 individu).&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terlepas dari hasil analisa, populasi Badak sumatera di TNBBS dianggap mengalami perkembangbiakan yang baik mengingat data kematian maupun perburuan Badak sumatera tidak diketemukan sejak 12 tahun terakhir.&nbsp;&nbsp; Disamping itu, perkembangbiakan yang baik ditunjukan dari ditemukannya sekitar 6 (enam) ekor anak badak pada Tahun 2011,&nbsp; 3-4 ekor anak badak pada tahun 2012 dan sekitar 7 ekor anak badak pada tahun 2013 oleh Tim Survey / Patroli TNBBS dan YABI. Keberadaan badak sumatera di TNBBS mengalami ancaman akibat utamanya adalah perubahan fungsi kawasan TNBBS menjadi areal perkebunan (perambahan),&nbsp; Keberadaan jalan tembus, illegal logging dan masih ditemukannya tanda-tanda perburuan turut mengancam kelestarian badak sumatera di TNBBS.&nbsp; Berdasarkan hasil patroli POLHUT Balai Besar TNBBS dan mitra kerja RPU-YABI, pada tahun 2011, ditemukan jerat badak meskipun tidak aktif (jerat lama), 3 temuan kegiatan illegal logging. Namun pada tahun 2012, hasil patroli tidak menemukan adanya jerat badak. Penelitian Pusparini, W (2006) menyebutkan bahwa berdasarkan kamera penjebak terjadi perubahan keterdapatan badak sumatera di TNBBS berdasarkan ketinggian dari 200-300 m dpl di tahun 1999-2004 ke 300-400 m dpl pada tahun 2005.&nbsp; Adanya perubahan keterdapatan Badak sumatera di TNBBS dimungkinkan merupakan respon perilaku badak sumatera terhadap tingginya tekanan antropogenis.&nbsp; Tekanan antropogenis saat ini lebih dikarenakan kehadiran manusia di dalam kawasan.&nbsp;  Berdasarkan hasil pemasangan kamera trap untuk memantau aktivitas illegal di TNBBS, diketahui bahwa selama satu bulan paling tidak 1 &ndash; 3 kali manusia masuk dalam kawasan dengan jumlah manusia yang masuk sekitar 1 &ndash; 6 orang.&nbsp;  Dalam rangka menjaga kelestarian populasi Badak sumatera di TNBBS dari ancaman penurunan kualitas habitat maupun tekanan antropogenis maka sebagaimana hasil Sumatran Rhino Crisis Summit yang dilakukan pada April 2013 di Singapura akan dibangun suatu upaya yang serius menyelamatkan Badak sumatera melalui perlindungan secara penuh dengan skema Intensif Protection Zone (IPZ).&nbsp; Dalam rangka mendukung skema tersebut maka diperlukan langkah nyata berupa dukungan data yang lengkap maupun terus meningkatkan upaya-upaya perlindungan yang selama ini telah dilakukan melalui kegiatan Monitoring Data Intensif Protection Zone Badak Sumatera.&nbsp;  Perkembangan terkini untuk isu Badak sumatera bisa kita simak dari jalannya acara Diskusi Pakar Konservasi Badak sumatera&nbsp; di Hotel Aston Priority Kebagusan Jakarta Selatan pada tanggal 19 Agustus 2016 lalu yang dimediasi oleh Yayasan Kehati&rdquo; Tropical Forest Conservation Action For Sumatera&rdquo; (TFCA Sumatera) yang dihadiri para pemerhati dan konservasionis Badak sumatera dari Kementrian Lingkungan Hidup dan&nbsp; Kehutanan (KLHK), Akademisi dan TFCA Sumatera sendiri. Mereview apa yang dipaparkan Dr.drh. Muhammad Agil dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dilihat dari kondisi yang ada selama ini diantaranya : &middot;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Populasi badak Sumatra menurun drastis dari tahun 1984-2015, + 90% jumlah populasi badak Sumatra berkurang selama 40 th  &sect;&nbsp; Penyebaran badak Sumatra pada th 1984 terdapat di 5 kantong habitat badak Sumatra, saat ini tersisa tinggal di 3 kantong (KEL, TNBBS &amp; TNWK), populasi di 2 kantong (Kerinci Seblat dan Riau) telah punah antara 1993-2013 &sect;&nbsp; Jumlah individu Populasi di setiap kawasan habitat sangat kecil (2-10 ekor) dan terpisah tanpa adanya akses untuk transfer new blood (genetic exchange) antar sub populasi Menurut pendapat beliau harus ada revolusi dalam program konservasi badak Sumatra di Indonesia yang fokus pada capaian yang menjadi gol konservasi badak Sumatra adalah berhasilnya badak Sumatra menghasilkan anak-anak badak.  Proteksi, monitoring dan penyelamatan populasi dan habitat penting untuk konservasi badak Sumatra, namun  Program konservasi badak Sumatra dengan populasi kecil harus menggunakan assessment saintifik untuk: &sect;&nbsp;&nbsp; Menentukan jumlah populasi viable badak yang tepat  &sect;&nbsp;&nbsp; Menentukan status reproduksi dan kejadian patologi organ reproduksi  &sect;&nbsp;&nbsp; Menentukan indeks in-breeding dan variasi genetik (heterosis) dalam populasi  Masih menurut DR. Drh Muhammad Agil (IPB) Program Prioritas Konservasi Badak Sumatra diharapkan bias memenuhi criteria sebagai berikut :  1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Temukan badak dan lokasinya untuk penyelamatan  2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melakukan penangkapan badak di kantong habitat badak dengan populasi &lt; 15 ekor  3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melakukan evaluasi status reproduksi dan patologi organ reproduksi badak yang tertangkap 4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melakukan evaluasi genetik individu badak 5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun IPZ untuk konsolidasi populasi badak minimal 20-30 ekor viable individu (betina dewasa potensial reproduksi dan genetik beragam) 6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun IMZ untuk 15 ekor potensi reproduksi dan genetik beragam  7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) untuk badak yang patologis dan potensial reproduksi  8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aplikasi Advance Reproductive Technology  9.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Proteksi penuh spesies dan habitat di IPZ/IMZ/SRS  10.&nbsp;&nbsp; Diseases surveillance di daerah konservasi badak Sumatra                        Gambar 2. Pemaparan DR.Drh. Muhammad Agil dari IPB dalam Diskusi pakar Konservasi badak sumatera di Hotel Aston Priority Kebagusan Jakarta Selatan        &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;  Berkaca dari sejarah punahnya badak sumatera di Malaysia masalah populasi badak sumatera di Indonesia sekarang sama dengan kondisi di Malaysia pada 20 tahun yang lalu, sepaerti : &sect;&nbsp;&nbsp; Badak Sumatra punah di Malaysia baik di Peninsula awal tahun 2000-an dan Sabah (3 ekor tersisa di rhino Sanctuary di Tabin WR) 2014 &sect;&nbsp;&nbsp; Program konservasi utama adalah patroli, proteksi dan monitoring intensiv  &sect;&nbsp;&nbsp; Populasi terus menurun drastis sejak awal 1980 dan terbagi dibeberapa lokasi dengan populasi kecil  &sect;&nbsp;&nbsp; 200 kamera dipasang di Danum Valley pada tahun 2012, hanya 1 ekor tersisa yang ditangkap pada tahun 2014 &sect;&nbsp;&nbsp; Populasi badak Sumatra tersebar dalam populasi kecil &lt; 15 ekor/ kantong habitat badak  &sect;&nbsp;&nbsp; Individu badak ♂ dan ♀ sulit bertemu untuk kawin karena jumlah kecil dan tersebar  &sect;&nbsp;&nbsp; Potensi perkawinan sedarah tinggi  &sect;&nbsp;&nbsp; Jumlah kelahiran sangat rendah  &nbsp;  &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;                  Gambar 3.                          Gambar 4. Badak sumatera (Iman) terakhir yang ada di Danum Valley Malaysia 2014.        &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;  Menindaklanjuti diskusi pakar konservasi badak sumatera di Hotel Aston Priority Kebagusan Jakarta Selatan, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Ir. Timbul Batubara, M.Si&nbsp; yang juga turut hadir dalam acara Diskusi Pakar Konservasi Badak Sumatera tersebut mengumpulkan para mitra strategis Seperti YABI, WCS-IP, WWF-BBS, dan UNILA-PILI, membahas strategi dan langkah dalam menjawab tantangan keberlangsungan badak sumatera yang ada di TNBBS.  &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;             Gambar 5. Balai Besar TNBBS bersama mantra menyusun rencana aksi penyelamatan Badak sumatera di Ruang Rapat kantor Balai Besar TNBBS.        &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp;  Diskusi Balai Besar TNBBS bersama mitra menghasilkan beberapa resume diskusi diantaranya : 1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk mebuktikan bahwa populasi badak sumatera di TNBBS masih ada dan mendapatkan data populasi badak sumatera yang terbaru serta dapat dipertanggungjawabkan maka pada bulan Januari 2017 sampai dengan bulan Maret 2017 akan dilakukan survey populasi badak sumatera secara komprehensif dengan dipasilitasi oleh anggaran TFCA Sumatera. 2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berdasarkan hasil survey populasi badak sumatera periode Nopember 2015 &ndash; Juli 2016 diketahui bahwa metodologi Capture Mark Recapture (CMR) camera trap dinilai belum mendapatkN hasil yang maksimal untuk mengetahui populasi badak sumatera di Resort Balik Bukit dan Balai Kencana. 3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada bulan oktober &ndash; Desember 2016 akan dilakukan uji coba survey populasi badak dengan mempedomani buku panduan survey badak sumatera pada lokasi plot monitoring. 4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penentuan lokasi plot monitoring badak sumatera akan memperhatikan beberapa hal diantaranya data hasil survey occupancy tahun 2013, data hasil monitoring yang dilakukan oleh YABI tahun 2016, data hasil SMART Patroli Tahun 2016 serta tesis yang berjudul &ldquo;Prediksi Kehadiran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan analisis Struktur Landskap Habitatnya di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan&rdquo;. 5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Agar kegiatan survey populasi badak sumateralebih terencana sehingga mendapatkan hasil yang &ldquo;reliable&rdquo; maka perlu segera dibentuk tim kecil yang akan mendesain kegiatan survey, menentukan tim pelaksana survey, memfasilitasi pelaksanaan pelatihan bagi tim survey. 6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tim kecil akan dibentuk pada bulan September&nbsp; 2016 yang beranggotakan terdiri dari Balai Besar TNBBS, dan mitra kerja (YABI, WCS-IP, dan WWF-BBS), sementara anggaran untuk pelaksanaan survey bulan&nbsp; Oktober &ndash; Desember 2016 akan difasilitasi oleh mitra WWF-BBS.           &nbsp;&nbsp;  &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;  &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;  &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;             Gambar 6. Resume Diskusi Balai Besar TNBBS bersama Mitra Strategi tanggal 7 September 2016.        &nbsp;&nbsp; &nbsp;  Selalu ada harapan selama ada usaha, semoga apa yang menjadi tujuan konservasi badak sumatera seperti apa yang disampaikan Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr.Ir. Tachrir Pathoni, M.S.c bahwa 3 (tiga) tujuan konservasi Badak sumatera diharapkan bisa tercapai. yaitu: 1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Meningkatnya 30 % Badak sumatera di 3 (tiga) Site Badak sumatera yaitu Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuseur, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas. 2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengamankan habitat Badak sumatera untuk kelangsungan hidup yang merupakan ekosistem Badak sumatera diantaranya di Balai Besar Taman Nsional Gunung Leuseur, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Sebelat, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas dan Kalimantan. 3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sukses mengamankan Badak suamtera di Sumatran Rhino Sentuary /Suaka Rhino Sumatera yang akan ditambah luasnya dari 100 Hektar menjadi 128 ha. &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; mamanrpu@gmail.com &nbsp; SEKIAN TERIMAKASIH&nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Fri, 16 Sep 2016 03:33:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9279</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9280/BADAK-SUMATERA-DI-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=9280</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=9280&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>BADAK SUMATERA DI TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/9280/BADAK-SUMATERA-DI-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Berdasarkan Red Book Data IUCN, Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) termasuk dalam kategori critically endangered (kritis atau genting) dan termasuk dalam Appendix I CITES, artinya tidak boleh diperdagangkan.&nbsp; Keberadaan populasi Badak sumatera saat ini tinggal tersisa pada kawasan - kawasan konservasi dan salah satu habitat penting Badak sumatera di Indonesia adalah di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang memiliki luas kurang lebih 355.511 ha.  Peneliti Pusparini, W dan Wibisono,HT (2013) melalui pendekatan Patch occupancy dengan judul &ldquo;Landscape-level assessment of the distribution of the Sumatran rhinoceros in Bukit Barisan Selatan National Park, Sumate ra&rdquo; &nbsp;menyebutkan bahwa Badak sumatera menduduki 32 % kawasan TNBBS (SE = 0.09).&nbsp; Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa distribusi Badak sumatera di TNBBS terkonsentrasi di bagian tengah kawasan dan terpencil menjadi 3 kelompok yakni didaerah Sukaraja, Way Ngaras dan Kubu Perahu.&nbsp;  &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;             Gambar 2. Peta Sebaran Badak yang berada dalam Areal IPZ dari Survey Mitra TNBBS.        &nbsp;&nbsp; &nbsp;  &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; Penelitian menyebutkan bahwa perkiraan jumlah populasi Badak sumatera di TNBBS berdasarkan pendugaan dari temuan jejak maupun tanda-tanda keberadaan berkisar pada angka 60 &ndash; 70 individu (Rubianto and Suratman 2008; Talukdar et al. 2010) meskipun demikian hasil analisa menunjukkan bahwa populasi Badak sumatera di TNBBS mungkin &ldquo; belum sehat&rdquo; sebagaimana yang dipercaya selama ini (dengan jumlah populasi 60 &ndash; 70 individu).&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terlepas dari hasil analisa, populasi Badak sumatera di TNBBS dianggap mengalami perkembangbiakan yang baik mengingat data kematian maupun perburuan Badak sumatera tidak diketemukan sejak 12 tahun terakhir.&nbsp;&nbsp; Disamping itu, perkembangbiakan yang baik ditunjukan dari ditemukannya sekitar 6 (enam) ekor anak badak pada Tahun 2011,&nbsp; 3-4 ekor anak badak pada tahun 2012 dan sekitar 7 ekor anak badak pada tahun 2013 oleh Tim Survey / Patroli TNBBS dan YABI. Keberadaan badak sumatera di TNBBS mengalami ancaman akibat utamanya adalah perubahan fungsi kawasan TNBBS menjadi areal perkebunan (perambahan),&nbsp; Keberadaan jalan tembus, illegal logging dan masih ditemukannya tanda-tanda perburuan turut mengancam kelestarian badak sumatera di TNBBS.&nbsp; Berdasarkan hasil patroli POLHUT Balai Besar TNBBS dan mitra kerja RPU-YABI, pada tahun 2011, ditemukan jerat badak meskipun tidak aktif (jerat lama), 3 temuan kegiatan illegal logging. Namun pada tahun 2012, hasil patroli tidak menemukan adanya jerat badak. Penelitian Pusparini, W (2006) menyebutkan bahwa berdasarkan kamera penjebak terjadi perubahan keterdapatan badak sumatera di TNBBS berdasarkan ketinggian dari 200-300 m dpl di tahun 1999-2004 ke 300-400 m dpl pada tahun 2005.&nbsp; Adanya perubahan keterdapatan Badak sumatera di TNBBS dimungkinkan merupakan respon perilaku badak sumatera terhadap tingginya tekanan antropogenis.&nbsp; Tekanan antropogenis saat ini lebih dikarenakan kehadiran manusia di dalam kawasan.&nbsp;  Berdasarkan hasil pemasangan kamera trap untuk memantau aktivitas illegal di TNBBS, diketahui bahwa selama satu bulan paling tidak 1 &ndash; 3 kali manusia masuk dalam kawasan dengan jumlah manusia yang masuk sekitar 1 &ndash; 6 orang.&nbsp;  Dalam rangka menjaga kelestarian populasi Badak sumatera di TNBBS dari ancaman penurunan kualitas habitat maupun tekanan antropogenis maka sebagaimana hasil Sumatran Rhino Crisis Summit yang dilakukan pada April 2013 di Singapura akan dibangun suatu upaya yang serius menyelamatkan Badak sumatera melalui perlindungan secara penuh dengan skema Intensif Protection Zone (IPZ).&nbsp; Dalam rangka mendukung skema tersebut maka diperlukan langkah nyata berupa dukungan data yang lengkap maupun terus meningkatkan upaya-upaya perlindungan yang selama ini telah dilakukan melalui kegiatan Monitoring Data Intensif Protection Zone Badak Sumatera.&nbsp;  Perkembangan terkini untuk isu Badak sumatera bisa kita simak dari jalannya acara Diskusi Pakar Konservasi Badak sumatera&nbsp; di Hotel Aston Priority Kebagusan Jakarta Selatan pada tanggal 19 Agustus 2016 lalu yang dimediasi oleh Yayasan Kehati&rdquo; Tropical Forest Conservation Action For Sumatera&rdquo; (TFCA Sumatera) yang dihadiri para pemerhati dan konservasionis Badak sumatera dari Kementrian Lingkungan Hidup dan&nbsp; Kehutanan (KLHK), Akademisi dan TFCA Sumatera sendiri. Mereview apa yang dipaparkan Dr.drh. Muhammad Agil dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dilihat dari kondisi yang ada selama ini diantaranya : &middot;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Populasi badak Sumatra menurun drastis dari tahun 1984-2015, + 90% jumlah populasi badak Sumatra berkurang selama 40 th  &sect;&nbsp; Penyebaran badak Sumatra pada th 1984 terdapat di 5 kantong habitat badak Sumatra, saat ini tersisa tinggal di 3 kantong (KEL, TNBBS &amp; TNWK), populasi di 2 kantong (Kerinci Seblat dan Riau) telah punah antara 1993-2013 &sect;&nbsp; Jumlah individu Populasi di setiap kawasan habitat sangat kecil (2-10 ekor) dan terpisah tanpa adanya akses untuk transfer new blood (genetic exchange) antar sub populasi Menurut pendapat beliau harus ada revolusi dalam program konservasi badak Sumatra di Indonesia yang fokus pada capaian yang menjadi gol konservasi badak Sumatra adalah berhasilnya badak Sumatra menghasilkan anak-anak badak.  Proteksi, monitoring dan penyelamatan populasi dan habitat penting untuk konservasi badak Sumatra, namun  Program konservasi badak Sumatra dengan populasi kecil harus menggunakan assessment saintifik untuk: &sect;&nbsp;&nbsp; Menentukan jumlah populasi viable badak yang tepat  &sect;&nbsp;&nbsp; Menentukan status reproduksi dan kejadian patologi organ reproduksi  &sect;&nbsp;&nbsp; Menentukan indeks in-breeding dan variasi genetik (heterosis) dalam populasi  Masih menurut DR. Drh Muhammad Agil (IPB) Program Prioritas Konservasi Badak Sumatra diharapkan bias memenuhi criteria sebagai berikut :  1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Temukan badak dan lokasinya untuk penyelamatan  2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melakukan penangkapan badak di kantong habitat badak dengan populasi &lt; 15 ekor  3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melakukan evaluasi status reproduksi dan patologi organ reproduksi badak yang tertangkap 4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melakukan evaluasi genetik individu badak 5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun IPZ untuk konsolidasi populasi badak minimal 20-30 ekor viable individu (betina dewasa potensial reproduksi dan genetik beragam) 6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun IMZ untuk 15 ekor potensi reproduksi dan genetik beragam  7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) untuk badak yang patologis dan potensial reproduksi  8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aplikasi Advance Reproductive Technology  9.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Proteksi penuh spesies dan habitat di IPZ/IMZ/SRS  10.&nbsp;&nbsp; Diseases surveillance di daerah konservasi badak Sumatra                        Gambar 2. Pemaparan DR.Drh. Muhammad Agil dari IPB dalam Diskusi pakar Konservasi badak sumatera di Hotel Aston Priority Kebagusan Jakarta Selatan        &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;  Berkaca dari sejarah punahnya badak sumatera di Malaysia masalah populasi badak sumatera di Indonesia sekarang sama dengan kondisi di Malaysia pada 20 tahun yang lalu, sepaerti : &sect;&nbsp;&nbsp; Badak Sumatra punah di Malaysia baik di Peninsula awal tahun 2000-an dan Sabah (3 ekor tersisa di rhino Sanctuary di Tabin WR) 2014 &sect;&nbsp;&nbsp; Program konservasi utama adalah patroli, proteksi dan monitoring intensiv  &sect;&nbsp;&nbsp; Populasi terus menurun drastis sejak awal 1980 dan terbagi dibeberapa lokasi dengan populasi kecil  &sect;&nbsp;&nbsp; 200 kamera dipasang di Danum Valley pada tahun 2012, hanya 1 ekor tersisa yang ditangkap pada tahun 2014 &sect;&nbsp;&nbsp; Populasi badak Sumatra tersebar dalam populasi kecil &lt; 15 ekor/ kantong habitat badak  &sect;&nbsp;&nbsp; Individu badak ♂ dan ♀ sulit bertemu untuk kawin karena jumlah kecil dan tersebar  &sect;&nbsp;&nbsp; Potensi perkawinan sedarah tinggi  &sect;&nbsp;&nbsp; Jumlah kelahiran sangat rendah  &nbsp;  &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;                  Gambar 3.                          Gambar 4. Badak sumatera (Iman) terakhir yang ada di Danum Valley Malaysia 2014.        &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;  Menindaklanjuti diskusi pakar konservasi badak sumatera di Hotel Aston Priority Kebagusan Jakarta Selatan, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Ir. Timbul Batubara, M.Si&nbsp; yang juga turut hadir dalam acara Diskusi Pakar Konservasi Badak Sumatera tersebut mengumpulkan para mitra strategis Seperti YABI, WCS-IP, WWF-BBS, dan UNILA-PILI, membahas strategi dan langkah dalam menjawab tantangan keberlangsungan badak sumatera yang ada di TNBBS.  &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;             Gambar 5. Balai Besar TNBBS bersama mantra menyusun rencana aksi penyelamatan Badak sumatera di Ruang Rapat kantor Balai Besar TNBBS.        &nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp;  Diskusi Balai Besar TNBBS bersama mitra menghasilkan beberapa resume diskusi diantaranya : 1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk mebuktikan bahwa populasi badak sumatera di TNBBS masih ada dan mendapatkan data populasi badak sumatera yang terbaru serta dapat dipertanggungjawabkan maka pada bulan Januari 2017 sampai dengan bulan Maret 2017 akan dilakukan survey populasi badak sumatera secara komprehensif dengan dipasilitasi oleh anggaran TFCA Sumatera. 2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berdasarkan hasil survey populasi badak sumatera periode Nopember 2015 &ndash; Juli 2016 diketahui bahwa metodologi Capture Mark Recapture (CMR) camera trap dinilai belum mendapatkN hasil yang maksimal untuk mengetahui populasi badak sumatera di Resort Balik Bukit dan Balai Kencana. 3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada bulan oktober &ndash; Desember 2016 akan dilakukan uji coba survey populasi badak dengan mempedomani buku panduan survey badak sumatera pada lokasi plot monitoring. 4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penentuan lokasi plot monitoring badak sumatera akan memperhatikan beberapa hal diantaranya data hasil survey occupancy tahun 2013, data hasil monitoring yang dilakukan oleh YABI tahun 2016, data hasil SMART Patroli Tahun 2016 serta tesis yang berjudul &ldquo;Prediksi Kehadiran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan analisis Struktur Landskap Habitatnya di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan&rdquo;. 5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Agar kegiatan survey populasi badak sumateralebih terencana sehingga mendapatkan hasil yang &ldquo;reliable&rdquo; maka perlu segera dibentuk tim kecil yang akan mendesain kegiatan survey, menentukan tim pelaksana survey, memfasilitasi pelaksanaan pelatihan bagi tim survey. 6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tim kecil akan dibentuk pada bulan September&nbsp; 2016 yang beranggotakan terdiri dari Balai Besar TNBBS, dan mitra kerja (YABI, WCS-IP, dan WWF-BBS), sementara anggaran untuk pelaksanaan survey bulan&nbsp; Oktober &ndash; Desember 2016 akan difasilitasi oleh mitra WWF-BBS.           &nbsp;&nbsp;  &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;  &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;  &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;             Gambar 6. Resume Diskusi Balai Besar TNBBS bersama Mitra Strategi tanggal 7 September 2016.        &nbsp;&nbsp; &nbsp;  Selalu ada harapan selama ada usaha, semoga apa yang menjadi tujuan konservasi badak sumatera seperti apa yang disampaikan Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr.Ir. Tachrir Pathoni, M.S.c bahwa 3 (tiga) tujuan konservasi Badak sumatera diharapkan bisa tercapai. yaitu: 1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Meningkatnya 30 % Badak sumatera di 3 (tiga) Site Badak sumatera yaitu Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuseur, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas. 2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengamankan habitat Badak sumatera untuk kelangsungan hidup yang merupakan ekosistem Badak sumatera diantaranya di Balai Besar Taman Nsional Gunung Leuseur, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Sebelat, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas dan Kalimantan. 3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sukses mengamankan Badak suamtera di Sumatran Rhino Sentuary /Suaka Rhino Sumatera yang akan ditambah luasnya dari 100 Hektar menjadi 128 ha. &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; mamanrpu@gmail.com &nbsp; SEKIAN TERIMAKASIH&nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Fri, 16 Sep 2016 03:33:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:9280</guid> 
    
</item>

    </channel>
</rss>